Bisakah kita membayangkan ketika Jibril mengangkat negeri Shodom lalu membalikkannya, kemudian menghempaskannya? (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Atau bisakah kita membayangkan tatkala Jibril melebarkan 600 sayapnya, sehingga menutup ufuk alam semesta? (HR. Bukhari dan Ahmad)
Atau cobalah bayangkan bagaimana keadaan malaikat pengusung Arsy (singgasana Allah), yang mana jarak antara ujung telinga bawahnya dengan bahunya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun! (HR. Abu Daud)
Para malaikat adalah makhluk yang sangat besar, kuat dan perkasa. Namun, walaupun begitu, mereka juga sangat takut, patuh, dan tunduk kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa.
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ المَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ
“Jika Allah menetapkan suatu perintah di atas langit, maka para malaikat mengibas-ngibaskan sayap mereka, karena tunduk kepada firman-Nya. Seolah-olah firman yang mereka dengar itu bagaikan gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata.
فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا:
Apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka pun berkata:
مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟
“Apakah yang telah dikatakan oleh Tuhan kalian?”
قَالُوا لِلَّذِي قَالَ:
Mereka menjawab:
الحَقَّ، وَهُوَ العَلِيُّ الكَبِيرُ
“Kebenaran, dan Dialah yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar.”
فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ
Ketika itulah (setan-setan) pencuri berita mendengarnya.
وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ- وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا، وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
Pencuri berita itu sebagian mereka di atas sebagian yang lain-Sufyan bin ‘Uyainah menggambarkan dengan telapak tangannya, yaitu dengan memiringkannya lalu merenggangkan jari jemarinya–.
فَيَسْمَعُ الكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الكَاهِنِ
Ketika pencuri berita itu mendengar suatu berita, ia sampaikan itu kepada yang ada di bawahnya, dan yang ada di bawahnya, menyampaikan lagi itu kepada yang ada di bawahnya, sampai ke tukang sihir atau kahin.
فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ، فَيُقَالُ:
Kadang setan pencuri berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan berita itu. Dan kadang ia sempat menyampaikan berita sebelum terkena syihab. Kemudian satu berita yang didapat itu, oleh tukang sihir dan tukang ramal itu dicampur dengan seratus macam kebohongan. Lalu dikatakan oleh orang-orang:
أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا: كَذَا وَكَذَا
“Bukankah si tukang sihir telah memberi tahu kita bahwa pada hari ini dan itu akan terjadi ini dan itu?”
فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنَ السَّمَاءِ
Akhirnya si tukang sihir dipercaya dengan sebab satu berita yang dicuri dari langit itu.” (HR. Bukhari)
Lihatlah, bagaimana tunduknya para malaikat kepada titah Tuhan mereka, dan bagaimana takzimnya mereka kepada firman Tuhan mereka.
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوحِيَ بِالْأَمْرِ تَكَلَّمَ بِالْوَحْيِ أَخَذَتِ السَّمَاوَاتُ مِنْهُ رَجْفَةً، أَوْ قَالَ رِعْدَةً شَدِيدَةً، خَوْفًا مِنَ اللَّهِ
“Jika Allah hendak mewahyukan perintah-Nya, Dia mengucapkan wahyu tersebut, maka langit-langit pun jadi bergetar dengan kerasnya karena takut kepada Allah.
فَإِذَا سَمِعَ بِذَلِكَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ صَعِقُوا، وَخَرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا
Dan ketika para malaikat mendengar ucapan-Nya tersebut, mereka pingsan dan tunduk bersujud kepada-Nya.
فَيَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَرْفَعُ رَأْسَهُ جِبْرِيلُ، فَيُكَلِّمُهُ اللَّهُ مِنْ وَحْيِهِ بِمَا أَرَادَ
Dan yang pertama kali bangun di antara mereka adalah Jibril. Lalu Allah menyampaikan wahyu yang Dia kehendaki kepadanya.
ثُمَّ يَمُرُّ جِبْرِيلُ عَلَى الْمَلَائِكَةِ
Kemudian Jibril melewati para malaikat.
كُلَّمَا مَرَّ بِسَمَاءِ سَمَاءٍ سَأَلَهُ مَلَائِكَتُهَا:
Setiap kali ia melewati langit demi langit maka para penghuninya bertanya kepadanya:
مَاذَا قَالَ رَبُّنَا يَا جِبْرِيلُ؟
“Apa yang telah dikatakan Tuhan kita, wahai Jibril?”
فَيَقُولُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ:
Jibril menjawab:
قَالَ الْحَقَّ، وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ قَالَ
“Kebenaran, dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
فَيَقُولُونَ: كُلُّهُمْ مِثْلَ مَا قَالَ جِبْرِيلُ، فَيَنْتَهِي جِبْرِيلُ بِالْوَحْيِ حَيْثُ أَمَرَهُ اللَّهُ
Lalu seluruh malaikat yang ia lewati mengucapkan perkataan seperti yang diucapkan Jibril, hingga akhirnya Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan kepadanya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Kitab At-Tauhid)
Lihatlah, bagaimana tunduknya mereka kepada titah Tuhan mereka, dan bagaimana takzimnya mereka kepada firman Tuhan mereka.
Nah, kalau malaikat yang demikian kuat dan perkasa saja sangat takut, tunduk, dan menghamba kepada Allah, maka bagaimana dengan kita yang punya banyak kekurangan dan kelemahan?!
Dan kalau malaikat yang demikian kuat dan perkasa saja tidak boleh disembah, apalagi makhluk lain yang punya banyak kekurangan dan kelemahan!
Maka….
Untuk apa takut kepada batu, pohon, dan kuburan tertentu?
Untuk apa tunduk kepada jin, dan makhluk tertentu?
Untuk apa menghamba kepada penguasa tertentu?
Takutlah hanya kepada Tuhanmu. Tunduklah hanya kepada Tuhanmu. Menghambalah hanya kepada Tuhanmu.
Beribadahlah hanya kepada Tuhanmu, Tuhannya para jin dan malaikat, Tuhannya seluruh manusia, bahkan Tuhannya seluruh alam semesta, yaitu Allah Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa!
Siberut, 11 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya






