Cara Mengimani Kitab Suci

Cara Mengimani Kitab Suci

Apa boleh seorang muslim mencela kitab Taurat dalam ceramahnya?

Apa boleh seorang muslim mengutip perkataan dari Injil dalam ceramahnya?

 

Kitab Suci Itu Wajib Diimani

Allah berfirman:

وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَاب

“Dan katakanlah, ‘Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah.” (QS. Asy-Syuuraa: 15)

Maksud ayat ini:

وقل لهم يا محمد: صدّقت بما أنزل الله من كتاب كائنا ما كان ذلك الكتاب، توراة كان أو إنجيلا أو زبورا أو صحف إبراهيم، لا أكذب بشيء من ذلك تكذيبكم ببعضه معشر الأحزاب، وتصديقكم ببعض.

“Katakan kepada mereka wahai Muhammad: aku membenarkan kitab yang Allah turunkan, apa pun kitab itu: apakah itu Taurat, Injil, Zabur, atau Suhuf Ibrahim. Aku tidak mendustakan itu sedikit pun seperti pendustaan kalian terhadap sebagiannya dan pembenaran kalian terhadap sebagiannya wahai kelompok-kelompok!” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wil Al-Quran)

Maka, kita wajib beriman kepada Taurat, Zabur, Injil dan kitab apa pun yang telah Allah turunkan sebelum Al-Quran.

Namun, bagaimana cara beriman kepada kitab-kitab itu?

 

Cara Mengimani Kitab Suci Sebelum Al-Quran

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

والإيمان بالكتب يتضمن أربعة أمور:

“Beriman kepada kitab-kitab suci mengandung 4 perkara:

الأول: الإيمان بأن نزولها من عند الله حقاً.

Pertama: mengimani turunnya kitab suci itu benar dari sisi Allah.

الثاني: الإيمان بما علمنا اسمه منها باسمه كالقرآن الذي نزل على محمد صلى الله عليه وسلم، والتوراة التي أنزلت على موسى صلى الله عليه وسلم، والإنجيل الذي أنزل على عيسى صلى الله عليه وسلم، والزبور الذي أوتيه داود صلى الله عليه وسلم وأما لم نعلم اسمه فتؤمن به إجمالاً.

Kedua: mengimani nama kitab yang kita ketahui namanya, seperti Al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad, Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil yang diturunkan kepada ‘Isa, dan Zabur yang diberikan kepada Daud. Adapun kitab yang tidak kita ketahui namanya, maka kita mengimaninya secara global.

الثالث: تصديق ما صح من أخبارها، كأخبار القرآن، وأخبار مالم يبدل أو يحرف من الكتب السابقة.

Ketiga: membenarkan kabar-kabar benar yang ada di dalamnya, seperti kabar-kabar dalam Al-Quran, dan kabar-kabar dalam kitab-kitab terdahulu yang belum diubah atau diselewengkan.

الرابع: العمل باحكام ما لم ينسخ منها، والرضا والتسليم به سواء فهمنا حكمته أم لم نفهمها، وجميع الكتب السابقة منسوخة بالقرآن العظيم

Keempat: mengamalkan, rida, dan menerima hukum yang belum dihapus dalam kitab-kitab suci. Baik kita memahami hikmahnya atau tidak. Dan seluruh kitab suci terdahulu telah dihapus dengan Al-Quran yang agung.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)

Itulah beberapa perkara terkait kitab-kitab suci yang wajib kita yakini. Ya, wajib kita yakini. Jika tidak….

 

Penyimpangan Dalam Hal Iman kepada Kitab Suci

  1. Mengingkari Taurat, Injil, Zabur dan kitab suci lain sebelum Al-Quran, bahkan mencela itu.

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata:

وكذلك إن جحد التوراة والإنجيل وكتب الله المنزلة، أو كفر بها، أو لعنها أو سبها، أو استخف بها فهو كافر

“Demikian pula jika seseorang menolak Taurat, Injil, dan kitab-kitab Allah yang telah diturunkan, atau mengingkarinya, atau melaknatnya, atau mencelanya atau meremehkannya, maka ia kafir.” (Asy-Syifa)

Syekhul Islam berkata:

لَيْسَ لِأَحَدِ أَنْ يَلْعَنَ التَّوْرَاةَ؛ بَلْ مَنْ أَطْلَقَ لَعْنَ التَّوْرَاةِ فَإِنَّهُ يُسْتَتَابُ فَإِنْ تَابَ وَإِلَّا قُتِلَ.

“Tidak boleh seorang pun melaknat Taurat. Bahkan, siapa yang melaknat Taurat secara mutlak, maka ia diminta tobat. Kalau bertobat, maka itu yang diharapkan. Jika tidak, ia dihukum mati.

وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ يَعْرِفُ أَنَّهَا مَنْزِلَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَأَنَّهُ يَجِبُ الْإِيمَانُ بِهَا: فَهَذَا يُقْتَلُ بِشَتْمِهِ لَهَا؛ وَلَا تُقْبَلُ تَوْبَتُهُ فِي أَظْهَرِ قَوْلَيْ الْعُلَمَاءِ.

Dan jika ia termasuk orang yang mengetahui bahwa Taurat diturunkan dari sisi Allah dan wajib beriman kepadanya, maka ia harus dihukum mati karena celaannya itu. Dan tobatnya tidak diterima berdasarkan pendapat paling kuat di antara dua pendapat para ulama.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Adapun menjelaskan beberapa kesalahan yang ada dalam Taurat atau Injil yang sudah diselewengkan di zaman sekarang, maka itu diperbolehkan.

Syekhul Islam berkata:

كَذَلِكَ إنْ سَبَّ التَّوْرَاةَ الَّتِي عِنْدَهُمْ بِمَا يُبَيِّنُ أَنَّ قَصْدَهُ ذِكْرُ تَحْرِيفِهَا مِثْلُ أَنْ يُقَالَ نُسَخُ هَذِهِ التَّوْرَاةِ مُبَدَّلَةٌ لَا يَجُوزُ الْعَمَلُ بِمَا فِيهَا وَمَنْ عَمِلَ الْيَوْمَ بِشَرَائِعِهَا الْمُبَدَّلَةِ وَالْمَنْسُوخَةِ فَهُوَ كَافِرٌ: فَهَذَا الْكَلَامُ وَنَحْوُهُ حَقٌّ لَا شَيْءَ عَلَى قَائِلِهِ

“Adapun jika seseorang mencela Taurat yang dimiliki kaum Yahudi sekarang dengan menjelaskan bahwa maksudnya adalah menyebutkan penyimpangan yang ada di dalamnya, seperti dengan mengatakan, ‘Naskah Taurat ini sudah diubah, tidak boleh diamalkan, dan siapa yang mengamalkan syariat di dalamnya yang sudah diubah dan dihapus, berarti ia kafir’, maka perkataan ini dan semacamnya adalah benar, dan tidak ada konsekuensi apapun terhadap orang yang mengucapkannya.” (Majmu’ Al-Fatawa)

 

  1. Membaca dan mengutip perkataan dalam Taurat dan Injil, dan menjadikannya sebagai pedoman.

Suatu hari Nabi ﷺ melihat ‘Umar bin Al-Khaththab memegang lembaran yang di dalamnya terdapat beberapa potongan ayat Taurat , maka beliau ﷺ pun marah. Beliau ﷺ lalu bersabda:

أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ

“Apakah engkau bingung wahai putra Al-Khaththab?

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً

Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh, aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih.

لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ

Jangan kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu lalu mereka pun mengabarkan kebenaran kepada kalian, kemudian kalian ternyata mendustakannya. Atau mereka mengabarkan kebatilan, kemudian kalian ternyata membenarkannya.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى ﷺ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Musa ﷺ hidup sekarang ini, maka ia mesti mengikutiku.” (HR. Ahmad)

Tidak diragukan lagi bahwa di dalam kitab Taurat dan Injil masih ada kebenaran dan ada petunjuk. Namun, tatkala kebenaran yang ada di situ sudah bercampur dengan kebatilan, dan petunjuk di situ sudah bercampur dengan kesesatan, maka tidak pantas seorang muslim menjadikan itu sebagai pedoman.

Cukuplah Al-Quran sebagai pedoman. Semua kebenaran, kebaikan, dan petunjuk yang ada dalam kitab terdahulu sudah terangkum dalam Al-Quran.

Allah berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai saksi terhadapnya.” (QS. Al-Maidah: 48)

Maka, tidak boleh seorang muslim membaca Taurat atau Injil atau mengutip perkataan dari keduanya, kecuali…

إلا من قرأها لبيان ما ورد فيها من تحريفات وتضارب بينها، وكان من الراسخين في العلم.

“Orang yang membacanya untuk menjelaskan penyimpangan dan kontradiksi yang ada di dalamnya dan ia termasuk orang yang kokoh dalam hal ilmu.

وأما عامة المسلمين، ومن ليس لهم شأن في الرد على تحريفات وشبهات أهل الكتاب فلا يجوز له قراءة التوراة والإنجيل وغيرها من الكتب السابقة.

Adapun muslim yang awam dan tidak punya kepentingan untuk membantah penyimpangan dan kerancuan Ahli Kitab, maka tidak boleh membaca Taurat, Injil, dan kitab terdahulu selain keduanya.” (Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyyah)

 

Siberut, 20 Jumada Ats-Tsaniyah 1442

Abu Yahya Adiya