Menjaga Salat dan Lisan

Menjaga Salat dan Lisan

“Ada dua perkara pada seorang hamba yang jika keduanya baik, maka akan baik pula yang lainnya yaitu salatnya dan lisannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Itulah perkataan Yunus bin ‘Ubaid, seorang ulama tabiin.

Ada dua perkara yang jika kita bisa menjaga keduanya, maka baik pula perkara selain keduanya.

Kedua perkara itu adalah salat dan lisan.

Adapun salat, maka itu adalah rukun Islam yang sangat agung dan paling agung setelah dua kalimat syahadat.

Saking agungnya salat, sampai-sampai itu bisa mencegah seseorang dari perbuatan dosa yang akan ia lakukan.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabuut: 45)

Kenapa demikian?

Imam Al-Qurthubi menjelaskan:

وَذَلِكَ لِمَا فِيهَا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ الْمُشْتَمِلِ عَلَى الْمَوْعِظَةِ. وَالصَّلَاةُ تَشْغَلُ كُلَّ بَدَنِ الْمُصَلِّي، فَإِذَا دَخَلَ الْمُصَلِّي فِي مِحْرَابِهِ وَخَشَعَ وأخبت لربه وادكر أَنَّهُ وَاقِفٌ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَأَنَّهُ مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ وَيَرَاهُ، صَلُحَتْ لِذَلِكَ نَفْسُهُ وَتَذَلَّلَتْ، وَخَامَرَهَا ارْتِقَابُ اللَّهِ تَعَالَى، وَظَهَرَتْ عَلَى جَوَارِحِهِ هَيْبَتُهَا

“Karena di dalam salat ada bacaan Al-Quran yang mengandung pelajaran. Salat itu menyibukkan semua badan orang yang melaksanakannya. Jika seseorang memasuki tempat salatnya dalam keadaan khusyuk, tunduk kepada Tuhannya, dan sadar bahwa ia akan berdiri di hadapan-Nya, dan Dia melihat serta menyaksikannya, maka karena itu akan baik dan tunduklah dirinya. Perasaan diawasi oleh Allah akan menyeliputi dirinya dan kewibawaan dirinya akan tampak pada anggota tubuhnya.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)

Karena itu, siapa yang melaksanakan salat dengan sempurna, maka terjagalah anggota tubuhnya dari maksiat dan dosa. Dan siapa yang bisa menjaga salatnya, maka sangat mungkin ia bisa menjaga ibadah lainnya.

Adapun lisan, maka ia merupakan komandan anggota badan.

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ:

“Jika seorang manusia berada di pagi hari, maka semua anggota tubuhnya tunduk kepada lisannya lalu berkata:

اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Bertakwalah engkau kepada Allah terkait dengan kami. Karena sesungguhnya kami tergantung padamu. Jika engkau lurus, kami pun menjadi lurus. Jika engkau bengkok, kami pun ikut bengkok.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, siapa yang bisa menjaga lisannya, maka sangat mungkin ia bisa menjaga anggota tubuh lainnya.

Kalau demikian, menjaga salat dan lisan merupakan kewajiban. Sebab, dengan menjaga salat dan lisan, akan terjaga pula ibadah dan anggota tubuh lainnya. Sebaliknya, dengan menelantarkan salat dan lisan, akan ditelantarkan pula ibadah dan anggota tubuh lainnya.

 

Siberut, 14 Jumada Ats-Tsaniyah 1446
Abu Yahya Adiya