Meminta Tolong Kepada Orang Saleh Adalah Syirik?

Meminta Tolong Kepada Orang Saleh Adalah Syirik?

Penyembah kubur: Berani-beraninya Anda menganggap saya musyrik karena saya minta tolong kepada orang saleh.

Bukankah Anda tahu bahwa orang-orang di hari kiamat nanti meminta tolong kepada Nabi Adam lalu Nabi Nuh lalu Nabi Ibrahim, Musa, dan ‘Isa agar berdoa kepada Allah supaya Dia tidak murka kepada mereka, kemudian para nabi itu pun meminta maaf karena tidak menyanggupi permintaan mereka?

 

Penyembah Allah: Ya, saya tahu itu.

 

Penyembah kubur: Bukankah setelah itu mereka meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ lalu beliau pun menyanggupi permintaan mereka?

 

Penyembah Allah: Ya, betul. Nabi ﷺ menyanggupi permintaan mereka. Beliau berdoa kepada Allah lalu mereka pun menjadi tenang.

 

Penyembah kubur: Bukankah para nabi adalah orang-orang yang baik dan saleh?

 

Penyembah Allah: Tentu mereka orang-orang yang baik dan saleh. Tidak diragukan lagi.

 

Penyembah kubur: Kalau memang meminta tolong kepada orang yang baik dan saleh adalah syirik, tentu para nabi tadi mengingkari permintaan mereka. dan tentu saja nabi kita tidak sudi memenuhi permintaan mereka!

 

Penyembah Allah: Bukankah para nabi ketika itu hidup?

 

Penyembah kubur: Ya, betul. Mereka hidup.

 

Penyembah Allah: Bukankah permintaan mereka juga masih disanggupi oleh nabi kita?

 

Penyembah kubur: Ya, betul. Masih disanggupi oleh nabi kita.

 

Penyembah Allah: Itulah bedanya perbuatan mereka dengan perbuatan Anda!

Mereka meminta tolong kepada orang yang hidup, sedangkan Anda meminta tolong kepada orang yang sudah mati!

Mereka meminta tolong kepada manusia dalam perkara yang masih ia sanggupi, sedangkan Anda meminta tolong kepada manusia dalam perkara yang hanya disanggupi oleh Allah!

 

Penyembah kubur: Lho, apa bedanya?

 

Penyembah Allah: Meminta tolong kepada orang yang masih hidup dalam perkara yang masih ia sanggupi adalah diperbolehkan.

Sebagaimana Allah telah menceritakan kejadian yang pernah terjadi pada diri Nabi Musa:

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ

“Maka orang dari Bani Israel meminta pertolongan kepada Musa untuk mengalahkan orang yang merupakan musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al-Qashash: 15)

Ayat ini menunjukkan boleh meminta tolong kepada seseorang dalam perkara yang masih ia sanggupi.

Karena itu, boleh Anda meminta tolong kepada orang saleh yang masih hidup agar berdoa kepada Allah supaya mengampuni Anda.

Dan itulah yang dipraktekkan para sahabat Nabi ﷺ di masa hidup beliau. Mereka mendatangi Nabi ﷺ lalu memohon kepada beliau agar berdoa kepada Allah untuk mereka.

Dan itu di masa hidup beliau. Adapun ketika beliau ﷺ sudah wafat, apakah ada riwayat yang menyebutkan bahwa ada seorang sahabat Nabi yang mendatangi kubur beliau lalu meminta kepada beliau agar berdoa kepada Allah untuknya?

 

Penyembah kubur: Tidak ada.

 

Penyembah Allah: Itu menunjukkan tidak boleh meminta tolong kepada orang yang sudah mati. Dan itu tidak pernah dilakukan dan tidak dibolehkan oleh para sahabat Nabi, dan tabiin.

Jangankan membolehkan minta tolong kepada Nabi ﷺ setelah beliau wafat, menyengaja berdoa kepada Allah di dekat kuburnya pun mereka ingkari dan mereka larang!

Suatu hari ‘Ali bin Al-Husain melihat seseorang masuk ke dalam celah yang ada pada makam Rasulullah ﷺ, lalu berdoa di situ. ‘Ali pun melarangnya dengan berkata:

أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ أَبِي عَنْ جَدِّي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ

“Maukah engkau kusampaikan sebuah hadis yang kudengar dari ayahku, lalu dari kakekku, dari Rasulullah ﷺ? Beliau bersabda:

لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا وَلا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا فَإِنَّ تَسْلِيمَكُمْ يَبْلُغُنِي أَيْنَمَا كُنْتُمْ

“Jangan kalian jadikan kuburku sebagai tempat perayaan, dan jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, karena sesungguhnya salam kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada.” (Disebutkan dalam Al-Mukhtarah)

 

Siberut, 11 Rabi’ul Tsani 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Kasyf Asy-Syubhat karya Imam Muhammad At-Tamimi.