Apakah puasa bisa mengurangi kebodohan?
Imam Ibnu Hibban berkata:
وإن من أعظم أمارات الحمق في الأحمق لسانه فإنه يكون قلبه في طرف لسانه مَا خطر على قلبه نطق به لسانه
“Sesungguhnya termasuk tanda kebodohan yang sangat jelas pada orang bodoh yaitu lisannya. Karena sesungguhnya hatinya ada di ujung lisannya. Apa pun yang terlintas di hatinya, ia ucapkan dengan lisannya.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Menurut beliau, otak orang bodoh itu ada di mulutnya. Karena itu, tidaklah salah jika amarah, cacian, dan ejekan sangat cepat keluar dari lisannya, tanpa sedikit pun ia mengontrolnya.
Nah, dengan puasa, kita bisa terhindar dari perilaku negatif tersebut.
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum. Namun, puasa itu menahan diri dari perkara sia-sia dan tercela. Kalau seseorang mencelamu atau membodohkanmu, maka katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Lihatlah, puasa itu menahan diri dari perkara sia-sia dan tercela!
Puasa itu membimbing seseorang untuk mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Selain itu, kalau seseorang mencelamu atau membodohkanmu, maka katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa!
Puasa juga membimbing seseorang untuk bisa mengontrol emosi dan nafsunya.
Dan kalau seseorang sudah bisa mengontrol nafsu, emosi, dan perkataannya, maka ia sudah selamat dari salah satu sifat kebodohan. Makin banyak sifat kebodohan hilang darinya, maka makin cerdaslah dirinya.
Siberut, 12 Ramadhan 1444
Abu Yahya Adiya






