Keadaan menjadi genting. Orang-orang mengangkat ‘Abdullah bin Muthi’ sebagai pemimpin, dan tidak mengakui kepemimpinan Yazid bin Mu’awiyah. Mereka menyatakan pembangkangan dan perlawanan terhadapnya.
Maka, Ibnu ‘Umar mendatangi ‘Abdullah bin Muthi’. Melihat kedatangan Ibnu ‘Umar, ‘Abdullah bin Muthi’ berkata kepada orang-orang di sekitarnya:
اطْرَحُوا لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ وِسَادَةً
“Hamparkanlah bantal untuk Abu ‘Abdirrahman (Ibnu ‘Umar)!”
Namun, Ibnu ‘Umar berkata:
إِنِّي لَمْ آتِكَ لِأَجْلِسَ، أَتَيْتُكَ لِأُحَدِّثَكَ حَدِيثًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ:
“Sesungguhnya aku tidak datang kepadamu untuk duduk. Aku datang kepadamu untuk menyampaikan kepadamu perkataan yang kudengar Rasulullah ﷺ mengucapkannya. Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ، لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapa yang mencabut tangan dari menaati imam (tidak mau taat kepadanya), maka akan bertemu Allah di hari kiamat nanti dalam keadaan tidak punya alasan. Dan siapa yang mati sedangkan di lehernya tidak ada ikatan baiat, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah.” (HR. Muslim)
Apa makna hadis ini?
Syekhul Islam berkata:
فَعُلِمَ أَنَّ هَذَا الْحَدِيثَ دَلَّ عَلَى مَا دَلَّ عَلَيْهِ سَائِرُ الْأَحَادِيثِ الْآتِيَةِ مِنْ أَنَّهُ لَا يَخْرُجُ عَلَى وُلَاةِ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ بِالسَّيْفِ، وَأَنَّ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُطِيعًا لِوُلَاةِ الْأُمُورِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً، وَهَذَا ضِدُّ قَوْلِ الرَّافِضَةِ، فَإِنَّهُمْ أَعْظَمُ النَّاسِ مُخَالَفَةً لِوُلَاةِ الْأُمُورِ، وَأَبْعَدُ النَّاسِ عَنْ طَاعَتِهِمْ إِلَّا كُرْهًا.
“Maka, diketahui bahwa hadis ini menunjukkan apa yang telah ditunjuk oleh hadis-hadis tadi yaitu tidak boleh memberontak kepada pemerintah kaum muslimin, dan bahwa siapa yang tidak menaati pemerintah, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah. Ini berbeda dengan pendapat Syiah Rafidhah. Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling parah dalam menyalahi pemerintah dan paling jauh dari menaati pemerintah kecuali terpaksa.” (Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah)
Lihatlah, mereka adalah orang-orang yang paling parah dalam menyalahi pemerintah dan paling jauh dari menaati pemerintah kecuali terpaksa!
Itulah keadaan Syiah Rafidhah. Mereka tidak mau menaati pemimpin yang bukan dari golongan mereka. Mereka akan melawan dan berusaha untuk menjatuhkannya.
Tengok saja apa sikap mereka terhadap Yazid bin Mu’awiyah tatkala ia menjadi khalifah. Apakah mereka menaatinya dan mengakui kepemimpinannya?
Dan tengok juga sikap mereka terhadap para khalifah dinasti Umayyah sepeninggal Yazid bin Mu’awiyah. Apakah mereka menaati para khalifah itu dan mengakui kepemimpinan mereka?
Dan tengok juga bagaimana sikap mereka terhadap para khalifah dinasti ‘Abbasiyyah?
Bukankah yang menggiring pasukan Tartar untuk membantai Khalifah Al-Musta’shim Billah, keluarganya, dan pasukan pengawalnya, serta memusnahkan dinasti ‘Abbasiyyah adalah sang perdana menteri yang notebene seorang Syiah?
Mereka tidak akan mau menaati pemimpin yang bukan dari golongan mereka. Mereka akan melawan dan berusaha untuk menjatuhkannya.
Ya, melawan dan berusaha menjatuhkannya. Bagaimana tidak melawan dan menjatuhkannya, orang selain mereka adalah kafir bagi mereka!
Husain Al-Usfur Al-Bahrani, ulama Syiah abad ke-13 H berkata:
بل أخبارهم عليهم السلام تنادي بأن الناصب هو ما يقال له عندهم سنيا.
“Bahkan kabar-kabar dari para imam-semoga salam tercurah kepada mereka-menyerukan bahwa yang dimaksud dengan seorang Nashibah adalah yang dikenal oleh kalangan mereka sebagai sunni (Ahlussunnah).” (Al-Mahasin An-Nafsaniyyah Fii Ajwibah Al-Masail Al-Hurrasaniyah)
Ahlussunnah diberi label Nashibah (penentang) oleh Syiah.
Lalu apa konsekuensinya kalau seseorang divonis sebagai Nashibah (penentang)?
As-Sayyid Al-Khauni, ulama Syiah abad 14 H berkata:
والأظهر أن الناصب في حكم الكافر ون كان مظهرا للشهادتين والاعتقاد بالمعاد.
“Pendapat yang paling jelas yaitu bahwa seorang Nashibah adalah berstatus kafir, walaupun ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengimani hari akhir.” (Al-Masail Al-Muntakhobah)
Maka, jangan sampai kita tertipu melihat dekatnya orang-orang Syiah dengan pemerintah.
Kalau pun saat ini mereka terlihat taat dan tidak melawan pemimpin, maka itu bukan karena mereka mengakui kepemimpinannya, akan tetapi karena mereka terpaksa dan tidak sanggup menjatuhkannya!
Siberut, 1 Rabi’ul Tsani 1444
Abu Yahya Adiya






