Ayat Penyembuh Orang yang Bermalas-malasan

Ayat Penyembuh Orang yang Bermalas-malasan

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kalian!” (QS. An-Nisa: 71)

Apa maksud ayat ini?

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

يَأْمُرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِأَخْذِ الْحَذَرِ مِنْ عَدُوِّهِمْ، وَهَذَا يَسْتَلْزِمُ التَّأَهُّبَ لَهُمْ بِإِعْدَادِ الْأَسْلِحَةِ وَالْعُدَدِ وَتَكْثِيرِ الْعَدَدِ بِالنَّفِيرِ فِي سَبِيلِهِ

“Allah menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bersiap siaga menghadapi musuh mereka. Dan itu berkonsekuensi mempersiapkan diri menghadapi mereka dengan menyiapkan senjata, perlengkapan, dan memperbanyak jumlah yang berangkat di jalan-Nya.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

Berjihad adalah perkara yang penting. Siapa yang hendak berjihad, maka ia mesti melakukan persiapan. Mesti menyiapkan bekal dan perlengkapan.

Itu kalau seseorang hendak berjihad. Maka begitu pula kalau ia ingin melakukan kegiatan penting lainnya.

Syekh Mushthofa Al-‘Adawi berkata:

وهذه الآية ترد على فرق تواكلت، فرق من الصوفية، وتبعهم على ذلك كثير من الجماعات المحدثة، الذين يخرجون ويتركون أهاليهم وأموالهم، ويهملون تربية أسرهم وتربية أبنائهم بزعم التوكل على الله!

“Ayat ini membantah berbagai kelompok yang bermalas-malasan yatu kelompok-kelompok Sufi. Dan mereka diikuti oleh banyak jamaah baru yang keluar dari rumah mereka dan meninggalkan keluarga dan harta mereka serta melalaikan pendidikan keluarga dan anak-anak mereka dengan alasan tawakal kepada Allah!” (Silsilah At-Tafsiir)

Ya, dengan alasan tawakal kepada Allah, padahal….

Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ dengan menunggang unta lalu bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟

“Wahai Rasulullah, apakah kuikat dulu unta ini dan bertawakal kepada Allah? Atau kubiarkan tidak terikat dan bertawakal kepada Allah?”

Rasulullah ﷺ bersabda:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikat dulu unta itu dan bertawakallah kepada Allah!” (HR. Tirmidzi)

Artinya, berusaha dulu supaya untamu tidak lepas, yaitu dengan diikat. Kalau sudah diikat, barulah serahkan urusan untamu kepada Allah. Bertawakallah kepada-Nya.

Itu menunjukkan bahwa tawakal yang benar harus didahului dengan usaha dan ikhtiar!

Karena itu, siapa yang menganggap bahwa tawakal kepada Allah adalah dengan bergantung kepada-Nya tanpa usaha dan ikhtiar, maka ia telah terjatuh dalam kesesatan dan kebodohan.

Imam Ibnul Jauzi berkata:

لو قَالَ رجل للصوفية من أين أطعم عيالي لقالوا قد أشركت ولو سئلوا عمن يخرج إِلَى التجارة لقالوا ليس بمتوكل ولا موقن وكل هَذَا لجهلهم بمعنى التوكل واليقين

“Kalau seseorang bertanya kepada kaum Sufi, ‘Dari mana aku memberi makan keluargaku?’, niscaya mereka menjawab, ‘Engkau telah berbuat syirik!’. Dan kalau mereka ditanya tentang orang yang keluar untuk berdagang, niscaya mereka menjawab, ‘Ia bukan orang yang bertawakal dan yakin kepada Allah.’ Semua itu karena kebodohan mereka akan makna tawakal dan yakin.” (Talbis Iblis)

 

Siberut, 13  Shafar 1445

Abu Yahya Adiya