Kalau dikatakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, adakah yang bisa membantah?
Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Pada hari ini yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H saat Nabi ﷺ sedang wukuf di Arafah.
Bukankah ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna?
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun yang diutus sebelumku melainkan wajib atasnya untuk menunjukkan kepada umatnya segala kebaikan yang ia ketahui bagi mereka dan memperingatkan umatnya dari segala keburukan yang ia ketahui dapat membahayakan mereka.” (HR. Muslim)
Kebaikan apa pun yang ingin kita cari, baik yang ada di dunia maupun di akhirat, sudah dijelaskan dalam Islam.
Keburukan apa pun yang ingin kita hindari, baik yang ada di dunia maupun di akhirat, sudah dijelaskan dalam Islam.
Bukankah hadis ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna?
Suatu hari orang-orang musyrik bertanya kepada Salman Al-Farisi:
قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ؟
“Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu, sampai pun permasalahan buang hajat?”
Salman menjawab:
أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ
“Tentu. Beliau telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil. Beliau juga melarang kami beristinja dengan tangan kanan, melarang beristinja menggunakan batu kurang dari tiga buah, dan melarang kami beristinja menggunakan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim)
Lihatlah, Islam telah mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat manusia.
Semua perkara yang bermanfaat bagi manusia telah dijelaskan dalam Islam, dari urusan buang air kecil sampai perkara kriminil. Dari urusan rumah tangga sampai urusan negara. Apalagi masalah keyakinan dan pokok agama! Semuanya sudah dijelaskan dalam Islam.
Bukankah yang demikian menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna?
Makanya, untuk apa kita mencari aturan selain aturan Islam? Untuk apa mencari petunjuk selain petunjuk Islam?
Allah berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)
Karena itu, kita tidak membutuhkan sosialisme, sekulerisme, komunisme, dan segala paham yang bertentangan dengan Islam!
Sempurna Berarti Tak Mengada-Ada
Kalau memang Islam telah sempurna, berarti tak perlu ditambah dan tak perlu dikurangi.
Karena itu, kita tidak butuh untuk membuat perkara baru dalam agama.
Tidak butuh untuk membuat ibadah baru dalam agama. Ya, ibadah yang tidak pernah diperintahkan, dicontohkan atau dilakukan oleh nabi kita atau para sahabatnya.
Kita tidak boleh mengada-ada dalam agama!
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa yang membuat suatu perkara dalam agama yang bukan termasuk darinya, maka itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan beliau ﷺ juga bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)
Kalau suatu amalan ditolak, apakah artinya itu dicintai Allah?
Ibnu ‘Abbas berkata:
إِنَّ أَبْغَضَ الْأُمُورِ إِلَى اللهِ الْبِدَعُ
“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci Allah adalah bidah.” (As-Sunan Al-Kubra)
Dan kalau suatu perkara sudah dibenci Allah, berarti itu disukai setan.
Sufyan Ats-Tsauri berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ , وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا , وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا
“Perbuatan bidah lebih disukai iblis daripada maksiat. Pelaku maksiat masih mungkin untuk bertobat dari perbuatannya, sedangkan pelaku bidah sulit untuk bertaubat dari perbuatannya.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah)
Kenapa sulit bertobat?
Karena ia merasa dirinya benar dan di atas kebenaran. Berbeda halnya dengan pelaku maksiat. Tatkala melakukan maksiat, ia merasa dirinya salah dan di atas kesalahan.
Ibnu ‘Abbas berkata:
قَالَ: عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالاسْتِقَامَةِ، اتَّبِعْ وَلا تَبْتَدِعْ.
“Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah dan istikamah. Dan hendaknya engkau mengikuti petunjuk nabimu dan jangan mengada-ada dalam agamamu!” (Syarh As-Sunnah)
Kejayaan Ada di Islam
Kalau memang Islam telah sempurna, maka sudah selayaknya kita berpegang teguh pada aturannya. Itulah kunci kejayaan kita.
Tengoklah keadaan bangsa Arab di zaman jahiliah. Dulu mereka hidup dalam kegelapan dan kebodohan.
Ketika dua negara adikuasa, Romawi dan Persia saling berebut pengaruh dan unjuk kekuatan militer dan teknologi, bangsa Arab justru masih jauh tertinggal di belakang.
Namun, siapa sangka, bangsa yang dianggap bodoh, primitif dan terbelakang ini bisa mengalahkan dua negara Super Power itu, bahkan meruntuhkan keduanya! Padahal…
Dari sisi teknologi mereka kalah kelas dibandingkan dua negara Super Power itu.
Dari sisi militer pun mereka kalah pengalaman dibandingkan dua negara Super Power itu.
Dan dari sisi kekayaan pun mereka kalah banyak dibandingkan dua negara Super Power itu.
Lantas, kenapa mereka bisa begitu perkasa dan mulia, setelah sebelumnya dianggap lemah dan hina?
‘Umar bin Khaththab berkata:
إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللَّهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ
“Dulu kita adalah kaum yang sangat hina, lalu Allah memuliakan kita dengan Islam. Karena itu, jika kita mencari kemuliaan pada selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.” (Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain)
Ya, Islamlah yang menyebabkan mereka mulia. Tatkala berpegang teguh pada Islamlah mereka menjadi mulia.
Allah menolong mereka bukan karena canggihnya persenjataan mereka.
Allah menolong mereka bukan karena banyaknya pengalaman perang mereka.
Allah menolong mereka bukan karena banyaknya harta mereka.
Allah menolong mereka karena mereka berpegang teguh pada agama mereka. Agama yang satu-satunya Dia ridai. Yaitu Islam.
Karena itu, kalau kita ingin mulia, maka berpegang teguhlah pada agama kita. Niscaya kita akan mulia dan dimuliakan Tuhan kita.
Siberut, 30 Rabi’ul Tsani 1442
Abu Yahya Adiya






