Menjaga Perasaan

Menjaga Perasaan

Seorang mukmin yang cerdas adalah sosok yang peka terhadap keadaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia bisa menangkap perasaan mereka, dan berusaha menjaganya selama itu tidak keluar dari rel agama.

Dan itu telah dituntunkan oleh Tuhan kita.

Allah berfirman:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Dan jika sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. An-Nisaa: 8 )

Ayat ini menyinggung tentang pembagian warisan. Allah memberikan tuntunan: jika warisan dibagikan, lalu dihadiri kerabat yang tidak mempunyai hak waris, atau disaksikan anak yatim dan orang miskin, maka hendaknya mereka yang menghadiri dan menyaksikan itu diberikan pemberian sekadarnya dari warisan itu.

Mengapa demikian?

Syekh As-Sa’di berkata:

فإن نفوسهم متشوفة إليه، وقلوبهم متطلعة

“Sebab, jiwa mereka mengharapkannya dan hati mereka menginginkannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan)

Ya, pemberian itu untuk menghibur mereka dan menjaga perasaan mereka.

Namun, apakah itu hanya dalam pembagian warisan?

Syekh As-Sa’di berkata:

ويؤخذ من المعنى أن كل من له تطلع وتشوف إلى ما حضر بين يدي الإنسان، ينبغي له أن يعطيه منه ما تيسر

“Dari makna ayat ini bisa diambil faidah yaitu setiap yang menginginkan dan mengharapkan apa yang ada di hadapan seseorang, maka hendaknya ia diberi apa yang mudah darinya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fi Tafsir Kalam Al-Mannan)

Dan itu telah dituntunkan oleh nabi kita.

Beliau ﷺ bersabda:

إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ، فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ، فَليُنَاوِلْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ أَوْ لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ، فَإِنَّهُ وَلِيَ حره وعِلاَجَهُ

“Jika salah seorang dari kalian disuguhi makanan oleh pembantunya, maka ajaklah ia untuk makan bersama. Kalau tidak, maka berilah sesuap atau dua suap, karena sesungguhnya ia telah merasakan panas masakan itu dan menghirup aromanya.” (HR.Bukhari).

Kenapa berilah sesuap atau dua suap?

Nabi ﷺ menyebutkan, “karena sesungguhnya ia telah merasakan panas masakan itu dan menghirup aromanya.”

Ya, pemberian itu untuk menghibur hatinya dan menjaga perasaannya.

Demikianlah tuntunan nabi kita. Beliau membimbing kita agar menjaga perasaan saudara kita. Bagaimana pun kedudukannya, dan bagaimana pun statusnya.

Dan itu juga telah dituntunkan oleh pendahulu kita.

‘Amru bin Qais berkata:

كَانُوا يَكْرَهُونَ أَنْ يُعْطِي الرَّجُلُ صَبِيَّهُ شَيْئًا فَيُخْرِجُهُ فَيَرَاهُ الْمِسْكِينُ فَيَبْكِي عَلَى أَهْلِهِ وَيَرَاهُ الْيَتِيمُ فَيَبْكِي عَلَى أَهْلِهِ

“Mereka (salaf) tidak suka jika seseorang memberikan sesuatu kepada anaknya, lalu si anak membawanya keluar sehingga dilihat oleh orang miskin lalu si miskin pun menangisi keluarganya dan dilihat oleh anak yatim lalu si yatim pun menangisi keluarganya.” (Mushonnaf Ibn Abi Syaibah)

 

Siberut, 19 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya