“Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabrani)
Demikianlah Rasulullah ﷺ bersabda. Beliau ﷺ mengingatkan siapa pun pria muslim agar tidak menyentuh lawan jenis yang bukan mahramnya.
Bukan cuma menyuruh umatnya untuk menjauhi demikian, beliau ﷺ pun telah mempraktekkan apa yang beliau sabdakan.
Suatu hari Umaimah binti Ruqayqah dan beberapa wanita Anshar melakukan baiat di hadapan Rasulullah ﷺ.
Setelah itu mereka berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ أَلَا تُصَافِحُنَا؟
“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjabat tangan kami?”
Beliau ﷺ menjawab:
إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ، إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ
“Aku tidak akan berjabat tangan dengan wanita. Sesungguhnya ucapanku untuk seratus wanita seperti ucapanku untuk seorang wanita.” (HR. Ahmad, An-Nasai dan lain-lain)
Dan ‘Aisyah juga telah mengabarkan:
وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ، غَيْرَ أَنَّهُ، يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلَامِ
“Demi Allah, tangan Rasulullah ﷺ tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau mengambil sumpah dari kaum wanita hanya dengan perkataan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lain-lain)
Mengapa Rasulullah ﷺ tidak mau menyentuh lawan jenis yang bukan mahramnya, bahkan memperingatkan umatnya agar tidak melakukannya?
Karena, berawal dari sentuhan, muncullah berbagai kerusakan dan kemaksiatan.
Mungkin ada yang ‘protes’ dengan berkata, “Bagaimana mungkin Rasulullah ﷺ melarang demikian, sedangkan beliau sendiri menyentuh tangan seorang budak perempuan dalam suatu hadis?”
Hadis yang dimaksud yaitu hadis Anas bin Malik di mana ia berkata:
إِنْ كَانَتِ الأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ المَدِينَةِ، لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ
“Ada seorang budak perempuan di Madinah ‘memegang tangan’ Rasulullah ﷺ lalu budak perempuan itu pergi dengan beliau ke mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Bukhari)
Betulkah hadis ini adalah dalil yang membolehkan menyentuh lawan jenis yang bukan mahram?
Jawaban:
- Kalau kita anggap hadis-hadis larangan menyentuh lawan jenis tadi bertentangan dengan hadis budak perempuan itu, maka….
Di antara kaidah ushul fikih yaitu:
إذا تعارض القول مع الفعل ولم يمكن الجمع بينهما فإن القول مقدم على الفعل
“Jika ucapan bertentangan dengan perbuatan, dan tidak mungkin dikompromikan, maka ucapan didahulukan daripada perbuatan.” (Min Ushul Al-Fiqh ‘Alaa Minhaj Ahli Al-Hadits)
Berdasarkan kaidah ushul fikih ini, hadis-hadis larangan menyentuh lawan jenis didahulukan daripada hadis budak perempuan itu.
Mengapa begitu?
Karena, hadis budak perempuan tadi hanya menunjukkan perbuatan Nabi ﷺ, sedangkan hadis-hadis larangan tadi menunjukkan perbuatan dan perkataan Nabi ﷺ.
Kalau hadis yang berupa ucapan Nabi ﷺ saja harus didahulukan daripada hadis yang berupa perbuatan Nabi ﷺ, maka bagaimana pula kalau hadis itu berupa ucapan sekaligus perbuatan Nabi ﷺ?!
Itu kalau kita anggap hadis-hadis larangan menyentuh lawan jenis tadi bertentangan dengan hadis budak perempuan itu. Namun, kenyataannya…
- Hadis-hadis larangan menyentuh lawan jenis tadi tidak bertentangan dengan hadis budak perempuan itu.
Mengapa begitu?
Karena, makna budak perempuan itu ‘memegang tangan’ Rasulullah ﷺ bukanlah artinya tangan budak perempuan itu menyentuh tangan Rasulullah ﷺ. Namun, artinya….
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
وَالْمَقْصُودُ مِنَ الْأَخْذِ بِالْيَدِ لَازِمُهُ وَهُوَ الرِّفْقُ وَالِانْقِيَادُ
“Maksud ‘memegang tangan’ yaitu konsekuensinya yakni bersikap santun dan menuruti.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Artinya, budak perempuan itu mengajukan permintaan kepada beliau ﷺ lalu beliau ﷺ pun menuruti permintaannya dengan santun.
Imam Al-Aini menjelaskan hadis tadi:
كَانَ خلق رَسُول الله ﷺ على هَذِه الْمرتبَة هُوَ أَنه لَو كَانَ لأمة حَاجَة إِلَى بعض مَوَاضِع الْمَدِينَة وتلتمس مِنْهُ مساعدتها فِي تِلْكَ الْحَاجة واحتاجت بِأَن يمشي مَعهَا لقضائها لما تخلف عَن ذَلِك حَتَّى يقْضِي حَاجَتهَا
“Akhlak Rasulullah ﷺ sampai tingkatan ini yaitu kalau ada budak perempuan yang butuh ke beberapa tempat di Madinah dan ia mencari pertolongan beliau ﷺ untuk itu dan ia juga perlu untuk berjalan bersama beliau untuk menunaikan kebutuhannya itu, maka beliau tidak akan meninggalkannya sampai ia menunaikan kebutuhannya.” (‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Artinya, hadis tadi adalah dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang rendah hati.
Beliau ﷺ adalah sosok yang terpandang dan terhormat di mata para pembesar Arab ketika itu. Namun, walaupun begitu, beliau ﷺ tetap mau meladeni permintaan ‘remeh’ dari seseorang yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan orang, yaitu seorang budak.
Karena itu, makna hadis tadi yaitu ada seorang budak perempuan di Madinah yang meminta tolong kepada Rasulullah ﷺ untuk mengantarkannya ke beberapa tempat di Madinah lalu beliau ﷺ pun dengan santun menuruti kemauannya.
Maka, jelaslah bahwa hadis budak perempuan itu bukanlah dalil yang menunjukkan bolehnya menyentuh lawan jenis yang bukan mahram.
Karena itu, terang dan gamblanglah bahwa menyentuh lawan jenis yang bukan mahram adalah perbuatan yang terlarang dalam Islam.
Siberut, 3 Shafar 1444
Abu Yahya Adiya






