Ketika perang Uhud, kaum musyrikin bisa mengalahkan kaum muslimin, sehingga banyak jatuh korban di antara mereka. Bahkan, sampai terlukalah nabi mereka.
Itu kenyataan pahit yang bukan cuma dirasakan oleh para sahabat nabi saja, tapi juga dirasakan oleh beberapa orang munafik yang ikut bergabung dalam barisan kaum muslimin.
Lantas, apa reaksi orang-orang munafik setelah mengalami kenyataan pahit itu?
Allah menceritakan keadaan mereka:
يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
“Mereka berkata, ‘Seandainya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh di sini.’ Katakanlah, ‘Meskipun kalian ada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian, dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS. Ali-‘Imran: 154)
Seandainya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh di sini artinya seandainya kami mau berpikir, tentu kami tidak akan berperang bersama Muhammad dan para sahabatnya, sehingga akhirnya terbunuhlah pemimpin-pemimpin kami.
Allah pun membantah ucapan mereka:
Katakanlah, “Meskipun kalian ada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh artinya kalau Allah menakdirkan seseorang mati, maka pasti orang itu akan pergi ke tempat kematiannya. Ketidakikutsertaan mereka dalam perang tidak akan bermanfaat bagi mereka.
Lalu Allah menyebutkan hikmah dari kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud:
Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian, dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian artinya Allah memberikan musibah tadi untuk menguji siapa yang sungguh-sungguh beriman di antara kalian dan siapa yang berpura-pura.
Faidah yang bisa kita petik dari ayat tadi:
- Ucapan “seandainya” dan “kalau saja” ketika tertimpa musibah adalah ucapan yang tidak bermanfaat sama sekali.
- Larangan mengucapkan “seandainya” dan “kalau saja” ketika terjadi musibah dan perkara menyakitkan. Sebab, kata itu menunjukkan sikap tidak rida terhadap takdir Allah dan membangkitkan kesedihan dalam hati.
Adapun kalau seseorang mengucapkan “seandainya” dan “kalau saja” karena menyesali ketaatan yang luput dari dirinya, maka itu boleh. Sebab, itu menunjukkan antusiasmenya terhadap kebaikan.
Seperti perkataan seseorang, “Seandainya saja waktu muda dulu aku rajin belajar agama, tentu aku tidak bodoh seperti sekarang ini.”
Atau seperti perkataan seseorang “Kalau saja tahun-tahun lalu aku rutin melaksanakan salat malam, tentu sekarang aku sudah terbiasa melaksanakannya.”
- Wajibnya menerima takdir Allah dengan lapang dada.
- Siapa yang Allah takdirkan mati di suatu tempat, maka ia mesti pergi ke tempat itu, walaupun ia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak pergi ke tempat itu.
- Di antara faidah dari musibah yaitu menguji keimanan yang ada dalam hati.
- Segala ketetapan Allah ada sebabnya, ada tujuannya dan ada hikmahnya.
- Allah Maha Mengetahui segala isi hati hamba-Nya, tanpa terkecuali.
Siberut, 1 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber: Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.






