Keesaan Zat-Nya Menuntut Ibadah Kepada-Nya

Keesaan Zat-Nya Menuntut Ibadah Kepada-Nya

Tengoklah bulan. Bukankah begitu agung?

Tengoklah matahari. Bukankah begitu besar?

Kalau matahari dan bulan saja terlihat begitu agung dan besar, apalagi Pencipta matahari dan bulan!

Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya yaitu malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian hanya beribadah kepada-Nya.” (QS. Fushshilat : 37)

Bagaimanapun agungnya bulan dan betapapun besarnya matahari…

Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan

Ya, jangan bersujud kepada keduanya. Lantas kepada siapa bersujud?

tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya.

Ya, bersujudlah kepada Pencipta keduanya!

Jangan tunduk kepada makhluk yang sebenarnya lemah dan tidak berdaya. Tunduklah kepada Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa!

Dengan makin menyadari keagungan ciptaan-Nya, seharusnya membuat kita makin sadar akan keagungan-Nya. Dan dengan makin menyadari keagungan-Nya, seharusnya membuat kita makin tunduk kepada-Nya dan hanya beribadah kepada-Nya.

 

Mengapa Ibadah Hanya Ditujukan Kepada-Nya?

  1. Yang berhak diibadahi adalah yang bisa menciptakan.

Allah berfirman:

لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ

“Tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia; Pencipta segala sesuatu, maka beribadahlah kepada-Nya.” (QS Al-An’aam: 102)

Lihatlah, Allah menetapkan bahwa peribadatan hanya berhak ditujukan kepada Allah.

Setelah menyatakan bahwa Dialah pencipta segala sesuatu, Allah menyuruh kita beribadah kepada-Nya. Apa maksud demikian?

Imam Ar-Razi berkata:

فَهَذَا يَقْتَضِي أَنْ يَكُونَ كَوْنُهُ تَعَالَى خَالِقًا لِلْأَشْيَاءِ هُوَ الْمُوجِبَ لِكَوْنِهِ مَعْبُودًا عَلَى الْإِطْلَاقِ

“Ini berkonsekuensi bahwa keadaan-Nya sebagai pencipta segala sesuatu menuntut untuk disembah secara mutlak.” (At-Tafsir Al-Kabir)

Imam Al-Qurthubi berkata:

وَنَبَّهْتُ عَلَى أَنَّ مَنِ ابْتَدَأَ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ والإيجاد والإبداع هو المستحق للألوهية والعبادة.

“Dan telah kuingatkan bahwa siapa yang memulai penciptaan, kreasi, dan pengadaan, maka Dialah yang berhak disembah dan diibadahi.” (Al-Jami’ Liahkaam Al-Quran)

Allah berfirman:

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

“Apakah mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak dapat menciptakan apa pun, sedangkan mereka sendiri diciptakan? Mereka tidak dapat memberikan pertolongan kepada manusia, bahkan menolong diri mereka sendiri pun tidak bisa.” (QS. Al A’raaf: 191-192)

Yang berhak disembah dan diibadahi adalah yang bisa menciptakan. Adapun yang tidak bisa menciptakan….

فَمَنْ لَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ يَكُونُ عَاجِزًا، وَالْعَاجِزُ لَا يَصْلُحُ أَنْ يَكُونَ إِلَهًا.

“Siapa yang tidak sanggup menciptakan, berarti ia lemah. Dan yang lemah tidak pantas disembah.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

 

  1. Yang berhak disembah adalah yang memiliki alam semesta.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ  .

“Hai sekalian manusia! Beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kalian dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia hasilkan segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, jangan kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Imam Ibnu Katsir berkata:

وَمَضْمُونُهُ: أَنَّهُ الْخَالِقُ الرَّازِقُ مَالِكُ الدَّارِ، وَسَاكِنِيهَا، وَرَازِقُهُمْ، فَبِهَذَا يَسْتَحِقُّ أَنْ يُعْبَدَ وَحْدَهُ وَلَا يُشْرَك بِهِ غَيره؛ وَلِهَذَا قَالَ:

“Kandungan dari firman-Nya tadi yaitu bahwa Allah lah pencipta, pemberi rezeki, dan pemilik dunia ini beserta penghuninya dan juga yang memberi rezeki kepada mereka. Karena itulah, Dia saja yang berhak untuk disembah dan tidak boleh dipersekutukan dengan selain-Nya. Makanya Allah berfirman:

فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Karena itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

 

  1. Yang berhak disembah adalah yang bisa memberikan rezeki.

Allah berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi?’ katakanlah, ‘Allah.” (QS. Saba’: 24)

Al-Wahidi menjelaskan:

وإنما أمر بهذا السؤال احتجاجا عليهم بأن الذي يرزق هو المستحق للعبادة لا غيره، وذلك أنه إذا استفهمهم عن الرازق لم يمكنهم أن يثبتوا رازقا غير الله، ولهذا أمر النبي ﷺ بالجواب، فقال: قل الله

“Beliau disuruh untuk mengajukan pertanyaan ini untuk membantah mereka bahwa yang bisa memberikan rezeki adalah yang berhak untuk diibadahi, bukan selain-Nya. Yang demikian itu karena kalau beliau bertanya kepada mereka tentang yang memberikan rezeki tentu mereka tidak bisa menetapkan pemberi rezeki selain Allah. Karena itu Nabi ﷺ diperintahkan untuk menjawab, ‘Katakanlah, ‘Allah.” (Al-Wasith Fii Tafsiir Al-Quran Al-Majid)

Imam Ar-Razi berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّهُ تَعَالَى هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ تَعَالَى هُوَ الْمُنْعِمُ بِجَمِيعِ النِّعَمِ أُصُولِهَا وَفُرُوعِهَا

“Ketahuilah bahwa Dialah yang berhak diibadahi. Yang demikian itu karena Dialah yang memberikan nikmat yang sebenarnya berupa semua kenikmatan, baik yang pokoknya maupun yang cabangnya.” (At-Tafsir Al-Kabir)

Syekh As-Sa’di berkata:

فإذا علم أن ما بالعباد من نعمة، فمن الله، وأن أحدا من المخلوقين، لا ينفع أحدا، علم أن الله هو المستحق لجميع أنواع العبادة، وأن يفرد بالمحبة والخوف، والرجاء، والتعظيم، والتوكل، وغير ذلك من أنواع الطاعات.

“Jika telah diketahui bahwa tidak ada satu nikmat pun pada diri hamba kecuali dari Allah dan bahwa tidak ada seorang pun makhluk yang bisa memberikan manfaat kepada siapa pun, maka diketahui bahwa Allah lah yang berhak mendapatkan segala macam ibadah dan diesakan dalam hal cinta, takut, harap, pengagungan, tawakal, dan macam ketaatan lainnya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

 

  1. Selain-Nya lemah dan tidak memiliki apa-apa.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ

“Dan mereka yang kalian seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa, walaupun setipis kulit ari.

إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian; dan kalaupun mereka mendengar, mereka juga tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan di hari kiamat, mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir: 13-14)

Ibadah kepada selain Allah adalah batil. Sebab….

1) Mereka tidak mempunyai apa-apa, walaupun setipis kulit ari.

2) Mereka tidak mendengar seruan kalian.

3) kalaupun mereka mendengar, mereka juga tidak dapat memperkenankan permintaan kalian.

4) mereka akan mengingkari peribadatan kalian.

Maka, hanya Tuhan yang menciptakan, menguasai dan mengatur alam semesta yang berhak disembah dan diibadahi.

 

Siberut, 23 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya