Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa yang dimaksud dengan tidak beriman di sini?
Imam Al-‘Aini berkata:
قَوْله: (لَا يُؤمن) أَي:إِيمَانًا كَامِلا،
“Sabda beliau: ‘Tidak beriman‘ maksudnya iman yang sempurna.” (‘Umdah Al-Qari)
Kenapa yang disebutkan dalam hadis ini orang tua dan anak?
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
وَذِكْرُ الْوَلَدِ وَالْوَالِدِ أَدْخَلُ فِي الْمَعْنَى لِأَنَّهُمَا أَعَزُّ عَلَى الْعَاقِلِ مِنَ الْأَهْلِ وَالْمَالِ بَلْ رُبَّمَا يَكُونَانِ أَعَزَّ مِنْ نَفْسِهِ
“Disebutkannya anak dan orang tua sangat membekas maknanya. Sebab, keduanya lebih berharga bagi orang yang berakal daripada keluarga dan harta. Bahkan, bisa jadi keduanya lebih berharga daripada dirinya sendiri.” (Fath Al-Bari)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Wajib mencintai Rasul ﷺ melebihi cinta kepada orang tua dan anak bahkan seluruh manusia.
‘Umar bin Al-Khaththab berkata kepada Rasulullah ﷺ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي
“Wahai Rasulullah, sungguh, engkau lebih kucintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ
“Tidak, demi Zat yang jiwa-Ku berada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”
Maka ‘Umar pun berkata:
فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي
“Sungguh, demi Allah, engkau sekarang benar-benar lebih kucintai daripada diriku sendiri.”
Maka beliau ﷺ pun bersabda:
الآنَ يَا عُمَرُ
“Sekarang baru, wahai ‘Umar.” (HR. Bukhari)
Karena itu, wajib mendahulukan kecintaan kepada Rasul ﷺ daripada kecintaan kepada jiwa, harta, keluarga, anak-anak dan semacamnya.
Kenapa cinta kepada Rasul ﷺ harus lebih tinggi daripada cinta kepada selainnya?
Ibnu Bathal berkata:
أن من استكمل الإيمان علم أن حق الرسول وفضله آكد عليه من حق أبيه وابنه والناس أجمعين، لأن بالرسول استنقذ الله أُمته من النار وهداهم من الضلال
“Siapa yang sempurna imannya tentu tahu bahwa hak Rasul dan keutamaannya lebih besar daripada hak orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia. Sebab, melalui Rasul Allah selamatkan umatnya dari neraka dan memberi hidayah kepada mereka supaya tidak tersesat.” (Syarh Shahih Bukhari)
Melalui Nabi, Allah selamatkan hamba-hamba-Nya dari api neraka.
Bukankah sosok seperti ini lebih berhak dicintai daripada orang tua, anak dan semacamnya?
Ya, tentu saja beliau lebih berhak dicintai. Sebab, beliau lebih terhormat dan lebih mulia daripada orang tua kita.
Beliau lebih berhak dicintai. Sebab, beliau lebih pantas mendapat kasih sayang daripada anak kita.
Dan beliau lebih berhak dicintai. Sebab, beliau lebih banyak jasanya daripada teman kita.
- Cinta itu termasuk iman.
- Iman itu bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana halnya cinta bisa bertambah dan berkurang.
Dan itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Siberut, 5 Dzulhijjah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- ‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-‘Aini.
- Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Ibnu Baththal.






