Cara Meraih Manisnya Iman

Cara Meraih Manisnya Iman

Nabi ﷺ bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara yang bila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang dimaksud dengan manisnya iman?

Imam An-Nawawi berkata:

 قال العلماء: معنى حلاوة الإيمان استلذاذه الطاعات، وتحمله المشاق في رضى الله ورسوله، وإيثار ذلك على عرض الدنيا.

“Para ulama berkata bahwa makna manisnya iman yaitu merasakan lezatnya ketaatan dan menanggung kesusahan karena mencari keridaan Allah dan Rasul-Nya serta mendahulukan semua itu di atas kepentingan dunia.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Salah satu metode pengajaran Nabi ﷺ yaitu menyerupakan perkara yang abstrak dengan perkara yang konkret (yang bisa dilihat dan diraba) supaya bisa dicerna dan membekas dalam hati.

 

  1. Salah satu metode pengajaran Nabi ﷺ yaitu menyebutkan bilangan lalu rincian; supaya materi yang disampaikan membekas.

 

  1. Manisnya iman bisa diraih dengan memiliki 3 sifat tadi, yaitu:

Sifat pertama yakni mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan terhadap yang lain, baik itu keluarga maupun harta atau yang lainnya.

Sifat kedua yaitu mencintai karena Allah.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka telah sempurna imannya.” (HR. Abu Daud)

Dalam riwayat Tirmidzi dan Ahmad ada tambahan:

وَأَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى

“Dan menikahkan karena Allah.”

Para ulama terdahulu ada yang ditanya:

بما تنال المحبة؟

“Bagaimana cara meraih cinta?”

Maka ia menjawab:

بموالاة أولياء الله ومعاداة أعدائه

“Dengan membela wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya.” (Fathul Bari)

Sifat ketiga yaitu membenci kemusyrikan dan kekafiran sebagaimana benci dilemparkan ke dalam api neraka.

Ibnu Rajab berkata:

والمؤمن يحب الإيمان أشد من حب الماء البارد في شدة الحر للظمآن، ويكره الخروج منه أشد من كراهة التحريق بالنيران

“Seorang mukmin mencintai iman melebihi kecintaan seorang yang haus akan air dingin di musim yang sangat panas. Dan ia benci keluar dari iman melebihi kebencian dibakar dengan api.” (Fath Al-Bari)

 

  1. Larangan mencintai selain Allah dan Rasul-Nya dengan kecintaan yang melebihi kecintaan kepada keduanya.

 

  1. Tercelanya mencintai seseorang karena alasan duniawi.

 

  1. Orang yang sudah merasakan manisnya iman akan merasakan pahitnya kekufuran dan kemaksiatan.

Ibnu Rajab berkata:

فإذا وجد القلب حلاوة الإيمان أحس بمرارة الكفر والفسوق والعصيان

“Jika hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.” (Fath Al-Bari)

 

  1. Orang yang belum merasakan manisnya iman akan menganggap manis maksiat dan dosa.

 

  1. Keutamaan orang yang dipaksa melakukan perbuatan kufur lalu memilih bersabar dan tidak melakukannya.

Nabi palsu, Musailamah Al-Kadzdzab menangkap dua orang sahabat Nabi ﷺ. Ia berkata kepada salah satunya:

تشهد أني رسول اللَّه؟

“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”

Sahabat itu menjawab:

نعم

“Ya.”

Maka sahabat itu dibebaskan. Lalu Musailamah bertanya kepada sahabat yang lain:

تشهد أني رسول اللَّه؟

“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?”

Sahabat itu menjawab:

لا، بل أنت كذّاب

“Tidak. Bahkan engkau ini pendusta!”

Maka Musailamah pun membunuhnya.

Berita itu sampai kepada Nabi ﷺ, maka beliau pun bersabda:

أما الذي ترك، فأخذ بالرخصة فلا تبعة عليه، وأما الذي قتل فأخذ بالفضل فهنيئا له

“Adapun orang yang dibebaskan Musailamah, maka ia telah mengambil keringanan, karena itu tidak celaan atasnya. Sedangkan yang dibunuh oleh Musailamah, maka ia telah mengambil yang lebih utama, karena itu selamatlah untuknya.” (At-Tafsir Al-Kabir)

 

  1. Dosa menyebabkan terhalangnya seseorang dari merasakan manisnya iman.

Dzun Nun berkata:

كما لا يجد الجسد لذة الطعام عند سقمه كذلك لا يجد القلب حلاوة العبادة مع الذنوب

“Sebagaimana jasad tidak akan merasakan kelezatan makanan tatkala sakit, maka begitu pula hati tidak akan merasakan kelezatan ibadah tatkala ada dosa.” (Fathul Bari)

Wuhaib bin Al-Ward ditanya:

هل يجد طعم العبادة من يعصي الله؟

“Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah akan merasakan manisnya ibadah?”

Ia menjawab:

لا، ولا من هم بالمعصية.

“Tidak, dan tidak juga orang yang bertekad untuk bermaksiat.” (Fath Al-Bari)

 

  1. Iman itu bisa bertambah dan berkurang.

Siberut, 6 Dzulhijjah 1441

Abu  Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Ibnu Rajab.
  2. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi.
  3. At-Tafsir Al-Kabir karya Fakhruddin Ar-Razi.
  4. Dan lain-lain