“Engkau mengadukan Tuhan yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu?!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Itulah perkataan Fudhail bin ‘Iyadh kepada seseorang yang mengeluhkan musibah yang menimpa dirinya kepada orang lain.
Sesayang apa pun seseorang kepada kita, tetap saja Tuhan kita jauh lebih sayang kepada kita.
“Sungguh, Allah sangat menyayangi hamba-hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu ini kepada anaknya!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikianlah perkataan yang muncul dari Nabi ﷺ tatkala menyaksikan seorang ibu berhasil menemukan anaknya hilang.
Kita sudah berkali-kali melalaikan perintah-Nya, tapi kita tidak juga mendapatkan siksa-Nya.
Kita sudah berulang kali melanggar larangan-Nya, tapi kita tetap mendapat rezeki dari-Nya.
Apakah pantas kita mengadukan keputusan Tuhan yang amat menyayangi kita kepada orang yang tidak menyayangi kita?
Apakah itu sikap kita kepada Tuhan kita yang telah banyak memberikan nikmat kepada kita?
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ
“Siapa saja yang mengalami kemiskinan lalu mengadukannya kepada manusia, maka kemiskinannya itu tidak akan ditutupi.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Ya, kesulitannya tidak akan ditutupi. Keresahannya tidak akan berhenti.
Syaqiq Al-Balkhi berkata:
من شكا مصيبة إلى غير الله لم يجد حلاوة الطاعة
“Siapa yang mengadukan musibah kepada selain Allah, niscaya ia tidak merasakan manisnya ketaatan.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Itu kalau mengadukan musibah kepada selain-Nya. Adapun kalau mengadukan musibah kepada-Nya, maka….
Nabi ﷺ bersabda:
وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللَّهِ فَيُوشِكُ اللَّهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ
“Siapa saja yang mengalami kemiskinan lalu ia mengadukannya kepada Allah, maka pasti Allah memberinya rezeki, baik cepat ataupun lambat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Karena itu, jangan adukan penderitaanmu kepada manusia. Adukanlah itu kepada Tuhannya seluruh manusia, bahkan Tuhannya alam semesta, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Dia menutupi kekuranganmu dan menghilangkan penderitaanmu.
Siberut, 26 Jumada Al-Ulaa 1446
Abu Yahya Adiya






