Menjadi Contoh yang Baik dan Buruk

Menjadi Contoh yang Baik dan Buruk

Melihat saudaranya lebih sukses, mendidihlah darahnya. Hari demi hari berlalu, makin mendidihlah darahnya. Puncaknya….

Ia nekat menghabisi saudaranya!

Siapakah ia?

Seorang putra Nabi Adam (ada yang mengatakan namanya Qabil).

Lantas, apa akibat yang mesti ia tanggung?

Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنْ نفْسٍ تُقْتَلُ ظُلماً إِلاَّ كَانَ عَلَى ابنِ آدمَ الأوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دمِهَا لأَنَّهُ كَان أَوَّل مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

“Tidak ada seorang pun yang dibunuh secara zalim, melainkan anak Adam yang pertama turut menanggung darahnya. Sebab, dialah yang pertama kali mencontohkan pembunuhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ia harus menanggung dosa orang-orang yang membunuh secara zalim sejak zaman dahulu hingga hari kiamat!

Kenapa demikian? Sebab, dialah yang pertama kali mencontohkan pembunuhan.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ في الإِسْلام سُنةً حَسنةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وأَجْرُ منْ عَملَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ ينْقُصَ مِنْ أُجُورهِمْ شَيءٌ، ومَنْ سَنَّ في الإِسْلامِ سُنَّةً سيَّئةً كَانَ عَليه وِزْرها وَوِزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بعْده مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزارهمْ شَيْءٌ

“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, maka ia memperoleh pahalanya dan juga pahala dari orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka. Dan siapa yang mencontohkan perbuatan buruk dalam Islam, maka ia memperoleh dosanya dan juga dosa dari orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikit pun dosa mereka.” (HR. Muslim)

Jika seseorang menjadi contoh baik bagi orang lain, lalu ada orang yang menirunya, maka alangkah banyaknya pahala yang menghampirinya.

Mengapa begitu?

Sebab, ia akan mendapatkan pahala karena kebaikan yang sudah ia lakukan dan mendapatkan pula pahala dari orang yang menirunya. Makin banyak orang yang meniru kebaikan yang ia lakukan, maka makin banyak pula pahala yang ia raih.

Itu dalam hal kebaikan, maka demikian pula dalam hal keburukan.

Jika seseorang menjadi contoh buruk bagi orang lain, lalu ada orang yang menirunya, maka alangkah banyaknya dosa yang ia raih.

Mengapa begitu?

Sebab, ia akan mendapatkan dosa karena keburukan yang sudah ia lakukan dan mendapatkan juga dosa dari orang yang menirunya. Makin banyak orang yang meniru keburukan yang ia lakukan, maka makin banyak pula dosa yang ia raih.

Karena itu, orang “awam” dengan orang yang sudah “ngaji”, kalau kedua-duanya bermaksiat, maka akibatnya akan berbeda.

Orang awam kalau berbuat maksiat, maka ia berdosa. Adapun orang yang dianggap mengerti agama, kalau berbuat maksiat, maka bisa lebih besar lagi dosanya.

Mengapa begitu?

Sebab, orang-orang awam akan menirunya. Meniru dosa dan kesalahannya.

Kalau mereka ditegur, bisa jadi mereka akan berkata:

“Ah, nggak usah terlalu kaku! Itu si fulan yang ngerti agama aja nggak seperti itu!”

“Masak ini nggak boleh. Kalau ini nggak boleh, nggak mungkin dilakukan si anu yang ngerti agama!”

Maka, jadilah contoh yang baik bagi orang lain, dan jangan jadi contoh yang buruk bagi orang lain!

Siberut, 9 Syawwal 1438

Abu Yahya Adiya