“Alangkah mulianya dirimu dan alangkah agungnya kehormatanmu. Namun, seorang mukmin lebih terhormat di sisi Allah daripada dirimu!” (HR. Tirmiżī)
Itulah perkataan yang meluncur dari lisan ’Abdullāh bin ’Umar ketika ia memandang Ka’bah.
Tidak diragukan lagi bahwa Ka’bah memiliki kedudukan yang agung dan mulia di sisi Allah, karena itu adalah rumah-Nya. Walaupun begitu, kehormatan hamba-Nya ternyata lebih agung kedudukannya daripada rumah-Nya!
Kalau memang kehormatan seorang muslim begitu agung di sisi-Nya, maka sudah seharusnya kita menjaganya. Siapa yang menjaganya, niscaya Allah memberinya ganjaran yang besar di sisi-Nya.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Siapa yang menjaga kehormatan saudaranya, maka Allah menjaga wajahnya dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Tirmiżī)
Siapa di antara kita yang tidak ingin selamat dari neraka? Apakah kita tidak ingin selamat dari neraka? Kalau ada yang tidak ingin selamat dari neraka, maka silakan ia menjatuhkan kehormatan saudaranya.
Nabi ﷺ bersabda:
مَن أَكَل بِمُسْلمٍ أُكْلَةً فإنَّ اللَّهَ يُطْعِمُهُ مثلَهَا مِنْ جَهَنَّمَ ومَن كُسِى بِرَجُلٍ مُسلم فَإِنَّ اللَّهَ عز وجل يَكْسُوه مِن جَهنَّم
“Siapa yang makan dari hasil menjatuhkan seorang muslim, maka Allah akan memberinya makanan dengan makanan seperti itu dari neraka Jahannam. Dan siapa yang mendapatkan pakaian dari hasil menjatuhkan seorang muslim, maka Allah akan memberinya pakaian dari neraka Jahannam.” (HR. Bukhārī dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Siapa yang menjatuhkan seorang muslim kemudian mendapatkan harta dari demikian, lalu ia membelikan makanan dengan harta tersebut, maka makanan itu akan menjadi api yang kelak membakar tubuhnya di neraka.
Dan siapa yang menjatuhkan seorang muslim kemudian mendapatkan harta dari demikian, lalu ia membelikan pakaian dengan harta tersebut, maka pakaian tersebut akan menjadi api yang kelak membakar tubuhnya di neraka.
Siapa pun yang mendapatkan keuntungan dari kejatuhan seorang muslim, sesungguhnya ia sedang menanam benih kesengsaraan. Di dunia ia tidak bahagia, dan di akhirat ia akan menderita karena dibakar api neraka.
Siberut, 29 Jumādā Aṡ-Ṡāniyah 1447
Abu Yahya Adiya






