Kekalahan dalam perang Uhud menyisakan sakit dan kesedihan bagi kaum muslimin.
Allah mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan musibah yang menimpa mereka, maka Allah pun menghibur mereka.
Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan apa yang menimpa kalian ketika terjadi pertemuan antara dua pasukan itu adalah dengan izin Allah, dan agar Allah menguji siapa orang-orang yang beriman.
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَاتَّبَعْنَاكُمْ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْإِيمَانِ يَقُولُونَ بِأَفْوَاهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ
dan untuk menguji orang-orang munafik. Kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian)’. Mereka berkata, ‘Seandainya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian’. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak sesuai dengan isi hati mereka. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمُ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
(Mereka adalah) orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara mereka dan mereka tidak ikut berperang, ‘Seandainya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.’ Katakanlah, ‘Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian memang benar.’ (QS. Ali- Imran: 166-168)
ketika terjadi pertemuan antara dua pasukan yaitu ketika perang Uhud.
atau pertahankanlah (diri kalian) artinya:
ادفعوا العدو عن دياركم وأهليكم وأولادكم، إن لم تريدوا ثواب الأخرة.
“Halaulah musuh dari negeri kalian, keluarga kalian dan anak-anak kalian, jika memang kalian tidak menginginkan balasan akhirat.” (Aisar At-Tafaasiir Likalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir)
Mengapa mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan?
لأنهم يقولون بأفواههم ما ليس في قلوبهم
“Sebab, mereka mengatakan dengan mulut mereka apa yang tidak sesuai dengan isi hati mereka.” (At-Tafsiir Al-Muyassar)
saudara-saudara mereka yaitu dalam kemunafikan.
Tolaklah kematian itu dari diri kalian, jika kalian memang benar artinya jika memang kalian menganggap bahwa dengan tidak ikut perang akan selamat dari kematian…
Jika memang sangkaan seperti itu kalian anggap benar, maka tolaklah kematian itu dari kalian! Dan tentu saja itu mustahil kalian lakukan.
Faidah yang bisa kita petik dari ayat-ayat tadi:
- Segala yang terjadi di muka bumi adalah takdir dan ketetapan dari Allah.
- Di antara faidah dari musibah yaitu menguji keimanan yang ada dalam hati.
- Segala ketetapan Allah ada sebabnya, ada tujuannya dan ada hikmahnya.
- Di antara sifat khas orang munafik adalah dusta.
- Keadaan manusia bisa berubah-ubah. Pada suatu waktu bisa jadi keadaannya lebih dekat pada kekafiran dan pada waktu yang lain keadaannya bisa jadi lebih dekat pada keimanan.
- Allah Maha Mengetahui segala isi hati hamba-Nya, tanpa terkecuali.
- Ucapan “seandainya” dan “kalau saja” ketika tertimpa musibah adalah ucapan yang tidak bermanfaat sama sekali.
- Larangan mengucapkan “seandainya” dan “kalau saja” ketika terjadi musibah dan perkara menyakitkan. Sebab, kata itu menunjukkan sikap tidak rida terhadap takdir Allah dan membangkitkan kesedihan dalam hati.
Adapun kalau seseorang mengucapkan “seandainya” dan “kalau saja” karena menyesali ketaatan yang luput dari dirinya, maka itu boleh. Sebab, itu menunjukkan antusiasmenya terhadap kebaikan.
- Wajibnya menerima takdir Allah dengan lapang dada.
- Sehebat apapun makhluk, tetap saja tidak bisa menolak kematian.
- Disyariatkan membantah orang-orang munafik dan orang menyimpang lainnya untuk meruntuhkan kesesatan mereka.
Siberut, 2 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Aisar At-Tafaasiir Likalaam Al-‘Aliyy Al-Kabiir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
- 2. Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Mahasin At-Ta’wiil karya Syekh Jamaluddin Al-Qasimi.






