Antara Takdir dan Kezaliman
Ibnu Dailami berkata: أَتَيْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، فَقُلْتُ لَهُ “Aku datang kepada Ubay bin Ka’b, kemudian kukatakan kepadanya: وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنَ الْقَدَرِ، فَحَدِّثْنِي
Ibnu Dailami berkata: أَتَيْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، فَقُلْتُ لَهُ “Aku datang kepada Ubay bin Ka’b, kemudian kukatakan kepadanya: وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنَ الْقَدَرِ، فَحَدِّثْنِي
Suatu hari ‘Ubadah bin Ash-Shamit mengalami sakit parah. Saking parahnya sakit yang ia derita sampai-sampai putranya menganggap bahwa dirinya akan meninggal dunia. Putranya berkata: يا
Ibnu ‘Umar terkejut. Yahya bin Ma’mar mengabarkan kepadanya bahwa ada orang-orang di Bashrah yang mengingkari takdir. Mereka tidak meyakini takdir Allah. Mereka tidak yakin bahwa
Merugikan dan merendahkan. Itulah anggapan sebagian orang terhadap Perjanjian Hudaibiyah. Sebab, di antara nota perjanjian yang disepakati Rasulullah ﷺ dan musyrikin Quraisy itu adalah siapa