Ketika berkuasa, seorang pemimpin bisa saja untuk memperkaya dirinya dan keluarganya. Namun, itu tidak dilakukan oleh seorang khalifah yang alim dan adil yaitu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.
Suatu hari Maslamah bin ‘Abdul Malik berkunjung ke rumah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, setelah ia menjadi khalifah. Ketika itu, Maslamah melihat baju ‘Umar kotor. Maka ia pun berkata kepadanya istrinya ‘Umar yang juga merupakan adiknya Maslamah:
اغْسِلُوْهُ
“Cucilah baju suamimu!”
Istri ‘Umar menjawab:
نَفْعَلُ
“Ya, akan aku lakukan.”
Kemudian Maslamah pergi lalu kembali lagi, ternyata baju ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz masih seperti semula. Maslamah pun bicara lagi dengan istri ‘Umar. Maka sang istri pun berkata:
وَاللهِ مَا لَهُ قَمِيْصٌ غَيْرُهُ
“Demi Allah, suamiku tidak punya baju selain itu!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Kalau itu kabar dari istrinya, maka demikian pula kesaksian dari selain istrinya.
Maimun bin Mihran berkata:
أَقَمْتُ عِنْدَ عُمَرَ بنِ عَبْدِ العَزِيْزِ سِتَّةَ أَشْهُرٍ، مَا رَأَيْتُهُ غَيَّرَ رِدَاءهُ
“Aku tinggal dengan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz selama enam bulan, tidak pernah kulihat ia mengganti pakaian atasnya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Sikap zuhud inilah yang menghiasi hidupnya hingga maut menjemputnya.
‘Abdul ‘Aziz, putra ‘Umar dipanggil oleh Al-Manshur lalu ditanya:
كَمْ كَانَتْ غَلَّةُ عُمَرَ بنِ عَبْدِ العَزِيْزِ حِيْنَ اسْتُخْلِفَ؟
“Berapa kekayaan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ketika menjadi khalifah?”
Abdul ‘Aziz menjawab:
خَمْسُوْنَ أَلْفَ دِيْنَارٍ.
“50.000 Dinar.”
Al-Manshur bertanya lagi:
كَمْ كَانَتْ يَوْمَ مَوْتِهِ؟
“Berapa kekayaannya yang tersisa tatkala meninggal dunia?”
Abdul ‘Aziz menjawab:
مائَتَا دِيْنَارٍ.
“200 Dinar.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Malik bin Dinar, seorang ulama yang zuhud berkata:
الناس يقولون عني زاهد، إنما الزاهد عمر بن عبد العزيز الذي أتته الدنيا فتركها
“Orang-orang berkata bahwa aku adalah orang yang zuhud. Padahal, orang yang zuhud adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, yang datang kepadanya dunia, tapi ia meninggalkannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Semoga Allah merahmatinya, melapangkan kuburnya, dan memasukkannya ke surga-Nya….
Siberut, 4 Rabi’ul Tsani 1446
Abu Yahya Adiya






