“Kamu ini tidak tahu diri! Ingat, dulu kamu itu siapa?! Siapa yang membantu kamu selama ini?! Siapa yang menyekolahkan kamu selama ini?! Di mana otakmu?! Berpikir dong!”
Kalimat itu mungkin saja muncul dari mulut seseorang tatkala menyaksikan orang yang ia pungut sejak kecil ternyata bersikap kurang ajar kepadanya.
Bisa jadi, kita berbuat baik kepada seorang, tapi orang tersebut melupakan kebaikan kita, atau mengingkari kebaikan kita, bahkan bersikap kurang ajar kepada kita.
Itu memang sikap yang tidak pantas.
Namun, walaupun begitu, apakah karena itu kita boleh mengungkit pemberian dan pertolongan yang pernah kita berikan kepadanya?
Akibat Mengungkit Pemberian
- Mengungkit pemberian menghapuskan pahala dari pemberian yang sudah diberikan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian merusak sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)
- Mengungkit pemberian bisa menyeret pelakunya ke neraka.
Nabi ﷺ bersabda:
وَثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى
“Tiga orang yang tidak masuk surga: orang yang durhaka kepada orang tuanya, pecandu minuman keras, dan orang yang mengungkit-ungkit pemberian.” (HR. An-Nasai)
Berilah, Lalu ‘Lupakanlah’!
Allah menyebutkan sifat penghuni surga:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
“Dan mereka memberikan makanan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)
Artinya, mereka suka berbagi makanan, dan suka memberikan pertolongan.
Namun, apa yang mendorong mereka melakukan demikian?
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)
Itulah sikap seorang muslim sejati tatkala berbuat baik kepada orang lain.
Ia tidak mengharap balasan atau pujian dari orang yang ia bantu. Ia tidak pamrih dan tidak pula mengharap ucapan terima kasih.
Ia berbuat baik kepada orang lain semata-mata karena mengharap balasan dari Allah.
Karena itu….
Ia tidak peduli, apakah orang yang ia bantu nanti bertindak kurang ajar atau tidak kepada dirinya.
Ia juga tidak peduli, apakah orang yang ia bantu membalas jasanya atau tidak.
Dan ia tidak peduli, apakah orang yang ia tolong melupakan kebaikannya atau tidak.
Ia tidak mengindahkan semua itu. Sebab, yang ia harapkan adalah balasan dari Allah, dan keridaan dari-Nya.
Karena itu, berilah, bantulah, dan tolonglah. Setelah itu, ‘lupakanlah’!
Siberut, 19 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya






