“Siapa yang menipu, maka ia bukan termasuk umatku!” (HR. Muslim)
Demikianlah Nabiﷺ bersabda. Itu merupakan ancaman keras bagi orang yang suka menipu. Siapa pun itu. Termasuk para pemegang kekuasaan.
Nabi ﷺ bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seorang hamba dianugerahi oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, lalu saat meninggal dunia ia dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau Allah sampai mengharamkan seseorang masuk surga, itu menunjukkan perbuatannya amat parah dan sangat besar dosanya.
Syaikh Faishal Al-Mubarak berkata:
في هذا الحديث: وعيدٌ شديد لمن ولي أمر المسلمين ثم خانهم وغشهم وقدم مصلحته على مصلحتهم.
“Dalam hadis ini terdapat ancaman berat bagi orang yang mengurus urusan kaum muslimin lalu berkhianat dan menipu mereka serta mendahulukan kemaslahatannya daripada kemaslahatan mereka.” (Tathriz Riyadh Ash-Shalihin)
Demi melanggengkan kekuasaan, sebagian penguasa melakukan manipulasi, pencitraan, dan penipuan. Apa yang mereka harapkan bisa jadi terwujud dan bisa jadi tidak, tapi yang jelas ada dosa di hadapan mereka!
Imam Adz-Dzahabi berkata:
الْكَبِيرَة السَّادِسَة عشرَة غش الإِمَام الرعية وظلمه لَهُم
“Dosa besar keenam belas yaitu tipuan penguasa terhadap rakyatnya dan kezalimannya terhadap mereka.” (Al-Kabair)
Kejujuran akan mengantarkan pada keberuntungan. Sebaliknya, kebohongan akan mengantarkan pada kerugian. Kalaupun itu tidak terjadi di dunia, pasti itu terjadi di akhirat!
Siberut, 19 Jumada Al-Ulaa 1446
Abu Yahya Adiya






