Memeriksa Teman Bicara Istri

Memeriksa Teman Bicara Istri

Suami mengontrol makanan istrinya? Bisa jadi itu banyak.

Suami mengontrol pakaian istrinya? Bisa jadi itu banyak pula.

Namun, suami mengontrol teman bicara istrinya? Bisa jadi itu jarang.

‘Aisyah berkata:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَعِنْدِي امْرَأَةٌ، فَقَالَ:

“Rasulullah ﷺ menemuiku sedangkan di sisiku ada seorang wanita, lalu beliau ﷺ pun bertanya:

مَنْ هَذِهِ؟

“Siapa ini?”

‘Aisyah pun menjawab pertanyaan Nabi ﷺ itu.

Hadis ini ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin menyebutkan salah satu faidah dari hadis tadi:

أن الإنسان ينبغي له إذا رأى عند أهله أحد أن يسأل:

“Hendaknya seorang suami jika melihat ada seseorang bersama istrinya, hendaknya ia bertanya:

من هو؟

“Siapa ia?” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Ya, siapa ia? Apa maksud kedatangannya?

Kenapa perlu bertanya demikian?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

لأنه قد يكون هذا الداخل على الأهل ممن لا يرغب في دخوله، فإن من النساء من تأتي إلى أهل البيت تحدثهم بأحاديث يأثمون بها من الغيبة وغيرها

“Sebab, bisa jadi orang yang menemui istri itu termasuk orang yang tidak diharapkan kehadirannya. Karena sesungguhnya di antara kaum wanita ada yang datang kepada tuan rumah untuk menyampaikan kepada mereka perkataan yang menyebabkan mereka berdosa, seperti menggunjing dan semacamnya.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Adakalanya keburukan seorang wanita nampak dari sejak awal kedatangannya. Dan ada pula yang samar keburukannya, tapi ujung-ujungnya membuat kerusakan.

Bisa jadi seorang wanita berkunjung ke rumah seseorang lalu bertanya, “Apa saja kegiatan suami? Anak? Saudara?”

Lalu pertanyaannya merembet ke masalah yang sensitif: “Mereka kerja di mana? Berapa gaji mereka?”

Kalau dijawab, “Kerja di tempat A dan gajinya sekian”, tiba-tiba wanita itu berkata, “Wah, banyak sekali itu!”

Di sinilah wanita itu mulai merusak si istri dengan berkata, “Kalau gaji suamimu besar, bagaimana bisa makanmu cuma ini?! Bagaimana bisa bajumu seperti ini?! Dan bagaimana bisa perabot rumahmu tidak lengkap seperti ini?!”

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وما أشبه ذلك، حتى تفسد المرأة على زوجها،

“Dan ia mengucapkan perkataan semacamnya, sehingga akhirnya ia merusak hubungan si istri dengan suaminya.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Karena itu, salah satu tanda kepedulian suami terhadap istrinya yakni memerhatikan siapa teman bicara istrinya. Apakah ia orang yang baik sehingga membuat istrinya baik? Atau ia orang yang rusak sehingga membuat istrinya rusak?

 

Siberut, 10 Jumada Al-Ulaa 1444

Abu Yahya Adiya