Bagaimana Cara Mendapatkan Lailatul Qadr?
‘Aisyah berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ أَحْيَى اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجد وشَدَّ المِئْزَرَ
“Rasulullah ﷺ jika memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan kain beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa maksud menghidupkan malam di sini?
Imam An-Nawawi menjelaskan:
أي اسْتَغْرَقَهُ بِالسَّهَرِ فِي الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا
“Maksudnya beliau menghabiskan waktu malam dengan tidak tidur karena salat dan ibadah lainnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Apa maksud membangunkan keluarganya di sini?
Imam Al-‘Aini menjelaskan:
أَي: للصَّلَاة وَالْعِبَادَة
“Maksudnya membangunkan untuk salat dan ibadah.” (‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Apa maksud bersungguh-sungguh di sini?
Imam As-Suyuthi menjelaskan:
أَي اجْتهد فِي الْعِبَادَة زِيَادَة على الْعَادة
“Maksudnya bersungguh-sungguh dalam ibadah melebihi kebiasaan.” (Ad-Diibaaj ‘Ala Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Apa maksud mengencangkan kain di sini?
Imam Al-Khaththabi menjelaskan bahwa itu maksudnya:
أحدهما هجران النساء وترك غشيانهن
“Pertama: menjauhi istri dan tidak menggaulinya.
والآخر الجد والتشمير في العمل.
Kedua: bersungguh-sungguh dan giat dalam beramal. ” (Ma’alim As-Sunan)
Kabar dari ‘Aisyah ini serupa juga dengan kabar lain darinya:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Rasulullah ﷺ tidak pernah bersungguh-sungguh dalam beribadah seperti kesungguhan beliau dalam beribadah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Muslim)
Kenapa Nabi ﷺ bersungguh-sungguh dalam beribadah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau pada hari-hari yang lain?
Imam Ibnul Jauzi menjawab:
وَإِنَّمَا كَانَ يجْتَهد فِي الْعشْر لمعنيين:
“Sesungguhnya beliau bersungguh-sungguh di 10 hari terakhir karena dua tujuan:
أَحدهمَا: لرجاء لَيْلَة الْقدر
pertama: karena mengharap Lailatul Qadr.
وَالثَّانِي: لِأَنَّهُ آخر الْعَمَل، وَيَنْبَغِي أَن يحرص على تجويد الخاتمة.
dan yang kedua: karena itu adalah akhir amalan. Dan seharusnya beliau bersemangat dalam membaguskan akhir amalan.” (Kasyf Al-Musykil Min Hadits Ash-Shahihain)
Berarti, untuk mendapatkan Lailatul Qadr perlu bersungguh-sungguh dalam ‘memburu’nya dengan melakukan berbagai ibadah dan kebajikan.
Mungkin itulah hikmahnya kenapa Allah tidak menentukan secara pasti kapan Lailatul Qadr dan menyembunyikan pengetahuan tentang itu.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
قَالَ الْعُلَمَاءُ الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِيَحْصُلَ الِاجْتِهَادُ فِي الْتِمَاسِهَا بِخِلَافِ مَا لَوْ عُيِّنَتْ لَهَا لَيْلَةٌ لَاقْتُصِرَ عَلَيْهَا
“Para ulama menyebutkan hikmah dari disembunyikannya Lailatul Qadr yaitu agar sungguh-sungguh dalam mencarinya. Berbeda halnya kalau Lailatul Qadr itu sudah ditentukan waktunya, niscaya kesungguhan itu hanya pada malam itu saja.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Apakah Lailatul Qadr Hanya bagi yang Melihatnya?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
واعلم أيضاً أنه من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً نال أجرها سواء علم بها أو لم يعلم، حتى لو فرض أن الإنسان ما عرف أماراتها، أو لم ينبه لها بنوم أو غيره، ولكنه قامها إيماناً واحتساباً فإن الله تعلى يعطيه ما رتب على ذلك، وهو أن الله تعالى يغفر له ما تقدم من ذنبه ولو كان وحده.
“Ketahuilah juga bahwa siapa yang beribadah ketika Lailatul Qadr karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka ia akan mendapatkan pahala ibadah di malam tersebut, baik ia menyadari bahwa ketika itu Lailatul Qadr maupun tidak. Sampai kalaupun seseorang tidak mengetahui tanda-tanda Lailatul Qadr atau tidak memerhatikannya karena ketiduran atau selainnya, akan tetapi ia beribadah di malam itu karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka Allah akan memberinya balasan atas itu yaitu Allah akan mengampuni dosanya yang telah berlalu, walaupun ia sendiri.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin)
Jangan Lupa Doa
Syekh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid:
ويستحب الدعاء فيها والإكثار منه لا سيما بالدعاء الوارد في حديث عائشة
“Dianjurkan doa ketika Lailatul Qadr dan memperbanyak doa ketika itu, terutama doa yang berasal dari Nabi ﷺ sebagaimana disebutkan dalam hadis ‘Aisyah.” (Shahih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuh wa Taudhihi Madzahib Al-Aimmah)
Hadis tersebut yakni berikut ini:
‘Aisyah bertanya kepada Nabi ﷺ:
يا رسول الله، أرأيت إن علمت ليلة القدر ما أقول فيها؟
“Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui Lailatul Qadr, maka beritahukanlah kepadaku apa yang harus kuucapkan?”
Beliau ﷺ bersabda:
قولي:
“Ucapkan:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
“Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Inilah doa yang sangat baik. Sebab….
Doa itu untuk waktu terbaik, yakni Lailatul Qadr.
Doa itu diajarkan oleh manusia terbaik, yakni Nabi ﷺ.
Doa itu diajarkan kepada wanita terbaik, yang paling dicintai Nabi, yakni ‘Aisyah.
Seorang suami yang sangat mencintai istrinya, tentu akan memberikan hadiah terbaik kepada istrinya. Berarti, doa tadi adalah doa terbaik yang hendaknya kita amalkan dan kita praktekkan, terutama di waktu-waktu berharga saat ini.
Nasehat Penutup
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
إن الواجب على المؤمن أن يقدر أنفاس عمره
“Sesungguhnya yang wajib atas seorang mukmin yaitu memerhatikan usia dirinya.
وأن يعرف أن كل نفس تنفسه لن يعود إليه مرة أخرى، وأن كل يوم مضى من حياته لن يعود إليه مرة أخرى، وأن كل لحظة، وكل ساعة، وكل يوم، وكل شهر يقربه من الآخرة، ويبعده من الدنيا
Hendaknya ia menyadari bahwa setiap nafas yang ia hirup tidak akan kembali lagi kepadanya. Dan setiap hari yang berlalu dalam hidupnya tidak akan kembali lagi kepadanya. Setiap saat, setiap jam, setiap hari, dan setiap bulan akan mendekatkan dirinya pada akhirat dan menjauhkannya dari dunia.
لذلك يجب أن نستقبل هذه العشر الأخيرة بالعزيمة الصادقة، والجد والاجتهاد،
Karena itu, kita wajib menghadapi 10 hari terakhir Ramadhan ini dengan tekad yang kuat dan kesungguhan serta semangat.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin)
Padang, 21 Ramadhan 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari_ karya Al-Hafizh Ibnu Hajar.
- Kasyf Al-Musykil Min Hadits Ash-Shahihain karya Imam Ibnul Jauzi.
- Majmu‘ Fatawa wa Rasail Al-‘Utsaimin karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Nail Al-Authar karya Imam Asy-Syaukani.
- Syarh Shahih Muslim karya Syekh Syekh Hasan Abu Al-Asybal
- Dan lain-lain






