Bijaksana di Tengah Cercaan: Teladan Zain Al-`Abidīn

Bijaksana di Tengah Cercaan: Teladan Zain Al-`Abidīn

“Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A`rāf: 199)

Bisa jadi kita merasa berat mempraktikkan ayat ini. Sebab, apakah mudah seseorang menahan amarah di hadapan orang yang menyakitinya? Dan apakah mudah ia memaafkan perbuatannya?

Tentu saja itu tidak mudah. Namun, kalau seseorang bisa menahan amarah di hadapan orang yang menyakitinya, maka itu merupakan kemuliaan baginya. Dan kalau setelah itu, ternyata ia bisa memaafkannya, maka makin bertambahlah kemuliaannya.

Syekh Ṣāliḥ bin `Abdillāh bin Ḥumaid berkata:

ويخطئ من يظن أن الحلم عجز، وأن العفو ضعف، وأن الإعراض عن الجاهل خوف وخور. ولا يقول ذلك إلا من تأخذه العزة بالإثم، وهو خلق ذميم يتنافى مع الحلم كما ترى

“Kelirulah orang yang menyangka bahwa bersikap bijak adalah kelemahan, memaafkan adalah kelemahan, dan berpaling dari orang bodoh adalah kepengecutan dan ketidakberdayaan. Tidak ada yang menyatakan demikian kecuali orang yang sombong dan berdosa. Itu merupakan perilaku tercela yang bertentangan dengan kebijaksanaan, sebagaimana engkau lihat.”

Syekh melanjutkan:

خرج زين العابدين بن علي بن الحسين رضي الله عنه وعن آبائه – من المسجد يوما فسبه رجل فانتدب الناس إليه. فقال:

“Suatu hari, Zain Al-`Abidīn bin `Ali bin Al-Ḥusain-semoga Allah meridainya dan leluhurnya-keluar dari masjid kemudian seseorang mencercanya. Maka orang-orang berbondong-bondong mendatanginya, lalu ia pun berkata:

دعوه

“Biarkanlah ia!”

ثم أقبل عليه فقال:

Kemudian ia menghadap kepada orang tersebut lalu berkata:

ما ستره الله عنك من عيوبنا أكثر. ألك حاجة نعينك عليها؟

“Aibku yang Allah sembunyikan darimu lebih banyak lagi. Apakah engkau punya kebutuhan yang bisa kupenuhi?”

فاستحيا الرجل فألقى إليه خميصة كانت عليه وأمر له بألف درهم فكان الرجل إذا رآه قال:

Orang itu pun merasa malu. Lalu Zain Al-`Abidīn memberikan pakaian yang ia pakai kepadanya lalu memerintahkan agar orang itu diberi seribu dirham. Setelah itu, jika orang itu melihatnya, ia berkata:

إنك من أولاد الأنبياء.

“Sesungguhnya engkau termasuk keturunan para nabi!” (Mafḥūm Al-Ḥikmah fī Ad-Da`wah)

Ya, keturunan para nabi yang sejati. Sebab, nabi kita telah bersabda:

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا ‌بِعَفْوٍ ‌إِلَّا ‌عِزًّا،

“Allah tidaklah menambahkan bagi orang yang memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

 

Siberut, 17 Shafar 1447

Abu Yahya Adiya