Agar Selamat dari Pemimpin yang Zalim

Agar Selamat dari Pemimpin yang Zalim

“Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin. Walaupun dipukul punggungmu dan diambil hartamu, maka tetaplah dengar dan taat!” (HR. Muslim)

Itulah petunjuk dari nabi kita dalam menyikapi pemimpin yang zalim dan tidak baik.

Imam Asy-Syaukani berkata:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى وُجُوبِ طَاعَةِ الْأُمَرَاءِ وَإِنْ بَلَغُوا فِي الْعَسْفِ وَالْجَوْرِ إلَى ضَرْبِ الرَّعِيَّةِ وَأَخْذِ أَمْوَالِهِمْ فَيَكُونُ هَذَا مُخَصِّصًا لِعُمُومِ قَوْله تَعَالَى:

“Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan wajibnya menaati para pemimpin, walaupun mereka dalam hal kesewenang-wenangan dan kezaliman sampai memukul rakyat dan mengambil harta mereka. Dan itu merupakan pengecualian dari keumuman firman-Nya (QS. Al-Baqarah: 194):

{فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ} [البقرة: 194]

“Karena itu, siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia setimpal dengan serangannya terhadap kalian.” (Nailul Authar)

Nah, kalau punggung sampai dipukul dan harta sampai dirampas saja, tetap diperintahkan untuk menaati pemimpin dalam perkara yang baik, maka bagaimana pula kalau punggung tidak sampai dipukul dan harta tidak sampai dirampas?!

Hadis tadi dan masih banyak lagi hadis yang senada dengannya menunjukkan wajibnya menaati para pemimpin dalam perkara yang baik, walaupun mereka zalim dan bukan pemimpin yang baik.

Namun, apa hikmah dari semua itu?

Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:

وَأَمَّا لُزُومُ طَاعَتِهِمْ وَإِنْ جَارُوا، فَلِأَنَّهُ يَتَرَتَّبُ عَلَى الْخُرُوجِ مِنْ طَاعَتِهِمْ مِنَ الْمَفَاسِدِ أَضْعَافُ مَا يَحْصُلُ مِنْ جَوْرِهِمْ، بَلْ فِي الصَّبْرِ عَلَى جَوْرِهِمْ تَكْفِيرُالسَّيِّئَاتِ وَمُضَاعَفَة الْأُجُورِ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَا سَلَّطَهُمْ عَلَيْنَا إِلَّا لِفَسَادِ أَعْمَالِنَا، وَالْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ، فَعَلَيْنَا الِاجْتِهَادُ بالِاسْتِغْفَارِ وَالتَّوْبَة وَإِصْلَاحِ الْعَمَلِ. قَالَ تَعَالَى:

“Adapun wajibnya menaati mereka walaupun mereka zalim, karena tidak mau mematuhi mereka akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang muncul karena kezaliman mereka. Bahkan, bersabar terhadap kezaliman mereka akan menghapuskan dosa dan melipatgandakan pahala. Sesungguhnya, Allah tidaklah menjadikan mereka berkuasa terhadap diri kita melainkan karena rusaknya perbuatan kita. Dan balasan itu sesuai dengan perbuatan. Karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh dalam memohon ampun dan bertaubat kepada Allah serta memperbaiki amal.

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ}

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan kalian).”

وَقَالَ تَعَالَى:

Dan Dia berfirman:

{أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ}

“Apakah ketika kalian ditimpa musibah (kekalahan pada perang Uhud), padahal kalian telah memperoleh (kenikmatan) dua kali lipatnya (pada perang Badar), kalian berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) diri kalian sendiri.”

وَقَالَ تَعَالَى:

Dan Dia berfirman:

{مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ}

“Kenikmatan apa pun yang engkau rasakan itu adalah dari Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

{وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}.

“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim menguasai sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

Pemimpin jahat muncul karena banyak rakyat yang jahat. Pemimpin zalim muncul karena banyak rakyat yang zalim. Pemimpin korup muncul karena banyak rakyat yang korup.

Maka apa solusi agar kita selamat dari pemimpin yang jahat, zalim, dan korup?

Tatkala sebagian orang berniat memberontak kepada Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, pemimpin yang terkenal zalim, Imam Al-Hasan Al-Bashri memberikan nasihat:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا سَلَّطَ اللَّهُ الْحَجَّاجَ عَلَيْكُمْ إِلا عُقُوبَةً فَلا تُعَارِضُوا عُقُوبَةَ اللَّهِ بِالسَّيْفِ وَلَكِنْ عَلَيْكُمُ السَّكِينَةَ وَالتَّضَرُّعَ.

“Wahai sekalian manusia, demi Allah, sesungguhnya tidaklah Allah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian kecuali sebagai hukuman untuk kalian. Karena itu, jangan menentang hukuman Allah dengan pedang! Hendaknya kalian tenang dan merendahkan diri kepada-Nya!” (Ath-Thabaqaat Al-Kubra)

Ya, hendaknya tenang dan merendahkan diri kepada-Nya. Hendaknya menjauhi perbuatan dosa dan jangan mendurhakai-Nya, niscaya muncullah pemimpin yang baik dan tidak menzalimi rakyatnya.

Karena itu, Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:

فَإِذَا أَرَادَ الرَّعِيَّة أَنْ يَتَخَلَّصُوا مِنْ ظُلْمِ الْأَمِيرِ الظَّالِمِ. فَلْيَتْرُكُوا الظُّلْمَ.

“Kalau rakyat ingin bebas dari kezaliman pemimpin yang zalim, maka hendaknya mereka juga meninggalkan kezaliman.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

 

Siberut, 3 Shafar 1446
Abu Yahya Adiya