“Cucuku ini adalah pemimpin. Kelak Allah mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin lewat dirinya.” (HR. Bukhari)
Itulah kabar dari Nabi ﷺ tentang cucu beliau, yaitu Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib.
Dan ternyata apa yang beliau ﷺ kabarkan itu benar-benar terjadi.
Setelah ‘Ali bin Abi Thalib terbunuh, sebagian kaum muslimin membaiat Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, dan itu bukan karena wasiat dari ayahnya.
Namun, setelah kekuasaan berada dalam genggamannya, Al-Hasan ternyata membaiat Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan menyerahkan kepemimpinan umat kepadanya.
Dengan itu, bersatulah kaum muslimin dalam satu kepemimpinan setelah sebelumnya tercerai-berai sejak terbunuhnya khalifah ‘Utsman bin Affan.
Tahun peristiwa itu dikenal dengan tahun jamaah yaitu tahun persatuan umat.
Kejadian itu menunjukkan bahwa mengalah itu akan mengantarkan pada perdamaian. Dan perdamaian akan mengantarkan pada kedamaian.
Kalau itu berlaku pada umat secara umum, maka begitu pula pada pasangan suami istri secara khusus.
Abu Ad-Darda berkata kepada istrinya:
إِذَا غَضِبْتُ فرضيني وإذا غضبت رضيتك فإذا لم نكن هكذا ما أَسْرَعَ مَا نَفتَرِق
“Jika aku marah, maka berusahalah membuatku rida. Dan jika engkau marah, maka aku pun berusaha membuatmu rida. Jika kita tidak demikian, maka alangkah cepatnya kita berpisah.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Jika api dihadapi dengan air, maka akan padamlah api itu. Sebaliknya, jika api dibalas dengan api juga, maka makin berkobarlah api itu dan kian sulitlah api itu dipadamkan.
Karena itu, kalau suami istri mudah mengalah, maka makin mudahlah terwujud kedamaian di dalam rumah. Namun, kalau keduanya lebih mengutamakan ego mereka masing-masing, maka makin sulitlah terwujud kedamaian di dalam rumah.
Sadarilah bahwa setiap orang pasti punya kekurangan. Sadarilah bahwa mengalah dan memaafkan mengantarkan pada kedamaian.
Raja bin Haywah berkata:
من لم يؤاخ إلا من لا عيب فيه قل صديقه, ومن لم يرض من صديقه إلا بالإخلاص له دام سخطه, ومن عاتب إخوانه على كل ذنب كثر عدوه
“Siapa yang tidak mau berteman kecuali dengan orang yang tidak memiliki kekurangan, maka akan sedikit temannya. Siapa yang tidak rela kepada temannya kecuali kalau ia tulus kepadanya, maka akan selalu muncul kekesalannya. Dan siapa yang mencela sahabatnya atas setiap kesalahan yang ia lakukan, maka akan banyak musuhnya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Siberut, 15 Shafar 1446
Abu Yahya Adiya






