Kematian Membuahkan Kekayaan

Kematian Membuahkan Kekayaan

“Sesungguhnya siapa yang banyak mengingat mati, maka ia akan rela dengan sedikit kenikmatan dunia.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Itulah isi surat khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz kepada seseorang.

Siapa yang sadar bahwa hidup di dunia adalah sementara, ia akan merasa puas dengan sedikit kenikmatan dunia.

Karena itu, kalau selama ini kita rakus terhadap harta dan jabatan, maka ingatlah kematian.

Dan kalau selama ini kita mengeluhkan kesulitan ekonomi yang kita rasakan, maka ingatlah kematian.

“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan!”

Demikianlah wasiat dari nabi kita ﷺ. Beliau menyuruh kita agar banyak mengingat kematian. Mengapa demikian?

Beliau menyebutkan alasannya:

فَمَا ذَكَرَهُ عَبْدٌ قَطُّ وَهُوَ فِي ضِيقٍ إِلَّا وَسَعَهُ عَلَيْهِ، وَلَا ذَكَرُهُ وَهُوَ فِي سَعَةٍ إِلَّا ضَيِّقَهُ عَلَيْهِ

“Tidaklah seorang hamba mengingat kematian sedangkan ia dalam keadaan sempit, melainkan kematian akan membuatnya lapang. Dan tidaklah ia mengingat kematian sedangkan ia dalam keadaan lapang kecuali kematian akan membuatnya sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

Ya, tidaklah seseorang tinggi hati dan rakus di dunia ini lalu mengingat mati, melainkan ia akan mawas diri dan menjadi sosok yang rendah hati.

Dan tidaklah seseorang merasakan kesempitan di dunia ini lalu mengingat kematian, melainkan ia akan merasakan kelapangan dan ketenangan.

Kematian bisa membuahkan kekayaan di hati kita.

Syumaith bin ‘Ajlan berkata:

من جعل الموت نصب عينيه لم يبال بضيق الدنيا ولا بسعتها

“Siapa yang menjadikan kematian ada di depan matanya, niscaya ia tidak peduli pada sempit atau luasnya dunia.” (Shifah Ash-Shafwah)

Ya, tidak peduli pada sempit atau luasnya dunia. Ia tidak mengeluh dan tidak pula angkuh. Ia merasa cukup dengan pemberian Allah yang ada. Dan Itulah sifat para sahabat nabi kita.

Al-Hasan Al-Bashri menggambarkan para sahabat Nabi:

أدركت أقواما لايفرحون بشيء من الدنيا ولا يأسفون على شيء منها فاتهم

“Aku mendapati suatu kaum yang tidak bergembira karena mendapatkan sesuatu dari dunia dan tidak bersedih karena dunia yang luput dari mereka.” (Az-Zuhd)

Ya, merekalah orang-orang kaya yang sesungguhnya, karena mereka mengenal hakikat dari dunia yang fana.

 

Siberut, 12 Jumada Al-Ulaa 1446

Abu Yahya Adiya