Ada tiga doa yang tidak akan mendapat penolakan. Ada tiga doa yang akan Allah kabulkan.
Nabi ﷺ bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga orang yang tidak akan tertolak doa mereka, yaitu: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan lain-lain)
1. Pemimpin yang adil.
Pemimpin yang adil itu Allah cintai.
Allah berfirman:
وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
“Berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”(QS. Al-Hujurat: 9)
Dan pemimpin yang adil akan menempati mimbar cahaya di akhirat nanti.
Nabi ﷺ bersabda:
“إنَّ المُقسِطينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلى مَنابِرَ مِنْ نورٍ: الَّذِينَ يعْدِلُونَ في حُكْمِهِمْ وأَهليهِمْ وما وُلُّوا
“Sesungguhnya orang yang berlaku adil itu di sisi Allah akan menempati beberapa mimbar dari cahaya. Mereka itulah orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum, adil terhadap keluarga mereka dan siapa pun yang ada di bawah mereka.” (HR. Muslim)
Dan pemimpin yang adil akan mendapatkan naungan di akhirat nanti.
Nabi ﷺ bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ
“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau demikian keadaan pemimpin yang adil di sisi-Nya, maka wajarlah kalau Allah mengabulkan doanya.
2. Orang yang berpuasa
Berpuasa adalah amalan yang Allah cintai.
Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي
“Setiap amalan anak Adam dilipatgandakan pahalanya: satu kebajikan menjadi sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat. Allah عَزَّ وَجَلَّ berfirman: ‘Kecuali puasa, karena sesungguhnya itu milik-Ku dan Aku yang akan memberikan ganjarannya (secara khusus). Ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muslim)
Kalau demikian keadaan orang yang berpuasa karena-Nya, maka wajarlah kalau Allah mengabulkan doanya.
3. Orang yang dizalimi
Orang yang terzalimi itu dalam keadaan yang sangat lemah. Orang yang teraniaya itu dalam keadaan yang sangat tidak berdaya.
Tatkala ia berdoa kepada-Nya dengan penuh kelemahan dan kerendahan, Dia sangat tahu akan keadaannya dan tidak akan meninggalkannya.
Karena itu, kelanjutan hadis yang disebutkan di atas yaitu:
وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاوَاتِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ:
“Doa orang yang terzalimi diangkat ke atas awan dan karenanya terbuka pintu-pintu langit. Lalu Allah berfirman:
وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِين
“Demi keagungan-Ku, sungguh, Aku akan menolongmu meskipun setelah lewat waktunya.”
Maka, hati-hatilah jangan sampai menzalimi dan menganiaya siapa pun. Sebab, Allah akan mengabulkan doa orang yang terzalimi dan teraniaya, walaupun ia seorang pendosa.
Nabi ﷺ bersabda:
دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ، وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِه
“Doa orang yang terzalimi itu dikabulkan, walaupun ia seorang pendosa. Karena dosanya ditanggung oleh ia sendiri.” (HR. Ahmad)
Siberut, 27 Rajab 1445
Abu Yahya Adiya






