“Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali.”
Demikianlah kabar dari Abu Hurairah. Lalu ia melanjutkan:
إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَه
“Jika beliau ﷺ menyukai suatu makanan, beliau memakannya. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau mencela fisik makanan saja Nabi ﷺ tidak pernah, padahal itu benda mati, maka apalagi mencela fisik makhluk hidup!
Suatu hari Nabi ﷺ melihat seseorang memakai izar (kain bawah) yang panjang sehingga ia berjalan dengan menyeretnya. Nabi ﷺ pun menegurnya dengan berkata:
ارْفَعْ إِزَارَكَ وَاتَّقِ اللهَ
“Angkatlah izarmu, dan bertakwalah engkau kepada Allah!”
Orang itu menjawab:
إِنِّي أَحْنَفُ تَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ
“Sesungguhnya aku ini pincang, kedua lututku sering beradu.”
Orang itu ingin menutupi ‘kekurangan’nya. Namun, apa komentar Nabi ﷺ?
Beliau ﷺ bersabda:
ارْفَعْ إِزَارَكَ، فَإِنَّ كُلَّ خَلْقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ
“Angkatlah izarmu, karena sesungguhnya seluruh ciptaan Allah itu bagus!” (HR. Ahmad)
Seluruh ciptaan Allah itu baik, tidak ada yang buruk, maka untuk apa mencelanya?
Karena itu, tidak boleh mencela fisik seseorang dengan alasan apa pun.
Kalau seseorang memang berperilaku buruk, maka kenapa yang disalahkan adalah fisiknya dan bukan perilakunya?
Suka mencela dan memaki bukanlah sifat mukmin sejati.
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلا اللَّعَّانِ وَلا الْفَاحِشِ وَلا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji dan kotor.” (HR.Tirmidzi)
Suka mengumbar celaan dan makian adalah tanda kebodohan.
Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata:
فإن الجاهل هو الذي يتكلم بالكلام الذي لا فائدة فيه، وهو الذي يستهزئ بالناس
“Sesungguhnya orang yang bodoh adalah orang yang suka berbicara dengan perkataan yang tidak berguna dan mengejek orang lain.
وأما العاقل فيرى أن من أكبر العيوب المزرية بالدين والعقل، استهزاءه بمن هو آدمي مثله
Adapun orang yang berakal, maka ia memandang bahwa termasuk aib sangat besar yang merendahkan agama dan akalnya adalah ia mengejek orang yang sama-sama manusia sepertinya.
وإن كان قد فضل عليه، فتفضيله يقتضي منه الشكر لربه، والرحمة لعباده
Kalaupun ia memiliki kelebihan darinya, maka kelebihannya itu menuntutnya untuk bersyukur kepada Tuhannya dan bersikap sayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsiir Kalam Al-Mannan)
Siberut, 18 Dzulqa’dah 1444
Abu Yahya Adiya






