Memata-matai yang Diperbolehkan

Memata-matai yang Diperbolehkan

“Siapa yang terbiasa memata-matai atau mencari-cari aib orang lain, maka engkau akan dapati kenyataannya ia selalu stres dalam hidupnya.” (Tafsir Al-Hujurat)

Demikianlah perkataan Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.

Siapa yang suka memata-matai atau mencari-cari aib orang lain, maka ia akan stres. Bagaimana tidak stres, ia sudah melakukan perbuatan yang diharamkan!

Kalau demikian, tidak boleh kita memata-matai orang lain, kecuali kalau ada tanda-tanda yang nyata bahwa ia hendak melakukan kejahatan dan kemaksiatan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata:

وَيُسْتَثْنَى مِنَ النَّهْيِ عَنِ التَّجَسُّسِ مَا لَوْ تَعَيَّنَ طَرِيقًا إِلَى إِنْقَاذِ نَفْسٍ مِنَ الْهَلَاكِ مَثَلًا كَأَنْ يُخْبِرَ ثِقَةً بِأَنَّ فُلَانًا خَلَا بِشَخْصٍ لِيَقْتُلَهُ ظُلْمًا أَوْ بِامْرَأَةٍ لِيَزْنِيَ بِهَا فَيُشْرَعُ فِي هَذِهِ الصُّورَةِ التَّجَسُّسُ وَالْبَحْثُ عَنْ ذَلِكَ حَذَرًا مِنْ فَوَاتِ اسْتِدْرَاكِه

“Dikecualikan dari larangan mematai-matai yaitu kalau telah jelas cara untuk menyelamatkan orang dari kebinasaan, contohnya seperti dengan mengabarkan kepada orang yang terpercaya bahwa fulan telah berduaan dengan seseorang untuk membunuhnya secara zalim atau telah berduaan dengan seorang wanita untuk berzina dengannya. Maka, dalam kasus seperti ini disyariatkan memata-matai dan mencari-cari demikian sebagai bentuk kewaspadaan agar tidak terlambat diatasi.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Kalau memata-matai seseorang karena ada tanda jelas yang menunjukkan ia akan melakukan kesalahan itu diperbolehkan, maka apalagi melaporkan kesalahan orang yang melakukannya dalam keadaan terang-terangan!

Karena itu, siapa yang melakukan kesalahan secara terang-terangan, maka kesalahannya boleh dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

Seseorang mengajukan suatu pertanyaan kepada Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.

Orang itu merupakan pengawas di suatu yayasan. Ia menjelaskan kepada pemilik yayasan tentang kinerja para pegawai yayasan, yakni apakah mereka absen atau tidak? Apakah mereka selalu terlambat masuk kerja atau tidak? Apakah mereka melakukan kesalahan atau tidak?

Ia menjelaskan demikian dalam rangka memperbaiki kinerja yayasan. Apakah perbuatan itu dibenarkan?

Syekh menjawab:

إن عمل هذا السائل عمل طيب مشكور عليه مثاب عليه وهذا مقتضى الأمانة ألا يحابي أحدا والرجل جزاه الله خيرا ينصح العمال أولا فإن استقاموا تركهم وإن لم يستقيموا أخبر بهم وهذا واجب عليه فأسأل الله أن يثبته ويعينه وأن يكثر من أمثاله لأن أمثاله في وقتنا عزيز قليل جدا

“Perbuatan penanya ini adalah perbuatan baik, layak disyukuri, dan mendapatkan ganjaran. Itu adalah konsekuensi dari amanah, yakni tidak memihak kepada siapa pun. Penanya tadi-semoga Allah membalasnya dengan kebaikan-telah menasihati para pegawai terlebih dahulu. Jika mereka jadi baik, maka ia membiarkan mereka. Namun, jika mereka tidak jadi baik, maka ia mengabarkan tentang mereka. Ini adalah kewajibannya. Saya memohon kepada Allah agar meneguhkannya, menolongnya, dan memperbanyak orang yang semacamnya. Sebab, orang yang semacamnya di zaman kita ini jarang dan sangat sedikit.” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb)

Kenapa jarang dan sangat sedikit?

Syekh menjelaskan:

وسبب ذلك الحياء أو الخجل أو يقول الإنسان

“Penyebab demikian adalah malu, segan, atau seseorang beralasan:

أنا لاأريد أن ينفصل أحد من الوظيفة على يدي

“Aku tidak ingin seseorang dicopot dari pekerjaannya karena diriku.”

أو ما أشبه ذلك وكل هذا من الغلط إن الله لا يستحيي من الحق وإذا فصل من هذه الوظيفة بسبب ترك القيام بما يجب عليه فهو الذي جنى على نفسه

Atau ungkapan semacam itu. Semua itu salah. Sesungguhnya Allah tidak segan menyatakan kebenaran. Jika seseorang dicopot dari pekerjaannya karena tidak melaksanakan kewajibannya, maka ia sendiri yang berbuat jahat kepada dirinya.” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb)

 

Siberut, 16 Jumada Al-Ulaa 1446

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

https://islamqa.info/ar/answers/99738/%D9%87%D9%84-%D9%8A%D8%AC%D9%88%D8%B2-%D9%84%D9%87%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%AC%D8%B3%D8%B3-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D9%85%D8%B4%D8%AA%D8%B1%D9%83-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%AA%D8%B1%D9%86%D8%AA-%D9%84%D9%85%D8%B9%D8%B1%D9%81%D8%A9-%D8%A7%D9%86-%D9%83%D8%A7%D9%86-%D9%81%D8%A7%D8%B3%D8%AF%D8%A7-%D8%A7%D9%85-%D9%84%D8%A7

 

https://islamqa.info/ar/answers/320714/%D9%87%D9%84-%D9%85%D8%B1%D8%A7%D9%82%D8%A8%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%88%D8%B8%D9%81%D9%8A%D9%86-%D9%88%D8%B1%D9%81%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%82%D8%A7%D8%B1%D9%8A%D8%B1-%D8%B9%D9%86%D9%87%D9%85-%D9%8A%D8%B9%D8%AA%D8%A8%D8%B1-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%AC%D8%B3%D8%B3-%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%86%D9%87%D9%8A-%D8%B9%D9%86%D9%87