Seorang pegawai mengerjakan dengan giat semua tugas yang dibebankan kepadanya oleh bosnya.
Namun, siapa sangka, bosnya tidak mau menerima hasil pekerjaannya. Bahkan, si bos tidak sudi pula memberikan gaji kepadanya!
Bukankah itu menyakitkan?
Kalau itu saja menyakitkan, maka bayangkan bagaimana sakitnya kalau Tuhan kita sampai menolak jerih payah amalan kita selama di dunia!
Yahya bin Abi Katsir berkata:
يَصْعَدُ الْمَلَكُ بِعَمَلِ الْعَبْدِ مُبْتَهِجًا فَإِذَا انْتَهَى إِلَى رَبِّهِ قَالَ:
“Malaikat naik ke langit membawa amal seorang hamba dengan gembira. Jika ia telah sampai kepada Tuhannya, maka Dia berfirman:
اجْعَلُوهُ فِي سِجِّينٍ فَإِنِّي لَمْ أُرَدْ بِهَذَا
“Letakkanlah itu di Sijjin, karena sesungguhnya amal itu tidak ditujukan kepada-Ku!” (Al-Ikhlash wa An-Niyyah)
Sijjin adalah nama kitab yang mencatat segala perbuatan orang-orang yang durhaka.
Allah akan menolak semua amalan yang dilakukan tanpa ada keikhlasan.
Sebanyak apa pun amalan seseorang, jika ia melakukannya karena riya dan mengharapkan pujian manusia, maka itu semua tidak akan Dia terima.
Kita wajib khawatir terkena penyakit riya!
Ya, wajib khawatir. Karena….
- Tabiat manusia itu menyukai pujian.
- Riya itu tidak tampak dan seringnya dianggap biasa. Padahal, bahayanya luar biasa. Sebab, itu syirik, dosa paling besar di antara dosa-dosa besar!
Saking bahayanya riya, sampai-sampai Nabi ﷺ mengkhawatirkan penyakit itu menjangkiti para sahabatnya.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
“Sesuatu yang paling kukhawatirkan terjadi pada kalian yaitu syirik kecil!”
Para sahabat bertanya:
وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟
“Apa yang dimaksud dengan syirik kecil, wahai Rasulullah?”
Beliau ﷺ menjawab:
الرِّيَاءُ
“Riya.” (HR. Ahmad)
Kalau Nabi ﷺ saja mengkhawatirkan penyakit ini terjadi pada orang-orang yang taat macam para sahabat, maka apalagi kita yang banyak berbuat maksiat!
Yusuf bin Al-Husain Ar-Razi berkata:
أَعَزُّ شَيْءٍ فِي الدُّنْيَا الْإِخْلَاصُ، وَكَمْ أَجْتَهِدُ فِي إِسْقَاطِ الرِّيَاءِ عَنْ قَلْبِي، وَكَأَنَّهُ يَنْبُتُ فِيهِ عَلَى لَوْنٍ آخَرَ
“Perkara paling berat di dunia ini adalah ikhlas. Alangkah seringnya aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya dari hatiku, akan tetapi ia seakan-akan tumbuh di hati ini dengan warna yang lain.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam)
Kalau ini dikatakan oleh orang yang terkenal saleh, maka bagaimana pula dengan kita yang belum tentu layak dikatakan saleh?!
Apakah selama ini kita benar-benar bebas dari riya?!
Apakah selama ini amalan kita murni karena Tuhan kita?!
Hendaknya kita selalu mengoreksi hati kita. Jangan sampai riya menyusup ke hati kita tanpa kita sadari, sehingga akhirnya sia-sialah amalan kita selama ini.
Siberut, 6 Rajab 1443
Abu Yahya Adiya






