Suatu hari Nabi ﷺ menyaksikan sahabatnya mengenakan pakaian yang jelek, maka beliau bertanya kepadanya:
أَلَكَ مَالٌ؟
“Apakah engkau punya harta?”
Ia menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
Beliau bertanya lagi:
مِنْ أَيِّ الْمَالِ؟
“Berupa apa harta itu?”
Ia menjawab:
قَدْ آتَانِي اللَّهُ مِنَ الإِبِلِ، وَالْغَنَمِ، وَالْخَيْلِ، وَالرَّقِيقِ
“Allah telah memberiku unta, kambing, kuda dan budak.”
Maka beliau ﷺ pun bersabda:
فَإِذَا آتَاكَ اللَّهُ مَالًا فَلْيُرَ أَثَرُ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكَ، وَكَرَامَتِهِ
“Apabila Allah mengaruniakan harta kepadamu, maka tampakkanlah bekas nikmat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu.” (HR. Abu Daud)
Apa maksud beliau ini?
Mullah ‘Ali Al-Qari menjelaskan:
وَالْمَعْنَى الْبَسْ ثَوْبًا جَيِّدًا لِيَعْرِفَ النَّاسُ أَنَّكَ غَنِيٌّ وَأَنَّ اللَّهَ أَنْعَمَ عَلَيْكَ بِأَنْوَاعِ النِّعَمِ
“Maknanya yaitu pakailah baju yang baik agar orang-orang tahu bahwa engkau itu kaya dan bahwa Allah telah memberikan berbagai nikmat kepadamu.” (Mirqaat Al-Mafatiih Syarh Misykat Al-Mashabiih)
Perintah Nabi ﷺ tadi sesuai dengan firman-Nya:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan.” (QS. Adh-Dhuha: 11)
Ya, bersyukurlah kepada-Nya dengan menyebutkan nikmat-Nya yang Dia berikan kepadamu.
Sebutkanlah itu. Tampakkanlah itu. Itu salah satu tanda engkau mensyukuri nikmat Tuhanmu.
Nabi ﷺ bersabda:
التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ
“Menyatakan nikmat Allah adalah bentuk syukur.” (HR. Ahmad)
Imam Ash-Shan’ani menjelaskan:
أي الإخبار بها من أجزاء شكرها فإنه ثلاث: التحدث باللسان، والخدمة بالأركان، والاعتراف بالجنان.
“Maksudnya yaitu mengabarkan tentang nikmat-Nya adalah termasuk bagian dari mensyukurinya. Karena sesungguhnya mensyukuri nikmat-Nya itu ada tiga: menyatakannya dengan lisan, menggunakannya dengan anggota badan, dan mengakuinya dengan hati.” (At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Karena itu, nikmat apa pun yang Allah berikan kepadamu, maka tampakkanlah. Nyatakanlah. Ceritakanlah, selama itu tidak menimbulkan masalah.
Nabi Yusuf bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan sujud kepada beliau. Mimpi yang baik.
Beliau pun menceritakan mimpi itu kepada ayah beliau, yaitu Nabi Ya’qub. Lantas, apa reaksi Nabi Ya’qub?
Nabi Ya’qub berkata:
لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai anakku, janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka membuat makarmu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Yusuf: 5)
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari pesan tersebut?
Imam Ilkiya Al-Harraasi berkata:
وذلك يدل على جواز ترك إظهار النعمة عند من يخشى غائلته حسدا وكيدا
“Itu menunjukkan bolehnya tidak menampakkan nikmat kepada orang yang dikhawatirkan kejahatannya karena hasad dan tipu muslihat.” (Ahkam Al-Quran)
Kalau demikian, nikmat apa pun yang Dia berikan, hendaknya kita tampakkan dan kita ceritakan. Namun, kalau khawatir muncul hasad dan kejahatan, maka tidak mengapa itu kita sembunyikan.
Siberut, 21 Rabi’ul Tsani 1446
Abu Yahya Adiya






