Seandainya kita melihat keadaan para sahabat Nabi ﷺ ketika keluar dari kota Mekah, tentu terenyuhlah hati kita.
Seandainya kita menyaksikan perubahan hidup yang mereka alami, tentu meneteslah air mata kita.
Mereka menjadi fakir, setelah sebelumnya mereka orang-orang yang berada.
Mereka menjadi miskin, setelah sebelumnya mereka orang-orang yang berharta.
Mereka meninggalkan rumah-rumah yang selama ini mereka diami.
Mereka meninggalkan harta benda dan perniagaan yang selama ini mereka jalani.
Tidak ada yang mereka bawa menuju Madinah melainkan bekal makanan sekadarnya, pakaian yang melekat di badan serta iman yang menghunjam di dada.
Sampailah mereka di tujuan. Apa yang mereka dapatkan? Apa yang akan mereka makan? Di mana mereka akan tinggal?
Di antara mereka ada yang mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal.
Dan yang lainnya, mencari dan terus mencari, tapi tidak mendapatkan pekerjaan apa pun dan tidak pula tempat tinggal.
Mereka benar-benar menjadi miskin dan tidak berharta.
Namun, mengapa mereka tidak meminta makan kepada orang-orang yang mereka temui?
Kenapa mereka tidak meminta belas kasih kepada orang-orang yang mereka jumpai?
Ada apa dengan mereka ini???
Mereka Diizinkan Meminta-Minta
Nabi ﷺ bersabda:
يَا قَبِيصَةُ إِنَّ المَسأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاثَةٍ:
“Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak diperbolehkan kecuali bagi salah satu dari tiga macam orang ini:
رَجُلٌ تَحَمَّلَ حمالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ المَسْأَلَةُ حَتَّى يُصيبَها، ثُمَّ يُمْسِكُ
Seorang yang menanggung beban hutang (untuk kemaslahatan kaum muslimin), maka ia diperbolehkan meminta hingga ia memperoleh harta yang diperlukan, kemudian ia menahan diri (jangan meminta-minta lagi).
ورجُلٌ أَصابَتْهُ جائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مالَهُ، فَحَلَّتْ لهُ المَسأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَاماً مِنْ عيْشٍ
Dan seorang yang terkena bencana, sehingga musnahlah hartanya, maka ia diperbolehkan meminta, hingga ia memperoleh sesuatu untuk menutupi keperluan hidupnya.
ورَجُلٌ أَصابَتْهُ فاقَة، حَتى يقُولَ ثلاثَةٌ مِنْ ذَوي الحِجَى مِنْ قَوْمِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاناً فَاقَةٌ، فحلَّتْ لَهُ المسْأَلةُ حتَّى يُصِيبَ قِواماً مِنْ عَيْشٍ
Dan juga seorang yang mengalami kemiskinan, sehingga ada tiga orang yang bijak dari kaumnya berkata: “Si Fulan benar-benar mengalami kemiskinan!”, maka orang semacam itu diperbolehkan meminta, hingga ia memperoleh sesuatu untuk menutupi keperluan hidupnya.
فَمَا سِواهُنَّ مِنَ المَسأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتٌ، يأَكُلُها صاحِبُها سُحْتاً
Adapun meminta-minta bagi selain tiga macam orang tadi, hai Qabishah, itu adalah haram dan pelakunya telah memakan yang haram.” (HR. Muslim)
Selain dari 3 orang tadi, maka meminta-minta adalah perbuatan yang haram. Harta yang didapatkan pun haram. Maukah kita memakan harta yang haram?
Nabi kita ﷺ bersabda:
مَنْ سَأَلَ النَّاس تَكَثُّراً فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْراً، فَلْيسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ
“Siapa yang meminta harta kepada manusia dalam rangka memperbanyaknya, maka sesungguhnya ia meminta bara api, terserah ia mau mengambil sedikit atau banyak.” (HR. Muslim)
Ya, terserah apakah mau mengambil sedikit atau banyak, itu adalah bara api. Maukah kita mendapatkan bara api?
Nabi ﷺ juga bersabda:
لاَ تَزَالُ المَسأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتى يَلْقى اللَّه تَعَالَى ولَيْسَ في وَجْهِهِ مُزْعةُ لَحْمٍ
“Senantiasa salah seorang dari kalian meminta-minta sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, tidak ada sekerat daging pun di wajah. Maukah kita menemui Allah dalam keadaan tidak memiliki sekerat daging pun di wajah kita?
Meminta pun Mereka Tak Sudi
Suatu hari Rasulullah ﷺ bersama sembilan atau delapan atau tujuh orang sahabat beliau. Tiba-tiba beliau ﷺ bersabda:
أَلاَ تُبَايِعُونَ رَسُولَ اللَّه ﷺ
“Tidakkah kalian bersumpah setia kepada Rasulullah?”
Padahal, mereka baru saja bersumpah setia kepada beliau, maka mereka pun menjawab:
قَدْ بايعْناكَ يَا رسُولَ اللَّهِ
“Kami sudah bersumpah setia kepadamu, wahai Rasulullah.”
Lalu beliau ﷺ kembali bertanya:
“ألا تُبَايِعُونَ رسولَ اللهِ؟ “
“Tidakkah kalian bersumpah setia kepada Rasulullah?”
Maka mereka pun membentangkan tangan mereka dan berkata:
قد بايعناك يا رسول الله فَعَلاَم نَبَايِعُكَ؟
“Kami sudah bersumpah setia kepadamu, wahai Rasulullah, lalu untuk apa lagi kami bersumpah setia kepadamu?”
Beliau ﷺ bersabda:
عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللَّه وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، والصَّلَوَاتِ الخَمْس وَتِطيعُوا
“Agar kalian beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya sedikit pun, kalian mengerjakan salat lima waktu dan taat kepadaku.”
Dan beliau ﷺ membisikkan kata-kata dengan pelan:
وَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسِ شَيْئاً
“Dan jangan kalian meminta kepada manusia sedikit pun!”
‘Auf Bin Malik Al-Asyja’i berkata:
فَلَقَدْ رَأَيتُ بَعْضَ أُولِئكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحدِهِمْ فَما يَسْأَلُ أَحَداً يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ
“Sungguh, aku telah melihat sebagian dari mereka, ketika salah seorang di antara mereka jatuh cemetinya, ia tidak meminta kepada seorang pun untuk mengambilkan itu!” (HR.Muslim)
Lihatlah para sahabat Nabi ﷺ, mereka sangat menjauhi perbuatan meminta-minta.
Lihatlah orang-orang terbaik di umat ini, mereka tidak mau meminta-minta hingga dalam masalah remeh sekalipun.
Lihatlah, mereka tidak sudi meminta-minta, sampai dalam masalah yang tidak memberatkan orang lain sekalipun.
Tidak Meminta Berbuah Surga
Meminta adalah perbuatan hina. Sedangkan tidak meminta adalah perbuatan mulia. Ya, mulia dan bisa mengantarkan pada kedudukan yang mulia.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَكَفَّلَ لِي أَن لاَ يسْأَلَ النَّاسَ شَيْئاً، وَأَتَكَفَّلُ لَهُ بالجَنَّة؟
“Siapa yang bisa menjamin kepadaku bahwa ia tidak akan meminta kepada manusia sedikit pun, dan aku pun menjaminnya untuk bisa masuk surga?”
Tsauban berkata:
أَنا
“Aku.”
فَكَانَ لاَ يسْأَلُ أَحَداً شَيْئا
Maka sejak saat itu Tsauban tidak meminta kepada siapapun.” (HR. Abu Dawud)
Siberut, 5 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya






