“Mukanya bikin takut, mirip malakulmaut!”
“Ia lebih mengerikan daripada Munkar dan Nakir!”
Bolehkan seseorang mengucapkan demikian?
Dan apa hukumnya kalau seseorang mengatakan demikian?
Beriman kepada Malaikat Adalah Kewajiban
Alangkah banyaknya ayat dan hadis yang menyebutkan tentang keberadaan para malaikat dan sifat-sifat mereka.
Karena itu, sudah merupakan kewajiban atas orang yang mengaku beriman kepada Allah untuk menerimanya dan meyakininya.
Syekh Muhammad Rasyid Ridho berkata:
ثُمَّ إِنَّ الْإِيمَانَ بِالْمَلَائِكَةِ أَصْلٌ لِلْإِيمَانِ بِالْوَحْيِ ; لِأَنَّ مَلَكَ الْوَحْيِ رُوحٌ عَاقِلٌ عَالِمٌ يَفِيضُ الْعِلْمَ بِإِذْنِ اللهِ عَلَى رُوحِ النَّبِيِّ بِمَا هُوَ مَوْضُوعُ الدِّينِ، وَلِذَلِكَ قَدَّمَ ذِكْرَ الْمَلَائِكَةِ عَلَى ذِكْرِ الْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ، فَهُمُ الَّذِينَ يُؤْتُونَ النَّبِيِّينَ الْكِتَابَ
“Kemudian beriman kepada malaikat adalah pokok keimanan kepada wahyu. Sebab, malaikat pembawa wahyu adalah roh berakal dan berilmu yang menyampaikan ilmu dengan izin Allah kepada roh Nabi tentang perkara agama. Karena itu, penyebutan para malaikat lebih didahulukan dibandingkan penyebutan kitab suci dan para nabi. Sebab, merekalah yang memberikan kitab kepada para nabi.” (Tafsir Al-Manar)
Lalu Syekh juga berkata:
فَيَلْزَمُ مِنْ إِنْكَارِ الْمَلَائِكَةِ إِنْكَارُ الْوَحْيِ وَالنُّبُوَّةِ
“Mengingkari malaikat berkonsekuensi pengingkaran terhadap wahyu dan kenabian.” (Tafsir Al-Manar)
Maka, wajib atas seorang muslim beriman kepada para malaikat. Namun, bagaimana cara beriman kepada para malaikat?
Cara Beriman kepada Malaikat
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
والإيمان بالملائكة يتضمن أربعة أمور:
“Beriman kepada malaikat mengandung 4 perkara:
الأول: الإيمان بوجودهم.
Pertama: mengimani keberadaan mereka.
الثاني: الإيمان بمن علمنا اسمه منهم باسمه “كجبريل” ومن لم نعلم اسمه نؤمن بهم إجمالاً.
Kedua: mengimani nama malaikat yang telah kita ketahui namanya seperti Jibril, sedangkan malaikat yang tidak kita ketahui namanya, maka kita mengimaninya secara global.
الثالث: الإيمان بما علمنا من صفاتهم، كصفة ” جبريل ” فقد أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنه رآه على صفته التي خلق عليها وله ستمائة جناح قد سد الأفق.
Ketiga: mengimani sifat mereka yang telah kita ketahui. Seperti sifat Jibril. Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa beliau pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya dalam keadaan memiliki 600 sayap yang menutupi ufuk.
الرابع: الإيمان بما علمنا من أعمالهم التي يقومون بها بأمر الله تعالى، كتسبيحه، والتعبد له ليلاً ونهاراً بدون ملل ولا فتور.
Keempat: mengimani tugas mereka yang telah kita ketahui yang mereka lakukan berdasarkan perintah Allah, seperti bertasbih kepada-Nya, beridadah kepada-Nya siang-malam tanpa bosan dan letih.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)
Itulah beberapa perkara terkait malaikat yang wajib kita yakini. Ya, wajib kita yakini. Jika tidak…
Penyimpangan Dalam Hal Iman kepada Malaikat
- Menyatakan bahwa malaikat itu tidak berwujud.
Setelah menyebutkan beberapa ayat dan hadis yang menyebutkan tentang para malaikat, Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وهذه النصوص صريحة في أن الملائكة أجسام لا قوى معنوية، كما قال الزائغون وعلى مقتضى هذه النصوص أجمع المسلمون.
“Berbagai ayat dan hadis ini jelas menunjukkan bahwa para malaikat itu berwujud, bukan kekuatan yang abstrak, sebagaimana dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang. Dan kaum muslimin telah sepakat atas apa yang ditunjukkan oleh berbagai ayat dan hadis ini.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)
Dan Syekh juga berkata:
وقد أنكر قوم من الزائغين كون الملائكة أجساماً، وقالوا إنهم عبارة عن قوى الخير الكامنة في المخلوقات
“Kelompok sesat telah mengingkari bahwa para malaikat itu berwujud. Dan mereka berpendapat bahwa para malaikat adalah ungkapan tentang kekuatan baik yang tersimpan dalam makhluk.
وهذا تكذيب لكتاب الله تعالى، وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وإجماع المسلمين.
Ini adalah pendustaan terhadap kitab Allah dan sunnah rasul-nya dan ijmak kaum muslimin.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)
Nah, kalau mendustakan satu ayat Al-Quran saja kafir, lantas bagaimana pula dengan mendustakan sesuatu yang disebutkan dalam puluhan ayat dan hadis, bahkan disepakati oleh umat?!
- Mencela malaikat.
Al-Qurafi berkata:
أعلم أنه يجب على كل مكلف تعظيم الأنبياء بأسرهم، وكذلك الملائكة ومن نال من أعراضهم شيئا فقد كفر، سواء كان بالتعريض أو بالتصريح
“Ketahuilah bahwasanya wajib atas setiap mukalaf mengagungkan semua nabi. Demikian pula mengagungkan para malaikat. Siapa yang mencela mereka sedikit saja, maka ia telah kafir, baik dengan sindiran maupun terang-terangan.
فمن قال في رجل يراه شديد البطش: هذا أقسى قلبا من مالك خازن النار، وقال في رجل رآه مشوه الخلق: هذا أوحش من منكر ونكير؛ فهو كافر إذا قال ذلك في معرض النقص بالوحاشة والقساوة،
Siapa yang berkata tentang seseorang yang ia pandang bengis, ‘Ia lebih keras hatinya daripada Malik penjaga neraka!’ dan berkata tentang seseorang yang ia lihat penampilannya buruk, ‘Ia lebih mengerikan daripada Munkar dan Nakir!’, maka ia telah kafir, jika ia berkata demikian dalam rangka merendahkan dengan menyebutkan sifat mengerikan dan keras.” (Al-Habaik Fii Akhbar Al-Malaik)
Dan kalau seseorang sudah dinyatakan kafir, maka apakah hukuman yang pantas baginya?
Sahnun berkata:
من شتم ملكا من الملائكة فعليه القتل
“Siapa yang mencela salah satu malaikat, maka ia harus dihukum mati.” (Al-Habaik Fii Akhbar Al-Malaik)
Siberut, 18 Jumada Ats-Tsaniyah 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Habaik Fii Akhbar Al-Malaik karya Imam As-Suyuthi.
- Syarh Tsalatsah Al-Ushul karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Tafsir Al-Manar karya Syekh Muhammad Rasyid Ridho.
- dorar.net






