Apa itu iktikaf? Apa hukumnya? Berapa lamanya? Apakah kaum wanita boleh melaksanakannya? Apakah disyaratkan berpuasa untuk melaksanakannya?
Berikut ini pembahasannya:
1. Apa itu iktikaf?
Imam An-Nawawi berkata:
أصل الاعتكاف في اللغة اللبث والحبس وَالْمُلَازَمَةُ…. وَالِاعْتِكَافُ فِي الشَّرْعِ هُوَ اللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ مِنْ شخص مخصوص بنية
“Iktikaf secara bahasa yaitu tinggal, bertahan, dan menetapi….Sedangkan dalam syariat, iktikaf yaitu tinggal di dalam masjid yang dilakukan oleh orang tertentu dengan niat.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)
2. Apa hukum iktikaf?
Imam An-Nawawi berkata:
وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ وَعَلَى أَنَّهُ مُتَأَكِّدٌ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Kaum muslimin telah sepakat tentang dianjurkannya iktikaf dan bahwasanya itu tidak wajib serta itu ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Apa hukum iktikaf bisa berubah menjadi wajib?
Imam An-Nawawi berkata:
وَلَا يَجِبُ إلَّا بِالنَّذْرِ بِالْإِجْمَاعِ
“Iktikaf tidak wajib kecuali dengan sebab nazar berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)
Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:
فالإنسان إذا أوجبه على نفسه بنذر فإنه يلزمه ويجب عليه أن يفي بنذره؛ لقوله صلى الله عليه وسلم:
“Seseorang jika mewajibkan iktikaf atas dirinya sendiri melalui nazar, maka itu menjadi kewajiban baginya dan ia harus menunarkan nazarnya itu. Sebagaimana sabdanya ﷺ:
من نذر أن يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصي الله فلا يعصه
“Siapa yang bernazar untuk menaati Allah, maka hendaknya ia menaati-Nya. Dan siapa yang bernazar untuk mendurhakai Allah, maka janganlah ia mendurhakai-Nya.” (Syarh Sunan Abu Daud)
3. Apakah iktikaf bisa dilaksanakan di selain masjid?
‘Aisyah berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ
“Nabi ﷺ jika melaksanakan iktikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku pun menyisirnya sedangkan aku dalam keadaan haid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ jika melaksanakan iktikaf maksudnya di masjid, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain.
Aku pun menyisirnya maksudnya dari kamar ‘Aisyah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain. Dan kamar ‘Aisyah berada di samping masjid. Berbatasan dengan masjid.
Hadis ini menunjukkan bahwa iktikaf hanya boleh dilaksanakan di masjid.
Seandainya iktikaf boleh di rumah, tentu itu sudah dipraktekkan oleh Nabi ﷺ. Dan tentu beliau tak perlu repot-repot menjulurkan kepala beliau dari masjid kepada ‘Aisyah yang ada di rumahnya.
Imam An-Nawawi berkata:
فَلَوْ جَازَ فِي الْبَيْتِ لفعلوه ولو مرة لاسيما النِّسَاءُ لِأَنَّ حَاجَتَهُنَّ إِلَيْهِ فِي الْبُيُوتِ أَكْثَرُ
“Kalau memang iktikaf itu diperbolehkan di rumah, tentu mereka semua akan melakukannya, walaupun cuma sekali. Apalagi kaum wanita. Sebab, kebutuhan mereka untuk iktikaf di rumah lebih banyak.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Berarti, iktikaf hanya sah bila dikerjakan di masjid, baik yang melakukannya kaum pria maupun wanita. Dan itulah pendapat mayoritas ulama.
4. Apakah wanita boleh melaksanakan iktikaf?
‘Aisyah mengabarkan:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ «كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Nabi ﷺ melaksanakan itikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Lalu istri-istri beliau pun melaksanakan itikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bolehnya kaum wanita melakukan iktikaf . sebagaimana yang telah dipraktekkan istri-istri Nabi sepeninggal beliau.
Kaum wanita diperbolehkan dan dipersilahkan melaksanakan iktikaf, tapi….
Ada syaratnya. Apa itu?
Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:
ويدل على اعتكاف النساء في المساجد إذا أمن عليهن من أي محذور بسبب المكوث في المسجد والبقاء فيه، ولكن ذلك يكون بإذن أزواجهن؛ لأن الاعتكاف تطوع ومستحب، فلا تفعله المرأة إلا بإذن زوجها
“Hadis ini menunjukkan bolehnya kaum wanita iktikaf di masjid-masjid jika memang keberadaan mereka di dalamnya aman dari perkara yang dikhawatirkan. Namun, itu harus dengan izin dari suami mereka. Sebab, iktikaf adalah amalan yang dianjurkan dan tidak diwajibkan. Karena itu, seorang wanita tidak boleh melakukannya kecuali dengan izin suaminya.” (Syarh Sunan Abu Daud)
5. Apakah disyaratkan harus berpuasa untuk melaksanakan iktikaf?
‘Umar bin Al-Khaththab berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي المَسْجِدِ الحَرَامِ
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku pernah bernazar di masa jahiliah untuk melaksanakan iktikaf satu malam di Masjidil Haram.”
Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya:
أَوْفِ نَذْرَكَ
“Tunaikanlah nazarmu itu!”
Lalu ‘Umar pun melaksanakan iktikaf selama satu malam. (HR. Bukhari)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
قَوْلُهُ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً اسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَازِ الِاعْتِكَافِ بِغَيْرِ صَوْمٍ لِأَنَّ اللَّيْلَ لَيْسَ ظَرْفًا لِلصَّوْمِ فَلَوْ كَانَ شَرْطًا لِأَمَرَهُ النَّبِيُّ ﷺ بِهِ
“Perkataan ‘Umar untuk melaksanakan iktikaf satu malam dijadikan dalil yang menunjukkan bolehnya iktikaf tanpa puasa. Sebab, malam itu bukan waktunya puasa. Kalau memang puasa adalah syarat iktikaf, tentu Nabi ﷺ akan memerintahkannya.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Imam An-Nawawi berkata:
وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَأَصْحَابِهِ وَمُوَافِقِيهِمْ أَنَّ الصَّوْمَ لَيْسَ بِشَرْطٍ لِصِحَّةِ الِاعْتِكَافِ بَلْ يَصِحُّ اعْتِكَافُ الْفِطْر
“Pendapat Asy-Syafi’i dan para sahabatnya serta orang-orang yang menyetujui mereka yaitu bahwa puasa bukanlah syarat sah iktikaf. Bahkan, iktikaf sah dalam keadaan tidak berpuasa.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Kalau begitu, seseorang boleh melaksanakan iktikaf dalam keadaan tidak berpuasa. Itu tidak mengapa dan tidak wajib, tapi….
Kalau seseorang mau melaksanakan iktikaf dalam keadaan berpuasa, itu pun tidak mengapa. Bahkan itu lebih banyak pahalanya.
Syekh ‘Athiyyah Salim berkata:
ولهذا فإن الصحيح الراجح أن الاعتكاف يصح بدون صوم، ولكن كما قال الشافعي: الأفضل أن يكون المعتكف صائماً؛ لأنه أدعى إلى خلو نفسه وإلى صفاء روحه، والصوم يساعده على العبادة أكثر.
“Karena itu, pendapat yang benar dan kuat adalah sahnya iktikaf tanpa berpuasa. Namun, sebagaimana dikatakan Asy-Syafi’I bahwa yang lebih utama bagi orang yang melaksanakan iktikaf hendaknya ia berpuasa. Sebab, itu lebih mendorong pada kesunyian jiwanya dan kesucian rohnya. Puasa itu membantunya untuk melakukan lebih banyak ibadah.” (Syarh Bulughul Maram)
6. Berapa batasan waktu minimal untuk melaksanakan iktikaf?
Imam An-Nawawi berkata:
يَنْبَغِي لِلْجَالِسِ فِي الْمَسْجِدِ لِانْتِظَارِ صَلَاةٍ أَوْ اشْتِغَالٍ بِعِلْمِ أَوْ لِشُغْلٍ آخَرَ أَوْ لِغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ طَاعَةٍ وَمُبَاحٍ أَنْ يَنْوِيَ الِاعْتِكَافَ فَإِنَّهُ يَصِحُّ عِنْدَنَا وَإِنْ قَلَّ زَمَانُهُ:
“Orang yang duduk di masjid untuk menunggu salat atau sibuk dengan ilmu atau karena kesibukan lain atau karena ketaatan dan perkara mubah yang lain hendaknya berniat untuk iktikaf. Sesungguhnya itu sah menurut kami, walaupun sebentar waktunya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)
Maka, tak ada batasan waktu minimal untuk melakukan iktikaf. Dan itulah pendapat mayoritas ulama.
(bersambung)
Siberut, 18 Ramadhan 1442
Abu Yahya Adiya






