Ketika akan meninggal dunia, ia melihat kedua kakinya lalu menangis. Ada yang bertanya kepadanya:
مَا يُبْكِيْكَ أَبَا عَبْدِ اللهِ؟
“Apa yang membuatmu menangis wahai Abu ‘Abdillah?”
Ia menjawab:
قَدَمَايَ، لَمْ تَغْبَرَّ فِي سَبِيْلِ اللهِ.
“Kedua kakiku belum pernah terkena debu di jalan Allah!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Itulah keadaan Abu ‘Abdillah Yunus bin ‘Ubaid, seorang ulama tabiin.
Ia menangisi keadaan dirinya yang akan meninggal dalam keadaan belum pernah berjihad.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ، مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
“Siapa yang mati dalam keadaan tidak pernah berjihad dan tidak pernah berniat untuk berjihad, maka ia akan mati di atas salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim)
Abu ‘Abdillah Yunus bin ‘Ubaid tidak tercela ketika ia meninggal dalam keadaan belum pernah berjihad, karena ia telah mempunyai niat untuk melakukan demikian walaupun tidak kesampaian.
Yang tercela adalah orang yang meninggal dalam keadaan belum pernah berjihad dan tidak ada dalam hatinya sedikit pun niat untuk berjihad.
Itulah orang yang mati di atas salah satu cabang kemunafikan. Itulah orang yang mati dalam keadaan membawa kemunafikan. Dan kita berlindung kepada Allah dari kemunafikan.
Siberut, 9 Jumada Al-Ulaa 1445
Abu Yahya Adiya






