Kepada Siapa Kita Berharap?

Kepada Siapa Kita Berharap?

“Dan jika Allah menampakkan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-An’ām: 17)

Kalau memang Dialah yang memberikan bencana kepadamu, dan Dia juga yang menghilangkan bencana dari dirimu, maka kepada siapa engkau mengadukan Tuhanmu?!

“Wahai fulan, engkau mengadukan Tuhan yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu?!” (Siyār A’lām An-Nubalā’)

Itulah perkataan Fudhail bin ‘Iyādh kepada seseorang yang berkeluh kesah, mengeluhkan musibah yang menimpa dirinya kepada orang lain.

Syekh Muhammad bin Sāleh Al-‘Utsaimīn berkata:

لأنك إذا علمت أن الذي أصابك بالضر هو الله فلا بد أن تصبر؛ لأنك عبده، يفعل بك ما شاء

“Jika engkau tahu bahwa yang memberikan bencana kepadamu adalah Allah, maka engkau mesti bersabar. Sebab, engkau adalah hamba-Nya. Dia bebas memperlakukan dirimu dengan apa pun yang Dia kehendaki.” (Tafsīr Al-Qur’ān Al-Karīm Sūrah Al-Anām)

Kalau memang Dialah yang memberikan bencana kepadamu, dan Dia juga yang menghilangkan bencana dari dirimu, maka kepada siapa engkau berharap dalam segala urusanmu?

Syekh Muhammad bin Sāleh Al-‘Utsaimīn berkata:

أنه ينبغي للإنسان أن يعلق رجاءه بالله عز وجل؛ لأنه إذا علم مضمون هذه الآية فسوف يعتمد في أموره كلها على الله عز وجل.

“Sepantasnya bagi seseorang menggantungkan harapannya kepada Allah. Sebab, jika ia tahu kandungan ayat ini, kelak ia bergantung dalam segala urusannya kepada Allah.” (Tafsīr Al-Qur’ān Al-Karīm Sūrah Al-Anām)

Mengharapkan manusia, semulia apa pun ia, akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh kekurangan. Sedangkan berharap kepada Pencipta seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk, tidak akan pernah mengecewakanmu. Sebab, Dia Maha Kuasa dan Perkasa, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Dia kehendaki.

Syekh Muhammad bin Sāleh Al-‘Utsaimīn berkata:

وكم من أضرار حدثت للإنسان حتى أوصلت إلى اليأس والقنوط فكشفها الله عز وجل

“Berapa banyak bahaya yang terjadi pada seseorang hingga membuatnya putus asa, kemudian Allah menghilangkannya.

وكم من إنسان أصيب بمرض حتى وصل إلى حافة القبر ثم شفاه الله عز وجل

Dan berapa banyak orang yang mendapatkan penyakit hingga mengantarkannya pada pinggir kubur, lalu ternyata Allah menyembuhkannya.

وكم من إنسان أصيب بالفقر حتى وصل إلى أن لا يجد قوت يومه فأغناه الله عز وجل

Dan berapa banyak orang yang mengalami kemiskinan hingga sampai pada tingkatan tidak mendapati makanan yang bisa dimakan, lalu ternyata Allah membuatnya berkecukupan.

وكم من إنسان كان وحيداً فرزقه الله

Dan berapa banyak orang yang sendirian, lalu ternyata Allah memberinya rezeki.

وهلم جرَّا؛ لأن الله على كل شيء قدير.

Demikianlah seterusnya. Sebab, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Tafsīr Al-Qur’ān Al-Karīm Sūrah Al-Anām)

 

Siberut, 6 Dzulhijjah 1446

Abu Yahya Adiya