Berjabat Tangan atau Berpelukan?

Berjabat Tangan atau Berpelukan?

Apa yang sebaiknya kita lakukan tatkala bertemu dengan saudara seiman?

Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ

“Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau sahabatnya, apakah ia membungkuk kepadanya?”

Beliau ﷺ menjawab:

لَا

“Tidak.”

Ia kembali bertanya:

أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ

“Apakah ia memeluknya dan menciumnya?”

Beliau ﷺ menjawab:

لَا

“Tidak.”

Ia bertanya lagi:

أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ

“Apakah ia meraih tangannya dan menjabat tangannya itu?”

Beliau ﷺ menjawab:

نَعَمْ

“Ya.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadis ini, Nabi ﷺ mengizinkan kita untuk berjabat tangan dengan saudara kita seiman tatkala bertemu dengannya. Dan sebenarnya, bukan cuma mengizinkan. Beliau ﷺ juga menganjurkan demikian. Sebagaimana disebutkan dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud dan lain-lain)

Maka, yang disyariatkan dan dianjurkan tatkala kita bertemu dengan saudara seiman adalah berjabat tangan dengannya.

Adapun memeluknya, maka itu tidak disyariatkan, kecuali kalau ia baru datang dari perjalanan jauh.

Jabir bin ‘Abdillah berkata:

لَمَّا قَدِمَ جَعْفَرٌ مِنَ الْحَبَشَةِ عَانَقَهُ النَّبِيُّ ﷺ

“Tatkala Ja’far datang dari Habasyah, Nabi ﷺ memeluknya.” (HR. Abu Ya’la)

Bukan cuma Nabi ﷺ yang melakukan itu, para sahabatnya pun melakukan demikian.

Anas bin Malik berkata:

كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا تَلَاقَوْا تَصَافَحُوا، وَإِذَا قَدِمُوا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوا

“Para sahabat Nabi ﷺ jika bertemu, mereka saling berjabat tangan. Dan jika mereka datang dari perjalanan jauh, mereka saling berpelukan.” (HR. Ath-Thabrani)

 

Siberut, 11 Jumada Ats-Tsaniyah 1444

Abu Yahya Adiya