Budak Bintang

Budak Bintang

“Kalau bintangnya Sagitarius, berarti jodohnya wanita yang berbintang Akuarius.”

“Kalau bintangnya Libra, berarti hari sialnya hari Selasa.”

“Kalau menikah ketika munculnya bintang ini, berarti pernikahannya akan bahagia.”

“Kalau menikah ketika munculnya bintang itu, berarti pernikahannya akan sengsara.”

Mungkinkah bintang seseorang berpengaruh pada jodohnya?

Atau berpengaruh pula pada hokinya dalam karir, bisnis, berumah tangga dan lain-lainnya?

 

Fungsi Bintang

Imam Qotadah As-Sadusi berkata:

 خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا، فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ، وَأَضَاعَ نَصِيبَهُ، وَتَكَلَّفَ مَا لاَ عِلْمَ لَهُ بِهِ

“Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga tujuan: Dia menjadikan itu sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar syetan, dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya). Siapa yang berpendapat selain itu, maka ia telah melakukan kesalahan, dan menyia-nyiakan nasibnya, serta membebani dirinya dengan hal yang di luar batas pengetahuannya.” (Shahih Bukhari)

Imam Qatadah menyebutkan 3 fungsi bintang:

  1. Sebagai hiasan langit.
  2. Sebagai alat pelempar setan.

Ini berdasarkan firman Allah:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” (QS. Al-Mulk: 5)

  1. Sebagai tanda untuk petunjuk yaitu petunjuk waktu dan arah.

Ini berdasarkan firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang untuk kalian, agar kalian menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.” (QS. Al-An’aam: 97)

Itulah fungsi bintang. Dan itulah tujuan Allah menciptakan bintang.

Siapa yang menggunakan bintang untuk selain itu, maka kata Imam Qatadah: “ia telah melakukan kesalahan, dan menyia-nyiakan nasibnya, serta membebani dirinya dengan hal yang di luar batas pengetahuannya.”

Kalau begitu, bisakah bintang dijadikan petunjuk untuk mencari jodoh?

Bisakah bintang dijadikan petunjuk untuk mengetahui hoki bisnis, karier dan semisalnya?

 

Hukum Terkait dengan Bintang

  1. Jika melalui perantara bintang seseorang meramal jodoh, kematian, keberuntungan seseorang dan perkara gaib lainnya, maka ia terjatuh dalam syirik besar dan menjadi musyrik.

Sebab, ia seolah-olah menyaingi Allah عز وجل yang telah berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS.Al-An’aam: 59)

 

  1. Jika seseorang meyakini bahwa bintang itulah yang menentukan nasib manusia dengan sendirinya dan tanpa andil dari Allah عز وجل, maka ia terjatuh dalam syirik besar dan menjadi musyrik.

Sebab, ia telah meyakini ada selain Allah yang menentukan nasib manusia.

 

  1. Jika seseorang meyakini bahwa bintang itu semata-mata perantara atau sebab, sedangkan yang menentukan nasib manusia adalah Allah عز وجل, maka ia terjatuh dalam syirik kecil.

Mengapa demikian?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

لأنه بتعلقه أثبت للأشياء سببا لم يثبته الله لا بشرعه ولا بقدره

“Karena, dengan bergantung kepadanya seseorang telah menetapkan sesuatu sebagai sebab, padahal Allah tidak menetapkan itu sebagai sebab lewat syariat-Nya maupun takdir.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Namun, walaupun itu syirik kecil, bukan berarti bahayanya kecil. Itu tetap syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar! Lebih besar daripada dosa berzina, mencuri, korupsi dan dosa-dosa besar lainnya!

Kalau begitu, apa pun yang terkait dengan ramalan bintang tidaklah menguntungkan. Bahkan, itu merugikan dan sangat merugikan. Sebab itu adalah syirik, dosa terbesar di antara dosa-dosa besar!

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُوم اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Siapa yang mempelajari ilmu nujum (perbintangan), maka ia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. Semakin bertambah (ia mempelajari ilmu nujum), semakin bertambah pula (dosanya).” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Ilmu nujum di sini maksudnya yaitu ilmu astrologi, yakni ilmu perbintangan yang dipakai untuk meramal dan mengetahui nasib orang atau kejadian yang ada di muka bumi.

Siapa yang mempelajari itu dan mempercayainya, berarti telah mempelajari dan mempercayai sihir. Dan siapa yang mempelajari dan mempercayai sihir, berarti ia telah terjatuh dalam syirik. Makin sering ia mempelajari dan mempercayainya, berarti makin bertambah kemusyrikannya dan makin bertambah pula dosanya.

 

Bagaimana dengan Astronomi?

Kalau memang astrologi terlarang, lantas bagaimana dengan astronomi yaitu ilmu falak yakni ilmu yang mempelajari tentang peredaran bintang, bulan, matahari, dan planet lainnya?

Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih bahkan mayoritas ulama berpendapat bolehnya astronomi atau ilmu falak jika bertujuan untuk mengetahui arah kiblat, waktu salat, mengetahui musim, penunjuk jalan dan semacamnya.

Imam Al-Baghawi menyebutkan tentang astronomi:

فَأَمَّا مَا يُدْرَكُ مِنْ طَرِيقِ الْمُشَاهَدَةِ مِنْ عِلْمِ النُّجُومِ الَّذِي يُعْرَفُ بِهِ الزَّوَالُ، وَجِهَةُ الْقِبْلَةِ، فَإِنَّهُ غَيْرُ دَاخِلٍ فِيمَا نُهِيَ عَنْهُ.

“Adapun ilmu perbintangan yang dipelajari lewat penglihatan mata telanjang  sehingga dengan itu diketahui kapan waktu tergelincirnya matahari dan di mana arah kiblat, maka itu tidak termasuk ilmu perbintangan yang terlarang.” (Syarh As-Sunnah)

 

Perbedaan antara Astronomi dan Astrologi

Mungkin ada yang bertanya, “Memang apa bedanya astrologi dengan astronomi?”

Jelas beda.

Walaupun kedua-duanya sama-sama meneliti tentang posisi benda-benda di langit, tapi ada perbedaan mendasar yang memisahkan keduanya.

Astronomi itu dasarnya fakta-fakta ilmiah. Sedangkan astrologi itu dasarnya berbagai perkiraan atau mitos yang sulit diterima secara ilmiah.

Karena itu, jangan hubungkan bintang tertentu dengan jodoh seseorang, kelahiran seseorang, kematian seseorang, dan nasib seseorang!

Dan jangan hubungkan bintang tertentu dengan kemakmuran atau kehancuran yang ada di muka bumi!

Jangan percaya pada ilmu nujum. Jangan percaya pada astrologi. Jangan percaya pada sihir!

Nabi ﷺ bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ خَمْرٍ، وَقَاطِعُ رَحِمٍ، وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ.

“Ada 3 orang yang tidak akan masuk surga: pecandu minuman keras, pemutus silaturahim, dan orang yang percaya pada sihir.” (HR. Ahmad)

Entah itu Akuarius, Kaprikornus, Sagitarius, atau Taurus, yang penting, semua itu tidak berpengaruh sedikit pun pada kita.

Maka, jangan mau diperbudak oleh itu semua. Jadilah orang-orang yang merdeka!

 

Siberut, 10 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya