Dulu, nama-nama seperti Eddy Tansil dan Gayus Tambunan begitu melekat di ingatan masyarakat sebagai pelaku korupsi. Sekarang, nama-nama tersebut mulai ‘hilang’ dari ingatan, dan tergantikan oleh pelaku korupsi baru yang tak kalah mencuri perhatian.
Perbuatan para koruptor ini tentu memicu kemarahan masyarakat. Bagaimana tidak? Tak terhitung berapa miliar, bahkan triliun, rupiah uang negara yang telah dikorupsi, dan berapa banyak orang yang dirugikan.
Mungkinkah mereka terpaksa melakukan korupsi demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka?
Pertanyaan ini mungkin muncul jika kita ingin memberi sedikit ruang ‘toleransi’ bagi mereka.
Namun, kenyataannya, pelaku korupsi sering kali adalah orang-orang berpenampilan rapi dengan jabatan tinggi. Gaya hidup mereka mewah, dengan apartemen di berbagai kota dan garasi penuh mobil-mobil merek ternama keluaran terbaru
Seorang petinggi di sebuah bank BUMN pernah berkata, “Jangan terkecoh oleh jabatan seseorang. Banyak petinggi di tempat saya bekerja tampak memiliki mobil bagus dan rumah mewah, padahal mereka memiliki banyak utang untuk membayar kredit dan tunggakan!”
Jika mereka memiliki banyak utang, mengapa masih memaksakan diri membeli rumah mewah atau mobil bernilai miliaran rupiah?
Apakah itu benar-benar kebutuhan, ataukah hanya mengejar gengsi?
Mengapa mereka tidak merasa cukup dengan kekayaan yang telah dimiliki, sehingga harus berutang, atau bahkan nekat melakukan korupsi?
Tidakkah mereka melihat masih banyak orang yang kesulitan mencari makan, bahkan hidup tanpa tempat tinggal layak di kolong jembatan?
Benarlah apa yang disabdakan Nabi ﷺ:
لَوْ أَنَّ لابْنِ آدَمَ وَادِياً مِنْ ذَهَبِ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وادِيانِ
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah emas.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Benar pula sabda beliau ﷺ:
فواللَّه مَا الفقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ. وَلكنّي أَخْشى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُم كَمَا بُسطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا. فَتَهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang kutakutkan menimpa kalian, tetapi yang kutakutkan adalah dunia ini diluaskan untuk kalian, sebagaimana telah diluaskan untuk orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya. sebagaimana mereka juga berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lalu dunia itu membinasakan kalian, sebagaimana ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Muslim).
Itulah cinta dunia dan kerakusan terhadap harta. Itulah yang membuat mereka terlena, berutang ke sana kemari, dan melakukan korupsi di mana-mana.
Seandainya mereka mau bersyukur dan merasa cukup dengan rezeki yang telah Allah berikan, tentu mereka akan merasakan kelapangan jiwa dan ketenangan hati, sehingga tidak perlu merasakan sempitnya sel tahanan atau dikejar-kejar kreditor.
Nabi ﷺ bersabda:
قَدْ أَفَلَحَ مَن أَسلَمَ، وكَانَ رِزقُهُ كَفَافاً، وَقَنَّعَهُ اللَّه بِمَا آتَاهُ
“Sungguh, beruntunglah orang yang telah masuk Islam, ia diberi rezeki sekadarnya, dan Allah membuatnya merasa cukup dengan apa yang Dia berikan.” (HR. Muslim)
Siberut, 1 Muharram 1447
Abu Yahya Adiya






