Bagaimana Menyikapi Nama dan Sifat-Nya?

Bagaimana Menyikapi Nama dan Sifat-Nya?

Kalau Allah mengabarkan kepada kita tentang nama dan sifat-Nya, apakah kita akan menerima kabar-Nya atau menolaknya?

Kalau ada orang yang dengan akalnya memastikan nama dan sifat Allah seperti ini dan itu, apakah kita akan menerima kabarnya atau menolaknya?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وَمِنَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ:

“Termasuk iman kepada Allah yaitu:

الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ. وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ ﷺ مِنْ غَيْرِ: تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ: تَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ.

Mengimani sifat yang Allah berikan kepada diri-Nya dalam kitab-Nya dan sifat yang diberikan rasul-Nya, Muhammad ﷺ kepada diri-Nya, tanpa tahrif (menyelewengkan maknanya), dan ta’thil (menolaknya), dan tanpa takyif (menentukan hakekatnya) dan tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk-Nya).

بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

Bahkan, Ahlussunnah beriman bahwa tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Inilah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah terkait dengan nama dan sifat-Nya.

Mereka mengikuti wahyu yang ada dalam kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya.

Mereka tidak menambah itu dan tidak pula mengurangi. Bahkan, mereka selalu berpegang teguh pada keduanya.

Syekh Sulaiman bin ‘Abdullah bin Muhammad At-Tamimi berkata:

فإن الواجب على العبد التسليم والإذعان والإيمان بما صح عن الله وعن رسوله صلى الله عليه وسلم وإن لم يحط به علمًا

“Sesungguhnya yang wajib atas seorang hamba adalah menerima, tunduk, dan beriman kepada kabar yang sahih dari Allah dan rasul-Nya, walaupun belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.

ولهذا قال الشافعي

Karena itu, Asy-Syafi’i berkata:

آمنت بالله، وبما جاء عن الله على مراد الله، وآمنت برسول الله، وما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله

“Aku beriman kepada Allah, dan kepada kabar yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah, dan kepada kabar yang datang dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah.” (Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid Fii Syarh Kitab At-Tauhid Alladzii Huwa Haq Allah ‘Alaa Al-‘Abiid)

Syekh Khalid Al-Mushlih berkata:

فإمامهم وقدوتهم فيما يعتقدونه في الله جل وعلا -في هذا الباب وفي غيره من أبواب العقائد- ما دلت عليه نصوص الكتاب والسنة

“Imam dan panutan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam hal keyakinan mereka tentang Allah yang berhubungan dengan nama dan sifat-Nya serta masalah akidah lainnya adalah apa yang ditunjukkan oleh teks Al-Quran dan As-Sunnah.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Apa pun yang ditunjukkan oleh teks Al-Quran dan As-Sunnah, Ahlussunnah wal Jama’ah menerimanya dan meyakininya, baik berupa ibadah, muamalah, apalagi masalah akidah!

Ya, apalagi masalah akidah, terutama masalah nama dan sifat Allah.

Mereka menerimanya dan meyakininya, karena itu mereka tidak terjatuh pada penyimpangan terkait dengan nama dan sifat-Nya.

 

Penyimpangan Terkait dengan Nama dan Sifat-Nya

Ada 4 penyimpangan yang terkait dengan nama dan sifat Allah yang disebutkan oleh Syekhul Islam tadi yaitu: tahrif (menyelewengkan maknanya), ta’thil (menolaknya), takyif (menentukan hakekatnya) dan tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk-Nya).

 

  1. Tahrif (menyelewengkan maknanya).

Tahrif artinya:

تغيير لفظ النص أو معناه.

“Mengubah lafal atau makna nas.” (Mudzakkirah ‘Alaa Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Yaitu nas Al-Quran atau As-Sunnah.

Contoh tahrif berupa mengubah lafal nas:

Seperti yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyyah terhadap firman Allah:

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيما

“Dan Allah mengajak bicara Musa.” (QS. An-Nisa’: 164)

Mereka mengubah harakat dammah pada lafal Allah menjadi fatah, sehingga maknanya berubah menjadi: “Dan Musa mengajak bicara Allah.”

Mereka melakukan demikian, karena mereka tidak mau menetapkan sifat berbicara bagi Allah.

Contoh tahrif berupa mengubah makna nas:

Seperti yang dilakukan oleh kelompok Asy’ariyyah terhadap firman Allah:

الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

“Tuhan Yang Maha Pengasih, yang istawa di Arsy.” (QS. Thahaa: 5)

Dan makna istawa yaitu:

الْعُلُوّ والارتفاع

“Tinggi di atas.” (Al-‘Aqidah Riwayah Abi Bakr Al-Khollal)

Artinya, makna ayat tadi yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih tinggi di atas Arsy.

Sangat terang dan jelas. Namun, anehnya, kelompok Asy’ariyyah mengubah makna istawa menjadi menguasai, sehingga makna ayat tadi berubah menjadi: “Tuhan Yang Maha Pengasih menguasai Arsy.”

Mereka melakukan demikian, karena mereka tidak mau menetapkan sifat tinggi bagi Allah.

 

  1. Ta’thil (menolaknya).

Tathil artinya:

إنكار ما يجب لله من الأسماء والصفات

“Mengingkari nama dan sifat yang sebenarnya milik Allah.” (Mudzakkirah ‘Alaa Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Dan tathil ini bisa secara menyeluruh, maupun sebagian.

Adapun secara menyeluruh, seperti  yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyyah. Mereka mengingkari dan menolak semua sifat Allah yang disebutkan dalam kitab-Nya atau yang disebutkan dalam sunnah nabi-Nya.

Sedangkan yang sebagian saja, seperti yang dilakukan oleh kelompok Asy’ariyyah. Mereka mengingkari dan menolak sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam kitab-Nya atau yang disebutkan dalam sunnah nabi-Nya, kecuali 7 sifat saja atau 13 saja menurut sebagian mereka. 13 sifat itu yakni:

-Wujud (ada).

-Qidam (terdahulu).

-Baqa (kekal).

-Mukhalafatu lil hawadisi (berbeda dengan ciptaan-Nya).

-Qiyamuhu binafsihi (berdiri dengan sendirinya).

-Wahdaniyyah (Maha Esa).

-Qudrah (Mahakuasa).

-Iradah (berkehendak).

-‘Alim (Maha Mengetahui).

-Hayat (hidup).

-Sama’ (Maha Mendengar).

-Basar (Maha Melihat).

-Kalam (Berfirman).

 

  1. Takyif (menentukan hakekatnya).

Takyif artinya:

إثبات كيفية الصفة كأن يقول: استواء الله على عرشه كيفيته كذا وكذا،

“Menentukan hakekat sifat-Nya, seperti dengan berkata, ‘Ketinggian Allah di atas Arsy-Nya seperti ini dan itu.” (Mudzakkirah ‘Alaa Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

 

  1. Tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk-Nya).

Tamtsil artinya:

تمثيل صفات الله بصفات خلقه

“Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.” (Manhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Contoh tamtsil seperti dengan berkata:

ينزل الله إلى السماء كنزولنا

“Allah turun ke langit dunia, seperti turunnya kita.” (Manhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Itulah 4 penyimpangan terkait dengan nama dan sifat-Nya yang harus kita hindari. Siapa yang bisa menghindarinya, maka:

يأمن بها الإنسان من نوعي البدع في باب الأسماء والصفات، فإن البدع في باب الأسماء والصفات على اختلاف الطوائف، وتنوع الطرق ترجع إلى طريقين كبيرين:

“Ia akan aman dari 2 macam bidah dalam hal nama dan sifat-Nya. Karena sesungguhnya bidah dalam hal nama dan sifat-Nya yang muncul dari berbagai kelompok dan bermacam jalan kembali pada dua jalan besar:

طريق المعطلة

Jalan orang-orang penolak sifat-Nya.

وطريق الممثلة،

Dan jalan orang-orang yang menyerupakan sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Jangan anggap remeh 4 penyimpangan tadi! Sebab…

كلها حرام ومنها ما هو كفر أو شرك، ومن ثم كان أهل السنة والجماعة متبرئين من جميعها.

“Semuanya haram dan sebagiannya ada yang merupakan kekafiran atau kemusyrikan. Dan karena itulah, Ahlussunnah wal Jama’ah berlepas diri dari semuanya.” (Mudzakkirah ‘Alaa Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

 

Siberut, 6 Jumada Ats-Tsaniyah 1442

Abu Yahya Adiya