Siapa Pilihan Syiah, Al-Ḥasan atau Al-Ḥusain?

Siapa Pilihan Syiah, Al-Ḥasan atau Al-Ḥusain?

“Demi Allah, Al-Ḥasan bin ’Ali menghadap Mu’āwiyah dengan membawa pasukan yang semacam gunung.” (HR. Bukhari)

Demikianlah pernyataan Imam Al-Ḥasan Al-Baṣri yang menggambarkan besarnya pasukan Al-Ḥasan bin ’Ali. Namun, siapa sangka, Al-Ḥasan justru tidak jadi memerangi pasukan Mu’āwiyah, melainkan berdamai dengannya dan menyerahkan kekuasaan kepadanya!

Sebaliknya, adiknya, yaitu Al-Ḥusain bin ’Ali. menentang Yazīd bin Mu’āwiyah dengan hanya membawa 45 orang penunggang kuda dan 100 pejalan kaki, sementara pasukan Yazid yang dipimpin oleh ’Ubaidullāh bin Ziyād berjumlah 4.000 penunggang kuda! Akhirnya, Al-Ḥusain pun terbunuh secara tragis.

Dua peristiwa ini merupakan fakta yang membingungkan bagi kaum Syiah.

Mengapa Al-Ḥasan bin ’Ali justru berdamai dan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’āwiyah? Bukankah ia memiliki kekuatan untuk memerangi Mu’āwiyah?

Sebaliknya, mengapa Al-Ḥusain bin ’Ali memilih memerangi Yazīd bin Mu’āwiyah dan tidak berdamai dengannya? Bukankah ia dalam posisi lemah dan tidak sanggup memerangi pasukannya?

Maka, siapa yang benar di antara dua orang ini?

Apabila kaum Syiah menyatakan bahwa perbuatan keduanya benar, tentu saja itu batil. Sebab, mereka sudah menggabungkan dua hal yang saling bertentangan. Dengan demikian, mereka harus menyatakan salah satu di antara keduanya benar, sedangkan yang lainnya salah.

Syekh Sulaimān Al-Khurāsyī berkata:

إن كان تنازل الحسن مع تمكنه من الحرب (حقاً) كان خروج الحسين مجرداً من القوة مع تمكنه من المسالمة (باطلاً)، وإن كان خروج الحسين مع ضعفه (حقاً) كان تنازل الحسن مع ( قوته) باطلاً!

“Jika penyerahan kekuasaan yang dilakukan oleh Al-Ḥasan dalam keadaan ia mampu untuk berperang adalah suatu kebenaran, berarti keluarnya Al-Ḥusain untuk berperang dalam keadaan tidak memiliki kekuatan, padahal ia mampu untuk berdamai, adalah suatu kesalahan. Dan jika keluarnya Al-Ḥusain dalam keadaan lemah adalah suatu kebenaran, berarti penyerahan kekuasaan yang dilakukan oleh Al-Ḥasan dalam keadaan kuat adalah suatu kesalahan.” (As‘ilah Qādat Syabāb Asy-Syī’ah ilā Al-Ḥaq)

Dengan demikian, perbuatan siapakah yang benar menurut mereka? Apakah perbuatan Al-Ḥasan atau Al-Ḥusain? Apabila mereka menyatakan perbuatan Al-Ḥasan benar, berarti perbuatan Al-Ḥusain salah. Namun, jika mereka menyatakan perbuatan Al-Ḥusain benar, berarti perbuatan Al-Ḥasan salah. Itu adalah pertanyaan yang sulit dan dapat mengguncang keyakinan mereka.

Syekh Sulaimān Al-Khurāsyī berkata:

وإن قالوا ببطلان فعل الحسن لزمهم أن يقولوا ببطلان إمامته، وبطلان إمامته يبطل إمامة أبيه وعصمته؛ لأنه أوصى إليه، والإمام المعصوم لا يوصي إلا إلى إمام معصوم مثله حسب مذهبهم.

“Jika mereka menyatakan bahwa perbuatan Al-Ḥasan adalah salah, maka konsekuensinya mereka harus menyatakan bahwa kepemimpinannya batal. Padahal, bila kepemimpinannya batal, berarti batal pula kepemimpinan ayahnya dan keterjagaannya dari kesalahan. Sebab, ayahnya telah memberikan wasiat kepemimpinan kepadanya, sementara menurut pendapat mereka, imam yang maksum tidak mungkin memberikan wasiat kepemimpinan kecuali kepada imam lain yang juga maksum seperti dirinya.” (As‘ilah Qādat Syabāb Asy-Syī’ah ilā Al-Ḥaq)

Artinya, apabila kaum Syiah menyatakan bahwa perbuatan Al-Ḥasan salah, berarti ia tidak maksum (terjaga dari kesalahan). Hal itu bertentangan dengan keyakinan mereka bahwa imam mereka terjaga dari kesalahan. Jika Al-Ḥasan tidak terjaga dari kesalahan, berarti ia tidak layak menjadi pemimpin. Apabila ia tidak layak menjadi pemimpin, berarti ayahnya, yaitu ’Ali bin Abī Ṭālib, juga tidak layak menjadi pemimpin. Sebab, ia telah melakukan kesalahan dengan mengangkat orang yang dianggap bermasalah sebagai pemimpin.

Apabila mereka menyatakan bahwa perbuatan Al-Ḥusain yang salah, maka hal itu pun dapat meruntuhkan akidah mereka.

Syekh Sulaimān Al-Khurāsyī berkata:

وإن قالوا ببطلان فعل الحسين لزمهم أن يقولوا ببطلان إمامته وعصمته، وبطلان إمامته وعصمته يبطل إمامة وعصمة جميع أبنائه وذريته؛ لأنه أصل إمامتهم وعن طريقه تسلسلت الإمامة، وإذا بطل الأصل بطل ما يتفرع عنه!

“Jika mereka menyatakan bahwa perbuatan Al-Ḥusain adalah salah, maka konsekuensinya mereka harus menyatakan batalnya kepemimpinannya dan keterjagaannya dari kesalahan. Dan apabila batal kepemimpinannya dan keterjagaannya dari kesalahan, berarti batal pula kepemimpinan dan keterjagaan seluruh anak dan keturunannya dari kesalahan. Sebab, Al-Ḥusain adalah asal dari garis kepemimpinan mereka dan lewat dialah rantai kepemimpinan itu bersambung. Jika telah batal asalnya, maka batal pula segala sesuatu yang bercabang darinya!” (As‘ilah Qādat Syabāb Asy-Syī’ah ilā Al-Ḥaq)

Artinya, apabila kaum Syiah menyatakan bahwa perbuatan Al-Ḥusain salah, berarti ia tidak terjaga dari kesalahan. Jika ia tidak terjaga dari kesalahan, berarti ia tidak layak menjadi pemimpin. Jika ia tidak layak menjadi pemimpin, maka keturunannya pun tidak layak menjadi pemimpin. Sebab, apakah mungkin buah yang indah muncul dari pohon yang berakar rusak?

 

Siberut, 13 Jumādā Al-Ūlā

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. As‘ilah Qādat Syabāb Asy-Syī’ah ilā Al-Ḥaq karya Syekh Sulaimān Al-Khurāsyī
  2. https://www.alukah.net/spotlight/0/62405/%D9%85%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%B3%D9%8A%D9%86-%D8%A8%D9%86-%D8%B9%D9%84%D9%8A-%D9%81%D9%8A-%D9%83%D8%B1%D8%A8%D9%84%D8%A7%D8%A1/