Memutus Silaturahim Karena Disakiti

Memutus Silaturahim Karena Disakiti

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa memutus silaturahim adalah perbuatan yang diharamkan. Dan itu merupakan dosa yang sangat besar. Sebab, pelakunya terancam tidak akan masuk surga.

Karena itu, seorang muslim harus menjaga silaturahim dan tidak boleh memutusnya. Namun, apa yang harus dilakukan oleh seseorang  ketika ia disakiti oleh kerabatnya?

Apakah boleh ia memutus hubungan dengannya?

Seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُول اللَّه إِنَّ لِي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني وَأُحسِنُ إِلَيْهِمِ وَيُسيئُونَ إِليَّ وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيجْهلُونَ علَيَّ

“Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kerabat, aku berusaha menyambung hubungan dengan mereka, tetapi mereka malah memutusnya. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka malah berbuat buruk kepadaku. Aku bersikap bijak terhadap mereka, tetapi mereka malah bersikap masa bodoh terhadapku!”

Beliau ﷺ pun bersabda:

لَئِنْ كُنْت كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ، وَلاَ يَزَالُ معكَ مِنَ اللَّهِ ظهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دمْتَ عَلَى ذَلكَ

“Kalau memang engkau sebagaimana yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau telah menyumpal mulut mereka dengan abu panas. Engkau senantiasa ditolong Allah dalam menghadapi mereka selama engkau dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim)

Imam At-Tuuribisytiy menjelaskan:

أَيْ إِحْسَانُكَ إِلَيْهِمْ إِذَا كَانُوا يُقَابِلُونَهُ بِالْإِسَاءَةِ يَعُودُ وَبَالًا عَلَيْهِمْ

“Maksudnya perbuatan baikmu kepada mereka jika mereka balas dengan perbuatan buruk, maka itu akan menjadi bencana bagi mereka.” (Mirqaat Al-Mafaatiih Syarh Misykaat Al-Mashaabiih)

Walaupun keluarga atau kerabatnya berbuat buruk, tetap saja Nabi ﷺ tidak mengizinkan sahabatnya untuk memutus hubungan dengan mereka. Nabi ﷺ tetap menyuruhnya untuk bersabar, dan kesabarannya itu adalah baik baginya.

Syekh Faishal Al-Mubarak berkata:

في هذا الحديث: الحض على الصبر على الإِيذاء خصوصًا من الأَقارب، وأن من كان كذلك أعانه المولى سبحانه وتعالى.

“Dalam hadis ini terdapat anjuran untuk bersabar dalam menghadapi gangguan terutama dari kerabat dan bahwasanya siapa yang keadaannya demikian, maka Allah akan menolongnya.” (Tathriiz Riyadh Ash-Shalihin)

Buruknya perilaku keluarga bukanlah alasan untuk memutus hubungan dengan mereka.

Seorang mukmin sejati tetap berbuat baik kepada keluarganya, walaupun mereka tidak menghargai kebaikannya.

Seorang mukmin sejati tidak menyakiti kerabatnya, walaupun mereka sendiri menyakitinya.

Karena, yang ia harapkan, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah keridaan Tuhannya.

 

Siberut, 4 Jumada Ats-Tsaniyah 1444

Abu Yahya Adiya