Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.
Mungkin itulah peribahasa yang cocok dengan hadis berikut ini:
Nabi ﷺ bersabda:
يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ يُقَالُ:
“Pada hari kiamat akan didatangkan penghuni neraka yang paling banyak merasakan nikmat ketika di dunia. Setelah itu, ia dicelupkan sekali ke dalam neraka, lalu ditanya:
يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟
“Hai anak Adam! Apakah engkau pernah melihat satu saja kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan satu saja kenikmatan?”
فَيَقُولُ:
Penghuni neraka itu menjawab:
لَا، وَاللهِ يَا رَبِّ
“Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku!”
وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا، مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ، فَيُقَالُ لَهُ:
Dan didatangkan penghuni surga yang paling banyak merasakan kesengsaraan ketika di dunia. Setelah itu, ia dicelupkan sekali ke dalam surga, lalu ditanya:
يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟
“Hai anak Adam! Apakah engkau pernah melihat satu saja kesengsaraan? Apakah engkau pernah merasakan satu saja penderitaan?”
فَيَقُولُ:
Penghuni surga itu menjawab:
لَا، وَاللهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ، وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
“Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku! Aku tidak pernah merasakan kesengsaraan sedikit pun dan aku tidak pernah melihat penderitaan sedikit pun.” (HR. Muslim)
Ternyata, sebentar saja di neraka bisa membuat lupa akan semua kenikmatan ketika di dunia.
Dan sebentar saja di surga bisa membuat lupa akan semua kesengsaraan ketika di dunia.
Karena itu, yang benar-benar perlu kita perhatikan adalah akhirat, bukan dunia yang sesaat.
Yang benar-benar perlu kita pikirkan adalah kesudahan hidup kita, bukanlah permulaan hidup kita.
Nabi ﷺ bersabda:
حُجِبتِ النَّارُ بِالشَّهَواتِ، وحُجِبتْ الْجَنَّةُ بَالمكَارِهِ
“Neraka dikelilingi oleh berbagai kesenangan, sedangkan surga itu dikelilingi oleh berbagai kesulitan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Surga tidak bisa diraih dengan kesantaian. Perlu perjuangan dan kesungguhan. Mesti melewati berbagai kesulitan. Harus melawan hawa nafsu kita dengan melakukan salat, zakat, puasa, dan berbagai kebaikan.
Demi menggapai keuntungan dunia saja kita harus sibuk, mengurangi waktu istirahat, dan mengorbankan waktu dan tenaga, maka bagaimana pula kalau kita ingin menggapai keuntungan akhirat?!
Lebih baik bersakit-sakit dahulu, tetapi bersenang-senang kemudian, daripada bersenang-senang dahulu, tetapi bersakit-sakit kemudian!
Siberut, 9 Jumada Ats-Tsaniyah 1444
Abu Yahya Adiya






