Dua Amalan Ringan tapi Berpahala Besar

Dua Amalan Ringan tapi Berpahala Besar

Ada dua amalan yang ringan mengerjakannya, tapi besar pahalanya.

Nabi ﷺ bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ أَعْمَالُ أُمَّتِي حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا، فَوَجَدْتُ فِي مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الْأَذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّرِيقِ، وَوَجَدْتُ فِي مَسَاوِي أَعْمَالِهَا النُّخَاعَةَ تَكُونُ فِي الْمَسْجِدِ، لَا تُدْفَنُ

“Ditampakkan kepadaku amalan-amalan umatku, yang baik dan yang buruk. Maka kudapati yang termasuk amalan yang baik adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan kudapati yang termasuk amalan yang buruk adalah tidak mengubur dahak yang ada di dalam masjid.” (HR. Muslim)

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. Keutamaan menyingkirkan gangguan di jalan. Sebab, Nabi ﷺ menganggap itu sebagai amalan baik.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Menyingkirkan gangguan di jalan adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Ya, sedekah. Sedekah dari kita. Sebagai tabungan pahala kita.

Dan gangguan di sini bisa berupa batu, duri, pohon yang jatuh, hewan, atau segala sesuatu yang menghalangi orang-orang untuk melewati jalan.

Siapa yang menyingkirkan semua gangguan tadi, maka ia telah bersedekah dan meraup pahala.

Dan siapa yang mengerjakan perbuatan tadi, maka ia telah melakukan amal saleh yang tidak bisa dianggap remeh.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ

“Sungguh, aku melihat seseorang berpindah-pindah di surga disebabkan pohon yang ia potong dari jalanan karena mengganggu orang-orang.” (HR. Muslim)

 

  1. Larangan mengotori masjid, entah dengan membuang dahak, ingus, ludah, sampah, dan semacamnya. Sebab, Nabi ﷺ menganggap itu sebagai amalan buruk.

 

  1. Keutamaan membersihkan masjid.

Kalau mengotori masjid adalah amal buruk dan berdosa, maka sebaliknya, membersihkan masjid adalah amal saleh yang berpahala.

Ada seorang wanita hitam yang biasa membersihkan masjid.

Suatu hari Nabi ﷺ tidak melihatnya lagi. Beliau bertanya kepada para sahabatnya tentang wanita tersebut, maka mereka pun menjawab:

مَاتَ

“Ia telah meninggal dunia.”

Beliau ﷺ pun bersabda:

أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي

“Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?”

Para sahabat ketika itu menganggap biasa kematian wanita itu. Berbeda halnya dengan Nabi ﷺ. Beliau ﷺ menganggap besar kematiannya.

Beliau ﷺ pun bersabda:

دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ

“Tunjukkan kepadaku kuburnya!”

Abu Hurairah berkata:

فَدَلُّوهُ، فَصَلَّى عَلَيْهَا

“Para sahabat menunjukkan kepada beliau kuburnya, kemudian beliau pun menyalatinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, Nabi ﷺ sampai menyalati wanita yang tidak terpandang di masyarakat ketika itu.

Walaupun sudah di dalam kubur, beliau ﷺ tetap menyalati jenazah wanita itu.

Memang apa keistimewaan wanita itu sehingga Nabi ﷺ merasa kehilangan dirinya?

Memang apa kelebihan wanita itu sehingga Nabi ﷺ tetap menyalatkannya walaupun ia telah di dalam kubur?

Keistimewaannya yaitu karena ia adalah orang yang menjaga kebersihan masjid!

 

Siberut, 29 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya