Makin bersemangat seseorang memata-matai saudaranya seiman, maka makin bertumpuklah kesalahannya.
Makin bersemangat seseorang menjatuhkan saudaranya seiman, maka makin jatuhlah martabatnya.
Allah berfirman:
وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ
“Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir: 43)
Apa maksud ayat ini?
Imam Al-Baghawi menerangkan:
أَي لَا يرجع عَاقِبَة مَكْرهمْ إِلَّا عَلَيْهِم
“Yakni, akibat dari rencana jahat mereka tidaklah kembali kecuali kepada diri mereka sendiri.” (Syarh As-Sunnah)
Al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan menjelaskan:
أي لا تنزل عاقبة السوء إلا بمن أساء
“Yakni, akibat dari perbuatan buruk tidak akan menimpa kecuali orang yang berbuat buruk.” (Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran)
Dan serupa dengan itu, Muhammad bin Ka’b berkata:
ثَلاثٌ مَنْ فَعَلْهُنَّ لَمْ يَنْجُ حَتَّى يَنْزِلَ بِهِ مِنْ مَكْرٍ، أَوْ بَغْيٍ، أَوْ نَكَثٍ
“Tiga perkara yang jika seseorang melakukannya, maka ia tidak akan selamat sampai itu mengenai dirinya yakni makar, kezaliman, atau pelanggaran terhadap perjanjian.”
Lalu Muhammad bin Ka’b membaca ayat:
وَلا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلا بِأَهْلِهِ
“Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir: 43)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ
“Hai manusia! Sesungguhnya (bahaya) kezaliman kalian akan menimpa diri kalian sendiri.” (QS. Yunus: 23)
فمن نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ
“Maka siapa yang melanggar janji, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri.” (QS. Al-Fath: 10) (Tafsir Ibn Abi Hatim)
Dan serupa dengan itu, Nabi ﷺ bersabda:
فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
“Sesungguhnya siapa yang suka mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkar aibnya, walaupun ia ada di dalam tempat tinggalnya!” (HR. Tirmidzi)
Rencana jahat atau kezaliman apa pun yang dilakukan oleh seseorang terhadap saudaranya seiman, pasti akibatnya akan menimpa dirinya.
Mengapa demikian?
Allah tidak tidur.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ، يَرْفَعُ الْقِسْطَ وَيَخْفِضُهُ، وَيُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ النَّهَارِ بِاللَّيْلِ، وَعَمَلُ اللَّيْلِ بِالنَّهَار
“Sesungguhnya Allah tidak tidur dan Dia tidak akan tidur, Dia mengangkat dan menurunkan mizan, amal di siang hari diangkat kepadanya-Nya di malam hari, dan amal di malam hari diangkat kepada-Nya di siang hari.” (HR. Muslim)
Allah tidak akan mendiamkan kejahatan dan kezaliman.
Kalau pun akibat dari rencana jahat atau kezaliman itu tidak muncul sekarang, pasti akan terjadi di masa mendatang.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Sesungguhnya Allah menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Bila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya.”
Lalu beliau membaca ayat (QS. Hud: 102):
وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ القُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
“Dan begitulah azab Tuhanmu, bila Dia mengazab penduduk negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangatlah pedih dan keras.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siberut, 22 Rajab 1443
Abu Yahya Adiya






