Perjalanan jauh telah mengubah penampilannya. Kusutlah rambutnya dan berdebulah bajunya. Ia menengadahkan kedua tangannya ke atas seraya mengucapkan, “Tuhanku, Tuhanku….”
Setelah itu apa yang terjadi?
Ternyata Allah tidak mengabulkan doanya! Kenapa begitu?
Nabi ﷺ bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima kecuali yang baik.
وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ:
Dan sesungguhnya Allah telah memberikan perintah kepada orang-orang mukmin seperti perintah yang Dia berikan kepada para rasul. Dia berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
“Wahai para rasul! Makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal saleh.” (QS. Al-Mu’minuun: 51)
وَقَالَ:
Dan Dia berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172]
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS Al Baqarah: 172)
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya mengucapkan: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kebutuhannya dipenuhi dengan yang haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini dikabulkan doanya?!” (HR. Muslim)
Lihatlah, beberapa faktor untuk dikabulkan doa ada pada orang itu, tapi kenapa doanya tidak dikabulkan?
Orang itu musafir. Bukankah musafir mustajab doanya?
Ia juga berpenampilan hina di hadapan Allah. Bukankah Allah tidak akan menyia-nyakan orang yang menghinakan diri di hadapan-Nya?
Ia juga mengangkat kedua tangannya. Bukankah Allah malu untuk tidak mengabulkan doa hambanya yang berdoa dengan mengangkat tangannya?
Beberapa faktor untuk dikabulkan doa ada pada orang itu, tapi kenapa doanya tidak dikabulkan?
Karena, kata Nabi: “makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kebutuhannya dipenuhi dengan yang haram, maka bagaimana mungkin orang seperti ini dikabulkan doanya?”
Berakibat Melahap Api
Selain tidak dikabulkan doanya, orang yang mengisi perutnya, dan menutupi badannya dengan yang haram juga tidak layak menempati surga.
Nabi ﷺ bersabda:
لا يدخل الجنة جسد غذي بحرام
“Tidak akan masuk surga tubuh yang diberi makan dengan yang haram.” (HR. Ath-Thabrani )
Kalau memang tidak bisa masuk surga, lantas di mana tempatnya?
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Tidaklah sekerat daging tumbuh dari harta yang haram, melainkan nerakalah tempat yang cocok baginya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Ya, ia akan melahap api dan dilahap api!
Maka…
Celakalah orang yang mengambil hak orang lain.
Celakalah orang yang merampas hak orang lain.
Celakalah orang yang mencuri harta milik orang lain.
Celakalah orang yang memakan dan memakai yang haram!
Bagaimana tidak celaka? Dan bagaimana tidak sengsara?
Kalau pun hasil perbuatannya ia gunakan untuk kebaikan, tetaplah neraka ganjaran untuknya!
من اكتسب مالا من مأثم فوصل به رحمه أو تصدق به أو أنفقه في سبيل الله جمع ذلك كله جميعا فقذف به في جهنم
“Siapa yang mendapatkan harta dengan suatu dosa lalu ia gunakan itu untuk menyambung silaturahmi atau ia sedekahkan atau ia infakkan di jalan Allah, ia lakukan semua itu, maka dengan sebab itu ia akan dicampakkan ke neraka Jahannam.” (HR. Abu Daud dalam Al-Marasil)
Meninggalkan yang Buruk akan Mendapatkan yang Baik
Kalau memang memakan makanan haram akan mencelakakan kita, apakah kita tetap memakannya?
Kalau memang berpakaian pakaian haram akan menyengsarakan kita, apakah kita tetap memakainya?
Tinggalkanlah yang haram, niscaya Allah membukakan pintu-pintu rezeki untukmu dan mencukupimu.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Menyediakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2)
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Tinggalkanlah yang haram, niscaya Allah memudahkan urusanmu.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia memberikan kemudahan untuknya dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq: 4)
Tinggalkanlah yang haram, niscaya Allah menggantikan itu dengan rezeki yang halal lagi lebih baik bagimu.
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya engkau tidaklah meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantikan itu dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)
Jakarta, 22 Dzulhijjah 1441
Abu Yahya Adiya






