Sudah malas salat, tapi masih juga mencela orang yang rajin salat.
Sudah jarang bersedekah, tapi masih juga mencela orang yang giat bersedekah.
Sudah sering maksiat, tapi masih pula mencela orang yang menjauhi maksiat.
Kalau seseorang tidak baik, tapi menyadari bahwa dirinya tidak baik, dan masih menghormati orang yang baik, maka itu pertanda bahwa ia masih memiliki peluang untuk menjadi baik.
Rasulullah ﷺ ditanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟
“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tapi ia sendiri tidak menyamai mereka (dalam hal keutamaan)?”
Beliau ﷺ pun menjawab:
المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan bersama dengan siapa yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, kita akan bersama dengan siapa yang kita cintai, meskipun keutamaan kita tidak sampai menyamai keutamaannya, dan walaupun kebaikan kita tidak sampai menandingi kebaikannya.
Imam An-Nawawi berkata:
فِيهِ فَضْلُ حُبِّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ﷺ وَالصَّالِحِينَ وَأَهْلِ الْخَيْرِ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ
“Dalam hadis ini terdapat keutamaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang saleh dan yang memiliki kebaikan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Perhatikanlah dengan baik, wahai saudaraku!
Kalau engkau merasa masih malas ibadah, maka tetaplah cintai orang yang rajin ibadah.
Kalau engkau merasa masih sering bermaksiat, maka tetaplah cintai orang yang menjauhi maksiat.
Kalau engkau merasa belum menjadi orang yang baik, tetaplah cintai orang yang baik.
Ya, tetaplah cintai mereka, bukan malah mencemooh dan menghina mereka!
Malik bin Dinar berkata:
وكفى بالمرء شراً أن لا يكون صالحاً ويقع بالصالحين
“Cukuplah seseorang dianggap buruk tatkala ia tidak saleh dan mencela orang-orang yang saleh.“ (Shifah Ash-Shafwah)
Siberut, 18 Dzulqa’dah 1442
Abu Yahya Adiya






