Yang Paling Berhak Mendapat Kebaikan

Siapakah orang yang paling baik? Dan siapakah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan?

Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Nabi ﷺ mengatakan ini bukan dalam rangka membanggakan diri di hadapan para sahabatnya.

Imam Ash-Shanani berkata:

بل إعلام للعباد بما كان عليه من حسن العشرة ليقتدوا به

“Bahkan, itu adalah pemberitahuan kepada orang-orang tentang keadaan beliau ﷺ yang mempergauli keluarga beliau dengan baik agar mereka meneladaninya.” (At-Tanwiir Syarh Al-Jami Ash-Shaghir)

Ya, beliau ﷺ menyebutkan perkataan tadi agar umat beliau meneladani beliau. Agar mereka berbuat baik kepada keluarga mereka. Agar mereka menjadi orang yang paling baik kepada keluarga mereka. Dan itulah sebaik-baik orang.

Sebaik-baik orang adalah yang paling baik kepada keluarganya, bukan yang paling baik kepada orang lain di luar rumahnya!

Imam Asy-Syaukani menyebutkan fenomena yang ada di zamannya:

فَتَرَى الرَّجُلَ إذَا لَقِيَ أَهْلَهُ كَانَ أَسْوَأَ النَّاسِ أَخْلَاقًا وَأَشْجَعَهُمْ نَفْسًا وَأَقَلَّهُمْ خَيْرًا، وَإِذَا لَقِيَ غَيْرَ الْأَهْلِ مِنْ الْأَجَانِبِ لَانَتْ عَرِيكَتُهُ وَانْبَسَطَتْ أَخْلَاقُهُ وَجَادَتْ نَفْسُهُ وَكَثُرَ خَيْرُهُ، وَلَا شَكَّ أَنَّ مَنْ كَانَ كَذَلِكَ فَهُوَ مَحْرُومُ التَّوْفِيقِ زَائِغٌ عَنْ سَوَاءِ الطَّرِيقِ

“Engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan keluarganya, ia sangat buruk akhlaknya, sangat lancang, dan sangat sedikit kebaikannya. Namun, jika ia bertemu dengan orang lain selain keluarganya, lembut perangainya, bagus akhlaknya, murah hatinya, dan banyak kebaikannya. Tidak diragukan lagi, siapa yang demikian, maka ia tidak mendapat taufik dan menyimpang dari jalan yang lurus.” (Nail Al-Authar)

Lihatlah, siapa yang demikian, maka ia tidak mendapat taufik dan menyimpang dari jalan yang lurus!

Dan itu serupa dengan perkataan Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin. Beliau berkata:

وهذا عكس ما يفعله بعض الناس اليوم، تجده سيئ الخلق مع أهله، حسن الخلق مع غيرهم، وهذا خطأ عظيم؛

“Ini berbeda dengan perbuatan sebagian orang sekarang ini. Engkau dapati ia berperilaku buruk kepada keluarganya, tetapi berperilaku baik kepada selain mereka. Itu kesalahan besar!” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Lihatlah, itu kesalahan besar!

Maka, orang yang baik kepada orang lain, tapi buruk kepada keluarga sendiri adalah orang yang tidak mendapat taufik, menyimpang dari jalan yang lurus, dan telah melakukan kesalahan besar.

Kenapa demikian?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

أهلك أحق بإحسان الخلق؛ أحسن الخلق معهم؛ لأنهم هم الذين معك ليلاً ونهاراً، سراً وعلانية، إن أصابك شيء أصيبوا معك، وإن سررت سروا معك، وإن حزنت حزنوا معك

“Keluargamu itu lebih berhak mendapatkan perlakuan baik. Berperilaku baiklah kepada mereka. Sebab, merekalah yang bersamamu, baik di waktu malam maupun siang, dan baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Jika engkau mendapatkan musibah, mereka pun ikut merasakannya bersamamu. Dan jika engkau merasakan kesenangan, mereka pun ikut merasakannya bersamamu. Dan jika engkau sedih, mereka pun ikut bersedih bersamamu.

فلتكن معاملتك معهم خيراً من معاملتك مع الأجانب

Hendaknya interaksimu dengan mereka lebih baik daripada interaksimu dengan orang lain.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Ya, hendaknya interaksi seorang muslim dengan keluarganya lebih baik daripada interaksinya dengan sahabatnya atau orang lain di luar rumahnya.

Kalau ia bisa berbuat baik kepada orang lain, maka seharusnya ia pun bisa berbuat baik kepada keluarganya. Orang terdekat dengannya.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

فإذا كان فيك خير؛ فاجعله عند أقرب الناس لك وليكن أول المستفيدين من هذا الخير.

“Jika pada dirimu ada kebaikan, maka berikanlah itu kepada orang yang paling dekat denganmu. Hendaknya ia adalah orang pertama yang mengambil manfaat dari kebaikanmu itu.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Di antara kebaikan yang berhak diraih oleh keluarga yaitu bimbingan dan nasehat dalam masalah agama. Merekalah orang yang paling berhak mendapatkan itu sebelum orang lain.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahriim: 6)

Apa maksud menjaga keluarga dari api neraka?

Ali bin Abi Thalib berkata:

علِّموهم، وأدّبوهم

“Ajarilah mereka dan didiklah mereka.” (Jami Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)

Maka, tidak sepantasnya seseorang mati-matian membimbing dan menasehati orang lain, sedangkan keluarga sendiri ia lalaikan. Padahal, orang yang ada di dalam rumahnya lebih berhak mendapatkan ilmu daripada orang yang ada di luar rumahnya!

Syekh Abdul Aziz As-Sadhan menyebutkan faidah dari hadis di awal tulisan tadi:

وفيه: الرد على من أهمل شأن أهله وبيته بدعوى التفرغ لدعوة الناس!

“Dalam hadis ini terdapat bantahan terhadap orang yang melalaikan keadaan keluarganya dan rumahnya dengan alasan fokus mendakwahi orang-orang!” (Arbauun Haditsan Fii At-Tarbiyah wa Al-Manhaj)

 

Siberut, 26 Rabiul Tsani 1444

Abu Yahya Adiya